Senin, 29 Januari 2018

#MySweet2018 : Mewujudkan Satu Persatu Mimpi Bersama OBIDA

Saya baru saja pulang dari menghadiri acara sharing dan couching penulisan yang diselenggarakan sebuah situs berita online di sebuah cafe dan resto yang ada di Jogja, ketika gawai saya berbunyi. Sebuah pesan yang mengingatkan bahwa deadline penulisan artikel untuk sebuah acara yang seminggu yang lalu saya ikuti, tinggal 2 hari.

Bersama peserta sharing dan couching penulisan (doc : swarakampus.com)
Untungnya beberapa hari kemarin saya sudah membuat kerangka tulisannya. Sehingga nanti malam saya tinggal melengkapi dan mengedit ulang lagi.

Sebagai seorang blogger, menulis sudah menjadi keseharian saya. Bahkan menulis menjadi semacam kebutuhan untuk menyalurkan segala ide, gagasan, dan juga emosi. Meskipun demikian, ada saja momen yang kadang membuat otak jadi buntu. Sehingga jangankan menyesaikan tulisan, ide apa yang ingin ditulis saja menjadi buyar. 

Oleh karena itu untuk menghindarinya, saya berusaha mengidentifikasi hal-hal yang membuat saya jadi macet dalam menuangkan pikiran. Apalagi di tahun 2018 ini, saya memiliki resolusi ingin menjadi blogger yang lebih produktif dalam menghasilkan karya-karya kreatif. Dan untuk mewujudkannya tentu saja tidak mudah, perlu konsistensi, kedisiplinan, dan semangat yang harus terus dipelihara. 

Sehingga analisis mengenai hal-hal yang dapat menghambat proses saya dalam menulis perlu saya lakukan. Agar saya bisa menghindari dan mengantisipasi bila hal tersebut terjadi, sehingga efeknyapun bisa diminimalisasi.

Hal-Hal yang Menghambat Kegiatan Menulis
Berdasarkan perenungan yang saya lakukan, hal-hal yang biasanya menjadi kendala bagi  saya dalam menulis adalah :

1. Kondisi tubuh yang kelelahan
Terlalu banyak berkegiatan ternyata berpengaruh ke semangat menulis. Saya biasanya menulis di malam hari, setelah semua anggota keluarga tertidur pulas. Suasana hening membuat ide saya bermunculan, sehingga mudah untuk memilih dan merangkai kata. Namun ini tidak berlaku kalau siangnya saya telalu banyak beraktifitas di luar rumah. Sehingga saya harus sadar diri dengan keterbatasan ini.

Ilustrasi : koleksi pribadi
Meskipun kebiasaan hidup sehat seperti rajin olah raga, menjaga asupan gizi, dan minum suplemen sudah saya jalani, namun peran saya sebagai ibu rumah tangga juga membutuhkan energi. Sehingga agar dapat berjalan semuanya, saya harus dapat membagi waktu antara tugas sebagai ibu dan aktivitas sebagai blogger.

Terkadang saya memperoleh undangan untuk menghadiri acara blogger di waktu sore atau malam hari. Kalau ada event semacam ini sudah pasti malam harinya saya tidak akan bisa membuat tulisan lagi, karena biasanya saya langsung bobok manis mengumpulkan energi untuk esok hari. 

Oleh karena sudah hafal dengan kondisi badan, biasanya saya membatasi diri dalam beraktifitas di luar rumah. Hanya 2-3 event blogger saja yang sanggup saya hadiri dalam seminggu, itu saja sedapat mungkin tidak berturutan harinya. Dengan cara ini, kelelahan bisa saya hindari, sehingga jadwal menulis bisa tetap saya penuhi.

2. Hilang mood untuk menulis 
Hal ini biasanya terjadi karena pengaruh faktor dari luar, seperti anak yang tiba-tiba rewel, komputer yang bermasalah, listrik yang tiba-tiba padam padahal file belum tersimpan, atau perut yang tiba-tiba lapar.

