Rabu, 28 Maret 2018

Menyiapkan Menu Piring Gizi Seimbang : Nasi Liwet So Good yang Very Good


Nasi liwet So Good dalam piring gizi seimbang (doc : pri)
Memasak itu ibarat seni, untuk mendapatkan hasil yang baik dari sisi rasa dan penampilan, harus dikerjakan dengan hati. Selain itu pengetahuan tentang pemenuhan gizi yang harus dicukupi juga harus dipahami. Agar kebutuhan tubuh akan nutrisi dapat terpenuhi, dan mendukung produktifitas dan aktivitas sehari-hari.
***
Sore itu saya tengah duduk santai dengan anak dan suami, membahas tentang rencana home visit yang bulan ini menjadi giliran kami untuk menyelenggarakannya. Home visit adalah program di sekolah anak saya yang diadakan sebulan sekali. Berupa kegiatan belajar bersama yang berlangsung di rumah salah seorang siswa, dengan pengampu atau fasilitator orang tua dari siswa yang rumahnya dikunjungi. 

Selain untuk lebih mendekatkan hubungan antara siswa, sekolah, dan orang tua, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan baru dari para siswa tentang hal-hal yang mungkin tidak mereka peroleh di sekolah. Materi yang diterima oleh siswa di acara home visit biasanya berupa keterampilan, seperti membatik, membuat keramik dari tanah liat, bertanam, belajar membuat kopi dengan manual brewing, dan sebagainya.
Salah satu materi home visit, membuat batik jumputan (doc : akar rumput)

Sebagai ibu yang miskin keterampilan seperti saya, kegiatan ini jelas membuat saya bingung untuk menentukan materi apa yang akan dibagi ke anak-anak.  Untungnya saya ingat hobi saya, yakni makan. Kenapa tidak saya berikan materi yang berkaitan dengan makan saja pikir saya waktu itu. Oke, jadilah saya memutuskan untuk memberikan mereka materi memasak pizza diacara home visit nanti. Selain mudah, pizza juga banyak disukai anak-anak, semoga saja mereka antusias membuatnya.
Salah satu hobi saya, makan (doc : vika)

Masalah materi home visit selesai. Sekarang ke persiapan yang lainnya yang tidak kalah rempongnya. Yakni menentukan menu masakan untuk makan bersama bagi anak-anak selepas mereka berkegiatan nanti. 

Saya ingin menyiapkan sesuatu yang simpel, praktis, enak, namun tetap memenuhi unsur gizi yang diperlukan anak-anak. Dengan berpegang kepada Pedoman Gizi Seimbang yang sehat dan tidak mengandung zat-zat tambahan yang berbahaya seperti pengawet, pemanis maupun pewarna buatan. 

Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya memperoleh ilmu baru. Bahwa penyusunan menu sehari-hari ada aturannya. Tidak lagi berdasar pada pola makan empat sehat lima sempurna, namun sudah disempurnakan menjadi Pedoman Gizi Seimbang (PGS). Lantas apa perberdaan dari keduanya? Berikut penjelasannya.

Perbedaan Menu 4 Sehat 5 Sempurna dengan Pedoman Gizi Seimbang (PGS)
Dalam laman yang dilansir oleh Departemen Kesehatan RI yang termuat dalam www.depkes.go.id dijelaskan bahwa ada 4 perbedaan dalam konsep menu Empat Sehat Lima Sempurna dengan konsep Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang saat ini dijadikan acuan, yakni :

1. Penekanan pesan. 
Dalam konsep menu empat sehat lima sempurna, ditekankan pada konsumsi nasi, lauk-pauk, sayur, buah, dan memandang susu sebagai bahan pangan yang menyempurnakan. 

Sedangkan dalam konsep Pedoman Gizi Seimbang dimaknai sebagai susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Selain itu, PGS memperhatikan 4 prinsip, yaitu: membiasakan makan makanan yang beraneka ragam, menjaga pola hidup bersih dengan mencuci tangan sebelum makan, pentingnya pola hidup aktif dan olah raga minimal 30 menit sehari, dan memantau berat badan.

