Rabu, 14 Maret 2018

Self Healing dengan Self Hipnosis

Sabtu, 24 Februari 2018 lalu saya mendapat kesempatan untuk mengikuti seminar parenting dan workshop berjudul : "Emotional Healing with Hypnotherapy, Mendidik Anak tanpa Marah" dengan pembicara Bapak Dharmawan Wicaksana, M.Psi. Psikolog. CHT. CH, dari Matahati Edu. 

Acara yang digelar selama 3 jam ini diselenggarakan oleh Play Group & Kindergarten Ananda Mentari yang beralamat di Jl. Bumijo Lor 11A Yogyakarta, sebagai salah satu fasilitas yang diberikan oleh pihak sekolah untuk memberikan tambahan pengetahuan kepada orang tua bagaimana mendidik dan mendampingi anak di rumah secara benar.

Tim dari Ananda Mentari (doc Ananda Mentari)

Peserta yang hadir dalam seminar ini sebagian besar adalah orang tua murid Play Group Ananda Mentari, meskipun ada juga beberapa tamu undangan yang berasal dari luar termasuk saya. 

Tema yang dibahas dalam seminar kali ini cukup menarik, mendidik anak tanpa marah melalui hypnotherapy. Saya pun jadi penasaran seperti apa.

Acara diawali dengan registrasi dan pembagian name tag. Masing-masing peserta wajib memakai name tag yang sudah disediakan panitia.  Sekitar pukul 09.00 acara dimulai, diawali dengan penjelasan singkat mengenai sekolah Ananda Mentari dan ice breaking.
Daftar ulang para peserta (doc pri)

Menurut penjelasan dari Ms. Detty selaku Direktur Program, Ananda Mentari hadir untuk menjawab tantangan banyaknya ibu bekerja yang membutuhkan sekolah yang mampu memberikan pendidikan dan membangun karakter anak dengan optimal. Sehingga Ananda Mentari ini sistemnya adalah fullday school.

Pembukaan acara seminar (doc pri)

Berdiri sejak tahun 2012, Ananda Mentari memiliki kantor pusat di Jl Wirajaya no 313 Condong Catur Sleman Yogyakarta. Pengajaran yang ditekankan di Ananda Mentari adalah pembentukan karakter dan kemandirian anak sesuai tahap usia. Demikian penjelasan singkat dari Ms. Detty.

Selanjutnya, untuk materi seminar, dibagi dalam 2 sessi, yakni penjelasan tentang apa itu hypnoterapy, dan bagaimana hypnoterapy dapat menyembuhkan / meredakan emosi kita dan efeknya terhadap cara pandang kita melihat tingkah atau polah anak yang tidak sesuai dalam pandangan kita ( baca : nakal) untuk sessi pertama.

Sedangkan sessi kedua adalah praktik bagaimana hypnotherapi mampu meredakan emosi kita.

Nara sumber menyampaikan materinya (doc pri)

Target dari seminar ini adalah kemampuan kita mengendalikan dan mengontrol berbagai hal yang dapat memacu emosi atau kemarahan kita kepada anak sehingga kita bisa lebih sabar dan enjoy dalam mendidik anak tanpa ada luapan marah. Sekaligus juga menyembuhkan segala bentuk emosi, amarah, maupun dendam yang mungkin terendap dalam pikiran alam bawah sadar akibat pola asuh atau didikan yang kurang pas dari orang tua kita dahulu sehingga membuat respon kita menjadi negatif terhadap sesuatu hal, melalui self hypnosis. 

Para peserta serius menyimak materi (doc pri)

Melalui self hypnosis ini, diharapkan kita dapat :
1. Melepaskan diri dari jeratan emosi.

2. Mengubah limiting belief, yakni suatu keyakinan mengenai diri kita sendiri atau hal-hal di luar kita yang menghalangi kita merespon secara luas. Misalnya : anggapan kalau kita pemarah, pasangan yang tidak mau mendengarkan, dll. Limiting belief membuat kita terjebak untuk bereaksi yang sama terhadap suatu persoalan sehingga seolah masalah tidak berujung dan akhirnya kita menyalahkan keadaan. 