Ilustrasi : koleksi pribadi

Jika hal ini terjadi, biasanya yang saya lakukan adalah berhenti sejenak, dan berusaha mengendalikan hal-hal yang membuat mood menjadi hilang. Seperti mengajak anak bercerita, membuat minuman atau camilan ringan yang membangkitkan selera, atau melakukan senam pernafasan agar pikiran menjadi tenang, dan emosi terkendali. 

Berdasar pengalaman, biasanya dengan melakukan hal-hal tersebut, 1-2 jam kemudian mood saya membaik lagi, dan siap untuk menyusun kata kembali.

3. Kondisi sakit
Nah, kalau ini terjadi, yang harus saya lakukan adalah istirahat total. Saya memang jarang pergi ke dokter ketika sakit. Biasanya yang saya lakukan ketika merasa kurang enak badan adalah menambah porsi buah dan sayur serta protein pada menu makan saya. Jika perlu obat, saya selalu mencari obat herbal yang berbahan dasar alami.

Ilustrasi : koleksi pribadi

Seperti baru-baru ini, saya terkena radang tenggorokan dan batuk akibat cuaca Jogja yang tidak menentu dan terlalu banyak beraktifitas di luar rumah. Akibatnya banyak pekerjaan menulis yang tertunda, padahal beberapa mendekati deadline-nya. 

Akhirnya seorang sahabat menganjurkan saya untuk meminum Obat Batuk cap Ibu dan Anak (OBIDA). Katanya dia sudah mengkonsumsi obat itu lama, dan terbukti aman dan manjur mengatasi batuknya. 

Tentu saja saya tidak langsung percaya begitu saja. Saya kemudian berusaha mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai OBIDA, terkait dengan kandungan di dalamnya, efek samping, juga kehalalannya, karena itu semua penting untuk saya. Dan inilah hasil pencarian saya...

Tentang Obat Batuk Cap Ibu dan Anak (OBIDA)
Berdasar penjelasan dari situs resminya di www2.ninjiom.com/id, Obat Batuk Cap Ibu dan Anak atau Nin Jiom Pei Pa Koa merupakan obat herbal berbahan alami yang diproduksi oleh Nin Jiom Medicine Manufactory Limited, Hongkong dan diimport ke indonesia oleh P.T. Sinde Budi Sentosa. 

Diformulasi khusus dengan madu Chuan Bei, serta 14 rempah tradisional lainnya, OBIDA memiliki khasiat untuk menghilangkan dahak, mengurangi batuk dan meredakan sakit tenggorokan.

Obat batuk Cap Ibu dan Anak (doc : pribadi)
Cara kerja obat ini adalah dengan melapisi tenggorokan sehingga menyejukan, mengurangi sakit, dan meredakan peradangan. Secara bersamaan, obat ini juga memelihara paru-paru, mengurangi panas tubuh dan memperbaiki warna serta kekenyalan kulit. Mengacu informasi di atas, dapat disimpulkan bahwa OBIDA terbuat dari 100% tanaman herbal alami sehingga halal dan aman untuk dikonsumsi, sesuai dosis yang dianjurkan.

Formula OBIDA pertama kali temukan oleh seorang tabib pada masa Dinasti Qing, yang pada saat itu diberi tugas oleh komandan muda provinsi bernama Yang Xiaolian untuk mengobati ibundanya yang tidak kunjung sembuh dari penyakit batuknya. 

Setelah meminum ramuan sang tabib lambat laun batuk yang diderita ibunda Yang Xiaolian sembuh. Sehingga formula ini kemudian dipergunakan dan resepnya diwariskan secara turun-temurun dan kemudian diproduksi massal hingga sekarang.

Formula obat itu dinamakan Nin Jiom yang artinya untuk mengenang ibu saya. Inilah kemudian yang memberikan inspirasi logo Nin Jiom bergambar ibu dan anak untuk menekankan pentingnya kebajikan dan bakti terutama kepada ibu atau orang tua.