2. Susu Bukan Penyempurna
Di dalam konsep Empat Sehat Lima Sempurna, susu menjadi makanan / minuman yang dikelompokkan tersendiri dan dianggap sebagai penyempurna. 

Sedangkan di dalam konsep PGS, susu termasuk kedalam kelompok lauk-pauk dan bukan makanan penyempurna. Sehingga keberadaannya dapat digantikan dengan jenis makanan lain yang sama nilai gizinya.

Kandungan gizi dalam susu adalah protein dan beragam mineral (kalsium, fosfor, zat besi). Sementara dalam PGS, jika sudah cukup dan beragam mengkonsumsi sumber protein seperti telur dan daging, atau daging dan ikan, maka tidak apa-apa tidak mengonsumsi susu.

3. Penjelasan Mengenai Porsi
Dalam konsep Empat Sehat Lima Sempurna tidak menyertakan informasi jumlah yang harus dikonsumsi dalam sehari. Sehingga terdapat resiko obesitas atau kelebihan berat badan. 

Sedangkan dalam konsep PGS tidak hanya melihat ada atau tidaknya sumber nutrisi dalam suatu menu, tetapi juga memasukkan penjelasan tentang kuantitas atau jumlah (porsi) yang harus dimakan setiap hari untuk setiap kelompok makanan. Dimana setiap hari tubuh membutuhkan asupan protein nabati 2-3 porsi, protein hewani 2-3 porsi,  makanan pokok 3-8 porsi, sayuran 3-5 porsi, buah 3-5 porsi dan minum air mineral minimal 8 gelas.

Dalam PGS jika pola makan kita tinggi karbohidrat, tinggi lemak, sedikit protein, sedikit sayur dan buah, maka pola  tersebut tidak bisa dikatakan sehat. Berbeda pada 4 sehat 5 sempurna, pola makan tersebut dihitung sehat meskipun jumlah protein, sayur dan buah porsinya sedikit.

4. Pentingnya Minum Air Mineral
Konsep Empat Sehat Lima Sempurna tidak menggambarkan bahwa tubuh perlu minum air mineral secara cukup, aman, dan bersih. 

Sementara konsep PGS sudah menjelaskan pentingnya mencukupi kebutuhan minum air mineral minimal 2 liter, atau lebih kurang 8 gelas per hari.

Sehingga sesuai Pedoman Gizi Seimbang (PGS), maka menu dalam porsi sekali makan harus memenuhi kaidah tercukupinya kebutuhan gizi, sehingga dikenal dengan istilah menu piring gizi seimbang. 

Menu piring gizi seimbang adalah panduan menu porsi sekali makan yang memudahkan kita dalam menakar porsi dari setiap makanan yang kita konsumsi yang mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh.
Panduan menu gizi seimbang (sumber : depkes.go.id)

Panduannya adalah dalam satu kali makan, kita membagi piring makan ke dalam 4 bagian, yang masing-masing berisi 35% karbohidrat, 15% protein, 35% sayur, dan 15% buah.

Sumber : sogood.id
Nah..di acara home visit nanti, sekalian saya mau mengenalkan menu piring gizi seimbang kepada anak-anak. Agar mereka kalau makan tidak hanya mengambil lauk yang mereka suka, tetapi proporsional antara sumber karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral, disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.

Nasi Liwet So Good dalam Piring Gizi Seimbang
Menu yang saya pilih untuk dihidangkan dalam kegiatan home visit nanti adalah nasi liwet. Nasi liwet saya pilih karena proses pembuatannya mudah, seperti menanak nasi biasa cuma ditambah bumbu berupa bawang merah dan bawang putih yang diiris tipis, ditambah daun salam, daun serai, daun jeruk yang ditumis ditambah teri yang sudah digoreng dan cabai utuh ke dalam air penanaknya. Sebagai penambah rasa bisa ditambah garam secukupnya serta kaldu bubuk bila suka. Setelah semua siap, tinggal serahkan kepada magic com untuk memprosesnya...simpel dan mudah bukan ?

