Selasa, 03 Oktober 2017

Puro Pakualaman, Istana yang Kerap Terlupakan

Sabtu pagi, 30 September 2017 saya sudah berada di pintu gerbang Puro Pakualaman. Bergabung bersama sekumpulan orang yang telah terlebih dahulu datang. Ya..hari itu kami berkumpul untuk mengikuti kegiatan yang diberi nama "kelas heritage". Sebuah acara yang digagas malamuseum yang bertujuan menghidupkan kembali minat masyarakat untuk belajar sejarah dengan langsung datang ke lokasi bangunan atau gedung yang dianggap memiliki nilai sejarah tersebut.

Topik yang akan dibahas dalam kelas heritage kali ini adalah "Puro Pakualaman dalam Bentang Sejarah"

Sebagaimana kita tahu, Yogyakarta memiliki 2 istana yakni keraton Yogyakarta, dan Puro Pakualaman.
Bila dibandingkan dengan Keraton Yogyakarta, Puro Pakualaman memang lebih kecil dan sederhana. Keberadaannya pun sering terlupakan. Padahal Puro Pakualaman memiliki kontribusi terhadap keberadaan negeri ini. Apa saja itu, nanti kita simak bersama.

Ada beberapa alasan kenapa saya tertarik mengikuti kelas heritage kali ini, diantaranya adalah karena saya belum pernah mengunjungi Puro Pakualaman dan saya ingin tahu cara penyampaian materi dalam kelas heritage yang diadakan malamuseum.

Sebagai informasi malamuseum adalah sebuah komunitas yang berisi sekumpulan anak muda yang memang memiliki latar belakang pendidikan di bidang sejarah dan ingin berbagi pengetahuan tentang sejarah kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan yang dikemas dengan cara yang berbeda.

Dan bak gayung bersambut, animo masyarakat yang datang ke kelas heritage ini lumayan besar. Ada sekitar 50 orang yang datang, itupun dari pihak penyelenggara telah menolak sekitar 80  peserta yang mendaftar belakangan.

Pukul 08.30 kegiatan dimulai, diawali dengan perkenalan pemberi materi dari malamuseum yang bernama mas Erwin. Dalam pengantarnya mas erwin menjelaskan tentang berbagai larangan bagi pengunjung istana Puropakualaman, diantaranya :
1. Tidak boleh naik bangsal Sewotomo
2. Tidak boleh masuk ke dalam bangunan Purwo Retno
3. Tidak boleh masuk tempat tinggal raja (istana)

Selain itu pengunjung yang menggunakan celana pendek, kaos singlet, atau bersandal juga di larang masuk area kompleks istana.

Larangan di pintu masuk Puro Pakualaman

Selanjutnya mas Erwin mengajak kami ke luar area Puro Pakualaman menuju ke sebuah tanah lapang yang berada di depan Puro Pakualaman yang bernama alun-alun Sewandanan. Di sini dijelaskan mengenai asal-usul Puro Pakualaman yang berlokasi di Jalan Sultan Agung, kompleks Puro Pakualaman. Kurang lebih berjarak 1,2 km dari Malioboro.

Ada satu hal yang miris dan perlu digarisbawahi, bahwa rasa iri dengki dan mudah dihasut adalah awal dari kehancuran sebuah negeri..itu pula yang melatarbelakangi berdirinya Puro Pakualaman ini..

***
Setalah ditandatanganinya perjanjian Giyanti (palihan nagari) dimana Mataram dibagi menjadi 2 yakni Surakarta dan Yogyakarta, bertahtalah Pangeran Mangkubumi di Keraton Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.

Sultan Hamengku Buwono I memiliki banyak istri dan seorang permaisuri bernama Gusti Kangjeng Ratu Hageng. Dengan sang permaisuri, beliau memiliki seorang putra yang nantinya diangkat sebagai seorang putra mahkota bernama Pangeran Adipati Anom yang dipersiapkan untuk menggantikan esfatet kepemimpinan menjadi Sultan Hamengku Buwono II. Di lain pihak, Sultan Hamengku Buwono I memiliki seorang putra dari garwa selir bernama Ratu Srenggana yang sangat cerdas dan memiliki kecakapan di bidang ketatanegaraan yang amat disayangi, bernama R.M Notokusuma. Namun karena aturan kerajaan, R.M. Notokusuma tidak dapat diangkat menjadi pewaris tahta. Kepada R.M Notokusuma Sultan Hamengku Buwono I berpesan agar senantiasa mendukung dan membantu pemerintahan kakak tirinya kelak. RM Notokusuma menaati pesan ayahandanya, dan hubungan beliau dengan Sultan Hamengku Buwono II terjalin harmonis dan akrab.

