Senin, 23 Oktober 2017

Menyusuri Jejak Peradaban Mataram Islam

Bagi saya, belajar sejarah itu ibarat candu, yang sekali mencicipi, susah sekali untuk berhenti, selalu ingin lagi dan lagi...

Apalagi jika belajarnya dikemas secara unik dan apik ala komunitas malamuseum.

Ini adalah kali ketiga saya mengikuti kegiatan "belajar sejarah" yang diadakan komunitas malamuseum.
Yang pertama adalah kegiatan jelajah malam museum yang dikemas ala amazing race yang diberi tema "Pahlawanku Idolaku". 

Kegiatan berupa penjelajahan ke 4 museum yang ada di Kota Jogja ini menggunakan konsep triathlon. Setiap peserta akan mengunjungi 4 museum yang berbeda yang ditempuh dengan jalan kaki, bersepeda, serta naik mobil jeep. Cerita seru tentang kegiatan ini dapat dibaca di sini : jelajah malam museum.

Kegiatan kedua adalah kelas heritage berupa kunjungan ke Puro Pakualaman untuk mengetahui sejarah awal berdirinya Puro Pakualaman dan peran Puro Pakualaman sebelum dan sesudah kemerdekaan.  Cerita lebih rincinya saya ulik di sini : "Puro Pakualaman dalam Bentang Sejarah".

Kegiatan ke 3 yang baru saja saya ikuti adalah kegiatan Jelajah Mataram Islam. Kegiatan yang ke 3 inilah yang sempat membuat saya galau bukan kepalang, antara keinginan untuk mbolang sama tanggung jawab sebagai ibu yang harus berbagi waktu dengan keluarga. Mengapa bisa begitu?
Karena di acara ke 3 ini kegiatannya merupakan serial (kalau saya boleh menyebutnya begitu) dimana antara kunjungan yang pertama dengan yang berikutnya saling berkaitan. Jadi idealnya setiap peserta harus mengikuti seluruh rangkaian kegiatannya agar tahu kisahnya secara lengkap, mulai dari permulaan, tengah, dan akhir.

Di Jelajah Peradaban Mataram Islam ini, kegiatan jelajah dibagi dalam 3 tahap kunjungan, yakni :

  1. Jelajah ke situs Kotagede, Kerto, dan Pleret yang dilaksanakan ditanggal 14 Oktober 2017.
  2. Jelajah ke situs Kartosura, Keraton surakarta, dan Puro Mangkunegaran, sebagai kelanjutan acara yang pertama, dilaksanakan tanggal 15 Oktober 2017.
  3. Jelajah Keraton Yogyakarta, Puro Pakualaman, dan makam raja di Imogiri sebagai penutup, yang dilaksanakan tanggal 22 Oktober 2017.

Setelah melalui pertimbangan yang matang, akhirnya saya mengikuti kegiatan jelajah yang pertama, yakni ke Kotagede - Kerto - dan Pleret. Alasannya sederhana, ketiga tempat itu ada di Yogyakarta, tetapi saya belum mengetahui kaitan sejarah antara tempat yang satu dengan tempat yang lain, jadi saya ingin tahu seperti apa benang merahnya.
Teman-teman penasaran juga dengan kisahnya ? Yuk simak cerita saya...

KOTA GEDE, TITIK AWAL SEJARAH MATARAM ISLAM 

Sabtu pagi, 14 Oktober 2017. Jogja lumayan mendung, bahkan dibeberapa tempat hujan mulai turun rintik-rintik. Sempat was-was cuaca mendung ini sedikit menghalangi kegiatan jelajah peradaban mataram Islam yang akan saya ikuti. Pukul 07.30 WIB saya sudah sampai di titik kumpul yang ditelah ditentukan. Di Gelanggang UGM. Setelah melalui registrasi ulang, saya menunggu waktu keberangkatan sambil ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman yang kebetulan saya kenal. 
Beberapa saya kenal dari kegiatan malamuseum sebelumnya, namun ada pula teman lama di SMA yang kebetulan ikut kegiatan ini juga.

Id card dan tas jelajah

Sekitar pukul 07.45 WIB acara dibuka. Diawali dengan doa bersama dan pembagian kelompok peserta. Seluruh peserta yang jumlahnya sekitar 100 orang dibagi secara acak ke dalam 3 bus yang sudah tersedia. Masing-masing kami diberi identitas berdasar warna pita dari kartu tanda peserta. Ada yang berwarna hijau, merah, dan kuning. Saya dan seorang teman yang kebetulan satu kelompok, masuk ke dalam kelompok hijau (bis ke-2). Segera kami masuk ke dalam bis yang sudah ditentukan, dan setelah semua siap kamipun berangkat.

Briefing sebelum berangkat

Tujuan pertama kami adalah Kotagede.
Sebuah kota di  pinggiran kota Jogja yang selama ini terkenal sebagai kota perak. Hampir di sepanjang jalan di Kotagede dapat dijumpai showroom kerajinan perak. 