Untuk sayurnya saya pilih yang mudah juga, tumis kangkung. Selain gampang memasaknya, kangkung juga kaya nutrisi. Diantaranya memiliki kandungan vitamin A yang sangat tinggi, (mencapai 6.300 IU), bersifat antioksidan sehingga dapat menangkal radikal bebas penyebab kanker dan penuaan dini.

Selain itu, kangkung juga tinggi kadar seratnya serta mengandung fosfor, zat besi, hentriakontan, dan sitosterol. Karena kandungan yang dimiliki, kangkung berpotensi juga sebagai antiracun, antiradang, penenang (sedatif) dan diuretik.  

Sementara untuk lauknya, saya memilih daging ayam yang rata-rata anak suka. Dan saya memilih So Good chicken stick yang praktis karena tinggal goreng, dengan rasa yang enak, mudah disantap, dan disukai anak-anak. 

So Good Chicken stick diolah dari daging ayam pilihan, dan dibalut dengan tepung roti yang renyah. Tersedia dalam 4 pilihan yang bervariasi, yakni : Original, Hot & Spicy, Spicy Garlic, dan Spicy Cheese. Kali ini saya memilih yang varian original saja.
Sumber : sogood.id

Selain itu produk-produk So Good memenuhi semua aspek manfaat tentang makanan, yaitu mutu yang tinggi, kaya akan kandungan gizi, rasa yang terpercaya, bersih, praktis, dan harga yang terjangkau. 

Mengapa bisa demikian, karena So Good diolah dari bahan-bahan berkualitas terbaik dan diproses dengan teknologi tinggi untuk memastikan rasa yang enak dan kualitas gizi protein yang terjaga utuh saat dihidangkan.

Selain praktis, seluruh produk So Good diolah dan dikemas dengan teknologi tinggi untuk meminimalisir kontaminasi, sehingga kehigienisan terjaga.

So Good juga memiliki banyak varian produk yang bisa dipilih sesuai kebutuhan dan selera kita. Karena So Good berkomitmen untuk selalu berinovasi dalam menghasilkan produk-produk daging olahan dengan rasa yang enak serta mengandung gizi protein yang baik untuk mencukupi kebutuhan gizi seimbang keluarga Indonesia.

Di samping itu produk So Good juga melewati proses pemasakan hingga suhu 170° C selama tidak kurang dari 3 menit, dan langsung dibekukan cepat menggunakan teknologi IQF untuk menjamin kesegaran, kelezatan, dan nutrisi kandungan produknya. Nah..sekarang jelas kan, kenapa saya pilih So Good, karena So Good is Very Good eh, sekarang slogannya sudah diganti menjadi Lebih Baik So Good.
Selain So Good Chicken Stick, saya juga menghidangkan balado tempe yang kandungan kalsiumnya tidak kalah dengan susu.

Agar sesuai dengan Pedoman Gizi Seimbang, maka saya harus melengkapinya dengan buah. Biar nanti saat dihidangkan penampilannya menarik, saya memilih buah pepaya. Warnanya yang jingga tampak menggoda. Menambah penampilan nasi liwet kelihatan cantik berwarna. 

Berbeda dengan penyajian nasi liwet pada umumnya yang ditata dalam lembaran daun pisang untuk kemudian dimakan bersama, kali ini nasi liwet akan saya hidangkan dalam piring, mengikuti panduan menu piring gizi seimbang. Agar anak-anak mempunyai tambahan pengetahuan untuk mengambil menu sesuai dengan takarannya. 

Pelaksanaan Home Visit
Rabu pagi, tanggal 28 Maret 2018. Tidak seperti biasanya, rumah kami kelihatan lebih semarak dan lebih ramai dari biasanya. Kehadiran teman-teman anak saya dan beberapa orang tua pendamping serta guru (kami menyebutnya fasilitator) adalah penyebabnya. 