Hal tersebut memunculkan ketidaksukaan dan kecemburuan dikalangan kerabat istana. Diantaranya dari sang putra mahkota (putra Hamengku Buwono II) yang khawatir tahtanya jatuh ke tangan R.M.Notokusuma, dan dari Patih Danurejo II yang tidak suka terhadap R.M. Notokusuma karena cemburu dengan anak dari R.M Notokusuma yang bernama R.M. Notodirjo yang menikah dengan putri Hamengku Buwono II.
Di sisi lain, ada Paku Buwono IV raja Kasunanan Solo juga tidak suka terhadap keraton Jogja yang utuh, dan menginginkan Keraton Jogja dipecah 2 seperti Solo, yang saat itu terbagi menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran.

Benih ketidaksukaan itu tumbuh dengan subur, dan memperoleh kesempatan tatkala Belanda kalah dengan Perancis, dan pemerintah Perancis  mengirim Daendels untuk menguasai Jawa.

Hamengku Buwono II tidak menyukai Daendels dan tidak mengakui kekuasaan Daendels di keraton Yogyakarta. Sehingga memunculkan ketegangan antara pihak keraton dengan Belanda. Pada akhirnya Hamengku Buwono II diturunkan paksa oleh Daendels dan naiklah Hamengku Buwono III. Sedangkan Notokusuma dan Notodirjo diasingkan ke luar jogja karena dituduh ikut membantu pemberontakan di Madiun.

Setahun kemudian, Inggris berhasil merebut daerah kekuasaan Perancis. Hal tersebut dimanfaatkan Hamengku Buwono II untuk naik tahta kembali. Akibatnya Hamengku Buwono III melarikan diri dari istana dan Danurejo II dihukum mati.

Notokusuma dan Notodirjo dikembalikan ke Jogja dan mempunyai misi agar Hamengku Buwono II mengakui kekuasaan Inggris dan minta maaf kepada
Rafles karena telah membunuh Danurejo II. Sultan Hamengku Buwono II menyanggupi, tapi meskipun demikian beliau tetap tidak suka terhadap kolonialis. Akhirnya atas bujukan Paku Buwono IV yang bermuka dua ( pura-pura mendukung Hamengku Buwono II padahal punya misi agar keraton Jogja pecah jadi 2) Sultan Hamengku Buwono II menyerang pasukan Rafles, karena merasa dapat dukungan dari Paku Buwono IV.

Pada akhirnya Hamengku Buwono II mengalami kekalahan hebat, tembok bangunan istana jebol dan kekalahan itu harus dibayar mahal dengan dirampasnya berbagai naskah kuno dan harta keraton oleh pasukan Inggris. Ditambah lagi harus menandatangani perjanjian Tuntang yang isinya menerangkan kekuasaan kasultanan Yogyakarta diperkecil dan jumlah pasukannya dikurangi. Selain itu,  pihak keraton juga diharuskan mengganti kerugian terhadap Inggris sebesar 100.000 real setiap tahunnya. Sultan Hamengku Bowono II kemudian dibuang ke Pulau Penang dan Hamengku Buwono III diangkat kembali.

Selanjutnya, oleh pemerintah Inggris R.M. Notokusuma diangkat menjadi pangeran merdeka, dan diberi tanah sebanyak 4000 cacah dan menjadi cikal bakal Kadipaten Pakualaman yang resmi berdiri tanggal 17 maret 1812. Wilayah kabupaten (wilayah administratif) Pakualaman meliputi kecamatan Pakualaman dan wilayah Adikarto di Brosot.

Bangunan keraton Pakualaman menghadap ke selatan, untuk menghormati keraton Yogyakarta yang sudah lebih dahulu berdiri.

Sebagaimana konsep kota-kota kerajaan di Jawa pada umumnya,yang memiliki empat komponen utama (konsep Catur Gatra Tunggal) yang berada dalam satu kesatuan, yang terdiri atas keraton, masjid, Alun-alun dan pasar. Puro Pakualaman juga memiliki 4 komponen tersebut, alun-alunnya bernama Sewandanan, masjidnya Masjid besar Pakualaman, dan pasarnya Pasar Sentul.

Pintu masuk masjid Puro Pakualaman

Konsep Puro Pakualaman berdasar konsep rumah Jawa, dimana rumah merupakan hal yang sangat privacy, sehingga terbagi atas :
# pendopo, untuk menerima tamu orang luar
#pringgitan (teras penghubung pendopo dan dalem) untuk menerima tamu yang sudah dikenal
# ndalem : khusus untuk keluarga
# gadri / dapur.

Puro Pakualaman cerminan dari mangkunegaran di Solo, yang membedakan adalah atap pendoponya. Puro pakualaman limasan, sedangkan mangkunegaran joglo.

Dalam perkembangannya, Puropakualaman pernah mengalami krisis keuangan akibat gaya hidup dari para pangeran dan putri kerajaan yang mewah. Sehingga menjadikan hutang menumpuk.

Sampai kemudian terjadi pembaharuan di lingkungan Puropakualaman yang dilakukan oleh Paku Alam V yang merupakan putra bungsu Paku Alam II.