3. Melakukan reframming terhadap suatu keadaan. 
Setiap peristiwa pada dasarnya adalah netral, tidak ada makna kecuali kita telah melekatkan makna kepadanya. Konflik terjadi bila seseorang terpaku pada makna yang telah dia yakini, tanpa dia mau memperluas persepsinya. Framming adalah makna pertama yang kita pilih terhadap suatu peristiwa yang menentukan respon atau tindakan kita. Contoh : 
* Kita menyuruh anak mengerjakan PR.
* Anak menolak dengan alasan sedang asik bermain.

Ketika kita melihat penolakan anak sebagai sebuah pembangkangan, kita pasti bisa membayangkan bagaimana respon kita. Tetapi jika kita mampu me-reframming hal tersebut, dan melihat penolakan anak sebagai kemampuan anak untuk mengungkapkan pendapat hanya mungkin caranya yang kurang pas, respon kita pasti akan berbeda. 

Nah, seperti itulah reframming, melihat sesuatu dari sudut yang berbeda dan selalu diambil sisi positifnya sehingga tidak membuat emosi negatif terpancing keluar.

4. Melatih diri penuh sumber daya dengan menciptakan anchor atau tombol imajinatif. Yakni dengan melatih diri untuk mencapai kondisi emosi yang kita inginkan dengan suatu tanda atau gerakan tertentu. Misalnya ketika kita emosi, jentikan jari tangan sebanyak 3 kali akan membuat kita berada dalam kondisi sabar, dan lain-lain. 

5. Memaafkan berbagai dendam dan luka masa lalu yang timbul sebagai akibat pola asuh yang keliru dari orang tua kita dahulu. Sehingga bisa memotong rantai kesalahan yang sama yang mungkin saja kita tiru dalam mengasuh anak-anak kita.

Tentang Hipnosis dan Self  Hipnosis
Secara ilmu, hypnosis adalah ilmu yang mempelajari pengaruh sugesti dan imajinasi terhadap pikiran manusia. Sedangkan secara fenomena hypnosis adalah diterimanya ide atau perintah tanpa disaring terlebih dahulu, karena filter mental tidak aktif.

Filter mental adalah bagian dari pikiran kita yang berfungsi menganalisa dan merasionalisasi informasi yang masuk ke pikiran kita. Sehingga, untuk mencapai kondisi hipnosis, ada beberapa kriteria yang harus kita penuhi diantaranya kita harus bersedia dihipnotis, melakukan perintah dari penghipnotis, mengikuti sugestinya, pasrah/terbuka, dan tidak terlalu memaksakan diri (mengalir). Jujur ketika mendengar penjelasan itu, saya berada pada sikap antara percaya dan tidak. Tetapi ingin mencoba juga bagaimana rasanya dihipnotis. 

Menurut penjelasan nara sumber, bisa tidaknya kita dihipnotis tergantung kepada kondisi kita, mau atau tidak dihipnotis. Dan untuk orang yang tingkat kepercayaan terhadap hipnotis masih rendah sehingga sulit dihipnotis harus melalui tahap relaksasi terlebih dahulu.

Pengalaman Saya Dihipnotis
Salah satu yang beda dari seminar perenting kali ini adalah para pesertanya akan mengalami pengalaman dihipnotis. Dari pengalaman itu nanti diharapkan para peserta mampu melakukan self hipnosis, yakni mampu nenghipnosis diri sendiri tanpa bantuan orang lain. 

Dengan self hipnosis kita akan bisa secara mandiri memberikan sugesti positif terhadap alam bawah sadar kita, menambah atau mengurangi hal-hal yang perlu dan tidak perlu kepada diri kita. 

Sehingga dengan self hipnosis kita dapat memegang kendali penuh atas diri kita untuk memprogram ulang pikiran bawah sadar kita, menjadi pribadi baru yang lebih positif. Dan itu bisa kita lakukan kalau kita sudah pernah mengalami bagaimana berada dalam kondisi hipnosis. 

Sebelum kami dihipnotis terlebih dahulu kami diminta duduk santai menghadap dinding. Kemudian kami diberi penjelasan untuk mengabaikan hal lain yang terjadi di sekitar, dan fokus terhadap suara dari pemandu dan alunan musik yang diperdengarkan. 

Kami juga ditanya kesediaannya untuk dihipnotis. Selanjutnya masing-masing kami diminta memejamkan mata, dan menarik nafas dan mengeluarkannya lewat mulut secara teratur. Sesekali pemandu memberikan sugestinya. Saya mencoba mengikuti dengan seksama. 