Logo Obat Batuk Cap Ibu dan Anak

Cara meminum OBIDA adalah dengan menuangkannya ke sendok kemudian ditelan atau dilarutkan ke dalam air hangat dan diminum secara perlahan.
Adapun dosis yang dianjurkan adalah :
Untuk dewasa 1 sendok makan (15ml) 3 kali sehari
Untuk anak-anak :
Umur 7-12 tahun: 2/3 sendok makan (10ml) 3 kali sehari
Umur 3 – 6 tahun: 1/3 sendok makan (5ml) 3 kali sehari

OBIDA ini tersedia dalam kemasan botol isi 75ml, 150ml, 300ml, dan juga kemasan sachet sekali minum yang praktis dibawa ke mana-mana. 

Disamping tersedia dalam formula asli yang mengandung madu, Obat Batuk cap Ibu dan anak ini juga tersedia dalam formula tanpa gula yang aman dikonsumsi untuk penderita diabetes atau bagi yang membatasi konsumsi asupan gula. Varian ini tersedia dalam kemasan 150ml. Jadi konsumen bisa memilih jenis formula OBIDA yang cocok sesuai kondisi tubuhnya.

Selain OBIDA, Nin Jiom Medicine Manufactory Limited Hongkong juga mengeluarkan produk-produk kesehatan lainnya. Secara rinci jenis produk yang dikeluarkan perusahaan tersebut bisa dilihat di SINI.

Pengalaman Minum OBIDA
Setelah mendapat banyak informasi tentang OBIDA, sayapun menjadi yakin akan khasiat dan keamanannya. Selanjutnya saya memutuskan untuk membelinya di apotek dekat rumah. Ternyata OBIDA ini mudah diperoleh dan harganyapun terjangkau. 

Segera sayapun meminum OBIDA untuk meredakan batuk saya, dan Alhamdulillah efeknya langsung terasa. Rasa hangat ditenggorokan mampu menekan rasa gatal, perih, serta dorongan untuk batuk. Dan hebatnya lagi, obida ini tidak menyebabkan kantuk, sehingga saya bisa melanjutkan aktifitas menulis yang sempat tertunda karena batuk yang melanda.

Akhirnya sayapun bisa menyelesaikan tulisan yang kebetulan akan saya ikutkan di ajang lomba sebelum lewat batas waktunya. Dan syukurnya lagi, belum lama ini sebuah kabar manis saya dapatkan, tulisan saya tersebut berhasil memenangkan lomba menjadi juara tiga. Sungguh sebuah pencapaian yang amat saya syukuri.

Pengumuman juara penulisan (doc : Belanga.id)

Terima kasih OBIDA...karena batuk saya reda, saya bisa mengikuti lomba dan berkesempatan menjadi juara. Sebuah awal yang manis di tahun 2018 ini, yang membuat saya tambah bersemangat untuk terus menulis. Selain itu, berkat OBIDA sekarang saya tidak perlu khawatir lagi, kalau terkena batuk atau radang tenggorokan. Saya sudah punya obat batuk andalan yang alami dan aman.

Terima kasih OBIDA (doc : pri)

Bersama OBIDA saya siap mewujudkan mimpi menjadi blogger yang lebih baik lagi, sebagaimana resolusi saya di tahun 2018 ini.








6 komentar:

  1. Wah semoga terlaksana ya resolusinya. Dan saya juga punya Obida di rumah untuk antisipasi kalo batuk datang. Harganya pun terjangkau cuma 23 ribu di tempat saya. Btw sukses buat lombanya ( kangamir.com )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...terima kasih.untuk doanya..doa yang sama untuk anda ya...terima kasih sudah mampir...

      Hapus
  2. OBIDA tu obat tapi rasanya enak...dicampur dengan air anget enak banget di tenggorokan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya pernah nyoba juga. Seperti minum sirup rasa mocca. Hehe..

      Hapus
  3. Sama Mak, kalau sudah kelelahan, langsung mampet deh gairah menulisnya. Apalagi kalau batuk. Ganggu banget. Sembuhnya lama lagi. Keluarga kami juga pakai OBIDA. Alhamdulillah cocok ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toss mbak, hihi..iya, obida selain enak,banyak yang cocok juga ternyata..terima kasih mbak..sudah mampir..salam kenal...

      Hapus