Dahulu Paku Alam V yang memiliki nama asli R.M Notowiloyo  pernah diasingkan di Brosot karena dituduh main mata dengan istri Hamengku Buwono III. Kehidupan R.M. Notowiloyo sangat sederhana dan peka terhadap penderitaan rakyat. Pembaharuan yang dilakukan Paku Alam V diantaranya adalah :
#Melakukan penghematan : semua perabotan istana dibuat sederhana, Legiun Pakualaman dihapuskan karena tidak efisien ( tdk ada lagi perang) dan justru sering dipakai Belanda utk membantu perang di daerah lain.
# Membuat semua pangeran dan putri di lingkungan Puro Pakualaman sekolah di sekolah Belanda.
# Masuk menjadi anggota freemason, krn dlm anggaran dasar freemason dikatakan semua orang mempunyai kedudukan yg sama dalam pendidikan.

Memang Paku Alam V ini memberikan perhatian yang cukup besar di bidang pendidikan. Salah satu kerabat Pakualaman yang juga concern terhadap pendidikan adalah bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara yang nama mudanya R.M. Suryadi Suryaningrat.

Pada akhirnya keuangan Puro Pakualaman mulai membaik ketika tanah milik istana disewa Belanda untuk pendirian pabrik, diantaranya adalah pabrik gula Sewu galur.
Sehingga pada saat itu Paku Alam ke V melakukan perbaikan bagian istana diantaranya bangsal Sewotomo. Bangunan ini dibangun pasca gempa melanda Jogja, sekitar tahun 1867. Model bangsal sewotomo ini unik karena letak soko guru tidak berada di tengah tapi di belakang.

Bangsal sewotomo
Saat ini bangsal Sewotomo digunakan untuk menyimpan koleksi kereta milik istana yakni :  Kyai Manik Brojo, Nyai Roro Kumeyar, Kyai Jolodoro (baru, buatan dalam negeri,th 2015), dan Kyai Manik Kumolo yang digunakan pada saat pelantikan, pemberian dari Rafles.

Koleksi kereta Puro Pakualaman
Terdapat pula pusaka kerajaan berupa seperangkat gamelan bernama Pengrawit Sari yang digunakan utk upacara adat.

Seperangkat gamelan Pangrawit Sari

Di samping bangsal Sewotomo, di dalam komplek Puro Pakualaman terdapat satu bangunan cantik yang cukup menarik bernama Gedhong Purworetno.

Gedhong Purworetno

Bangunan bergaya Spanyol dengan warna kuning muda tersebut adalah bangunan yang sengaja dihadiahkan oleh Pakubuwono X kepada Pakualam VII karena telah menikahi putrinya bernama BRAy. Retno Puoso. Sayang keindahan bangunan itu hanya bisa dinikmati dari kejauhan. Kami tidak bisa masuk ke dalam lokasi bangunan yang terlindungi oleh pagar terkunci.

***
Pada masa kemerdekaan, Puro Pakualaman mengambil peran penting dalam mempertahankan NKRI dimana pada saat itu Paku Alam VIII berkolaborasi dg Hamengku Buwono IX menyatakan dukungan terhadap NKRI. Bahkan salah satu ruangan di Puro Pakualaman pernah digunakan sebagai tempat persembunyian tokoh nasional, salah satunya adalah Bung Karno yang pernah tinggal di Puro Pakualaman selama 7 minggu sebelum pindah ke Gedung Agung.

Dukungan dari kedua tokoh tersebut dalam mempertahankan keutuhan NKRI menjadi sebab musabab diberikannya status keistimewaan kota yogyakarta.

Saat ini Puropakualaman dipimpin oleh K.G.P.A.A. Paku Alam X yang mengemban amanah sebagai wakil Gubernur DI. Yogyakarta dan sekaligus penjaga kelestarian budaya Jawa.

***
Sekitar pukul 10.30 penjelajahan kami menyusuri tempat-tempat yang merupakan peninggalan Puro Pakualaman berakhir. Rasa panas dan penat terbayar dengan penjelasan yang runut, menarik, dan interaktif dari nara sumber malamuseum.

Pukul 11.00 suasana Puro Pakualaman kembali sepi. Hanya tinggal beberapa orang yang termasuk saya yang menunggu jemputan untuk pulang.

Semoga setelah ini banyak diantara kami yang kembali mengunjungi dan mengeksplor lebih dalam lagi tentang Puro Pakualaman dengan mengajak kawan dan saudara. Sehingga Puro Pakualaman tidak lagi merasa kesepian..

Baca : jelajah malam museum

2 komentar:

  1. Wah baru tahu tentang Pulo Pakualaman ini... tahunya cuma keraton Yogya itu aja... TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mksh mbak sudah mampir..semoga infonya bermanfaat..:)

      Hapus