Tadinya saya masih yakin kalau saya tidak akan bisa dihipnotis. Sampai kemudian, pemandu mengatakan bahwa suasana saat kami duduk santai sangat nyaman, dengan terpaan angin yang lembut menyapa, hingga membuat rasa kantuk yang tidak tertahankan, dan membuat tubuh terasa berat dan semakin berat. Hingga akhirnya saya tidak mampu menahan posisi duduk saya, dan rebah di lantai. Saat itu saya sadar saya tengah nengalami proses hipnosis. 

Saya seperti tertidur tetapi sesungguhnya sadar dengan suasana sekitar. Sadar ketika diminta membayangkan wajah kedua orang tua yang meminta maaf atas kesalahan-kesalahan mereka terhadap kita yang membuat tangis pecah tidak terbendung. Sadar ketika diminta membayangkan aneka kemarahan yang pernah kita lontarkan ke anak, dan mendapat kenyataan bahwa pribadi-pribadi polos tersebut tetap menyayangi kita. Sadar bahwa sesungguhnya kemarahan-kemarahan kita kepada mereka bukan solusi yang membuat mereka paham dengan maksud kita namun justru semakin menambah luka. Sadar ketika sugesti positif dibisikkan ke alam bawah sadar kita, bahwa kita akan menjadi pribadi lebih sabar dan lebih bisa mengendalikan amarah. Sadar ketika kemudian kita diminta untuk membuka mata dan kembali ke alam nyata.

Jadi ternyata orang dihipnotis itu sadar, hanya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti apa yang diinginkan penghipnotis. Sungguh pengalaman pertama yang cukup mengesankan dan menegangkan..

Para peserta seminar (doc. Ananda Mentari)

Self Hipnosis
Setelah kami mengalami bagaimana rasanya berada dalam tahap hipnosis, kami kemudian diberi bekal pengetahuan untuk mampu melakukan self hipnosis. Agar sugesti-sugesti yang tadi ditanamkan bisa melekat kuat dalam pikiran kita. 

Langkah-langkah untuk melakukan self hipnosis diantaranya :
  1. Mencari posisi rileks (bisa duduk atau berbaring)
  2. Mulai memusatkan perhatian dan mengatur nafas (masuk lewat hidung keluar lewat mulut) bisa pula dengan cara melakukan hitung mundur dari angka 300 sampai kita melupakan hitungan, dan nafas kita semakin teratur dan tubuh terasa rileks.
  3. Mulai memberi sugesti-sugesti positif ke dalam pikiran alam bawah sadar kita.
  4. Mengakhiri self hipnosis yang kita lakukan.

Proses self hipnosis ini harus kita lakukan secara terus menerus dan berulang hingga hasilnya kelihatan. Sugesti yang diberikan harus pendek dan positif.
Contoh :
  • Semakin hari saya semakin sabar
  • Semakin hari pikiran saya semakin tenang.
  • Mulai hari ini dan seterusnya saya menjadi pribadi yang lebih berani
  • dll

Bagaimana, menarik bukan? Tertarik juga untuk mencobanya? Semoga berhasil ya...ingat ini bukan sesuatu yang instan, perlu ketelatenan dan kesungguhan untuk konsisten mengulangi prosesnya. 


Salam..

6 komentar:

  1. tulisan yang sangat inspiratif mba, makasih sudah mau berbagi ilmunya. apalagi poin yang mengubah limiting belief. Saya sering bilang ke suami kalau saya ini emang moody-an dia harus terima, padahal ternyata bisa dirubah ya asal kita mau reframing sikap kita dan mengubah reaksi atas sesuatu. Saya juga lagi down sebelumnya baca ini semangat lagi. Makasih sharingnya mba ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mbak kalau bermanfaat...isinya juga menyentil saya ini mbak..yang suka ga sabar ngadepi kelakuan bocah..he3..makasih mbak..sudah mampir...

      Hapus
  2. wah ilmunya bermanfaat nich, apalagi seorang blogger butuh banget ulasan seperti ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. He3,agar sabar menghadapi klien dan terus semangat menulis ya..wkwkwk..
      Terima kasih sudah mampir...

      Hapus
    2. okeh dech, semoga sukses selalu berkaryanya

      Hapus
    3. Aamiin..doa yang sama buat njenengan ya...mtrnuwun..

      Hapus