Ya, hari ini adalah hari pelaksanaan home visit. Segala hal sudah saya persiapkan. Bahan-bahan untuk membuat pizza dan juga hidangan makan siang yang nanti akan dinikmati bersama. Semua sudah tertata di meja. Tinggal menunggu eksekusi saja. Untuk pizza saya sudah menyiapkan adonan dough-nya. Dan sudah saya bagi per kelompok masing-masing 3 anak. 

Setelah diawali dengan doa bersama, maka dimulailah kegiatan kami. Membuat pizza. Mereka antusias sekali mendengar pemaparan saya. Memperkenalkan kepada mereka apa saja bahan yang diperlukan. Mulai dari tepung terigu, telur, mentega, ragi/yeast sebagai pengembang, maupun gula pasir dan telur. Untuk topping saya menyiapkan bawang bombay, sosis, paprika, jamur kancing, keju mozzarella, saus tomat, dan oregano.

Penjelasan cara membuat pizza (doc : akar rumput)  

Sejurus kemudian anak-anak terlihat sibuk. Ada yang memotong-motong bawang bombay, jamur, paprika dan sosis. Ada juga yang mulai mencetak dough-nya. Mengolesi saos tomat dan menata topping di atasnya. Kemudian di taruh ke dalam loyang, dan mulai mengovennya.

Memotong-motong bahan untuk topping (doc : akar rumput)

Mulai memberi topping (doc : akar rumput)

Selesai ditopping siap masuk oven (doc : akar rumput) 

Pizza buatan kami (doc : akar rumput)

Hampir 3 jam kami beraktifitas bersama. Hingga akhirnya perut pun mulai memberi kode untuk diisi. Dan waktunya nasi liwet untuk beraksi. Saya memandu mereka untuk mengisi piring makan sesuai porsi, sekaligus menjelaskan pentingnya masing-masing makanan untuk tubuh.

Selanjutnya kami makan bersama. Masing-masing kami telah membawa menu piring gizi seimbang berisi nasi liwet dan teman-temannya. Alhamdulillah semua terlihat lahap menikmati menunya.  Pukul 13.00 acara home visit berakhir. Lega sekali rasanya acara berakhir dengan gembira.

10 komentar:

  1. Aku juga hobby makan. Makasih loh mbk sharingnya. Sangat bermanfaat. Aku jujur baru tau terkait PGS itu. Izin note ya mbk. Disekolahku ga ada agenda home visit gni hehe. Salam, muthihauradotcom

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak..sama2, saya juga belum lama tahu soal PGS ini, tadinya masih ngira pakai pedoman 4 sehat 5 sempurna..hihi..makasih mbak, sudah berkunjung...:)

      Hapus
  2. Wah seru juga ih Home Visit sekolah. Bisa membuat anak-anak lebih dekat. Btw makasi ya inspirasinya mba. Kalau kalau di masa depan aku kedatangaan atau dapat giliran Home Visit, jadi gak begitu bingung lagi mau apa. Masak-masak merupakan kegiatan seru dan menyenangkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak..memang seru..membuat orang tua jadi upgrade ilmu, kira-kira materi apa yang akan dibagi di acara home visit nanti. Terima kasih mbak, untuk kunjungannya...:)

      Hapus
  3. Nasi liwet salah satu kesukaanku, pasti enak banget ya ditambah lauk chicken stick so good

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak..yang jelas disamping lezat, mengolahnya praktis, cepat, dan mudah..

      Hapus
  4. Wah kreatif mba.. bikin nasi liwet sendiri. Boleh juga ya buat ide masak dirumah.. jadi tambah enak dinikmati sama chicken stick

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi..iya mbak, kreatif karena terpaksa ini..dipaksa harus memasak padahal tidak terlalu bisa memasak..jd akhirnya memasak yang mudah dan praktis saja..

      Hapus
  5. Wahhh jadi pengen coba bikin Nasi Liwet campur SO GOOD , pasti anak-anak pada suka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi..yuk mbak..buat, mudah kok.. tapi makannya pakai pedoman menu piring gizi seimbang ya..biar ga kebanyakan konsumsi karbo..:)

      Hapus