Intensitas hujan mulai meninggi ketika kami sampai di Kotagede. Dengan dipandu petugas panitia, kami berjalan kaki melalui gang-gang di perkampungan. Kami menuju ke sebuah bangunan joglo yang menjadi titik kumpul kami di kegiatan jelajah Kotagede ini. Di sana kami disambut oleh Ibu Shinta salah seorang pengelola di Komunitas Jelajah Pusaka Kotagede.

Gang-gang yang kami lalui menuju titik kumpul di Kotagede

Joglo yang menjadi tujuan kami

Bu Shinta memperkenalkan 3 orang rekannya yang nanti akan ikut mendampingi kami menjelajahi situs-situs yang ada di Kotagede. Situs-situs tersebut adalah bekas peninggalan kerajaan Mataram Islam. Ya, di Kotagede inilah awal mula kerajaan Mataram Islam berdiri. Namun sebelum kami mengunjungi situs peninggalan kerajaan mataram Islam, terlebih dahulu kami memperoleh kisah mengenai sejarah awal mula kerajaan Mataram Islam ada. 

Kisah tersebut disampaikan oleh Mas Erwin, narasumber dari malamuseum. Lebih jauh Mas Erwin menjelaskan bahwa riset Mataram Islam Kotagede mengacu pada 3 sumber yang menjadi rujukan, yakni : Babat Tanah Jawi, Serat Kandha, dan cerita dari orang Belanda yang pernah datang ke Kotagede.

Menyimak penjelasan Mas Erwin tentang sejarah Kotagede
Dari sumber-sumber yang ada dijelaskan bahwa sejarah keberadaan Kotagede diawali dengan adanya sayembara yang diadakan Sultan Hadiwijaya, raja dari kerajaan Pajang yang saat itu sedang menghadapi pemberontakan yang dilakukan oleh Ario Penangsang. Dalam sayembara tersebut dikatakan barang siapa yang berhasil mengalahkan Ario Penangsang akan diberikan imbalan yang besar.

Tertarik akan hadiah yang ditawarkan akhirnya Ki Ageng Pemanahan dan saudaranya Ki Ageng Penjawi mengikutinya. Singkat cerita ki Ageng Pemanahan dan ki Ageng Penjawi berhasil mengalahkan Ario Penangsang. Meskipun sebenarnya yang mengalahkan Ario Penangsang adalah Danang Sutawijaya anak dari Ki ageng Pemanahan, namun karena usia Danang Sutawijaya yang masih muda, dan posisinya sebagai anak angkat dari Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Penjawi khawatir hadiah yang akan diberikan kepada Danang Sutawijaya nilainya kecil. Sehingga keduanya Sepakat untuk mengaku sebagai yang bisa mengalahkan Ario Penangsang.

Akhirnya sebagai imbalan Sultan Hadiwijaya menghadiahkan tanah perdikan di  daerah Pati dan di alas Mentaok yang dikenal juga dengan nama Mataram. Ki Ageng Penjawi memilih tanah di Pati, sehingga alas Mentaok menjadi bagian Ki Ageng Pemanahan.

Namun Ki Ageng Pemanahan harus menunggu waktu selama 7 tahun untuk mendapatkan haknya menperoleh tanah di alas Mentaok. Hal ini disebabkan karena Sultan Hadiwijaya pernah mendengar ramalan dari Sunan Giri, yang mengatakan bahwa di Mataram kelak akan lahir kerajaan yang lebih besar daripada Pajang. Sehingga Sultan Hadiwijaya selalu mengulur waktu untuk memberikan alas Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan.

Akhirnya Sunan Kalijaga ikut turun tangan, membujuk Sultan Hadiwijaya agar segera memberikan apa yang menjadi hak dari Ki ageng pemanahan tersebut. Sehingga baru di tahun 1556 ki ageng pemanahan mulai membuka alas Mentaok dan membangunnya menjadi sebuah pemukiman yang diberi nama desa Mataram.  Ki Ageng pemanahan juga membangun pasar untuk membuat orang tertarik datang kemudian menetap.

Dibawah kepemimpinan Ki Ageng Pemanahan, lambat laun pemukiman tersebut berubah menjadi kota yang ramai. Kegiatan ekonomi berjalan dengan pesat, komoditi beras yang menjadi andalannya. Banyak orang yang berdatangan, dan daerah tersebut menjadi semakin ramai. Sehingga akhirnya terkenal dengan sebutan kutho gede (kota besar) yang kemudian menjadi Kotagede.

Ki Ageng Pemanahan

Dalam Babat Tanah Jawi juga diceritakan bahwa Ki Ageng Pemanahan memiliki sahabat bernama Ki Ageng Giring. Ki Ageng Giring ini pernah bertapa memohon kepada Yang Kuasa agar keturunannya menjadi penguasa. Kemudian diakhir pertapaannya dia memperoleh buah kelapa, dan memperoleh bisikan bahwa barang siapa  yang meminum air kelapa itu maka anak turunnya akan menjadi raja. Dengan senang hati Ki Ageng Giring membawa pulang kelapa muda itu dan menyimpannya di dapur untuk meminumnya nanti. Kemudian Ki Ageng Giring pergi mandi.

Pada saat yang hampir bersamaan datanglah Ki Ageng Pemanahan bertamu di rumah Ki Ageng Giring. Ki Ageng Pemanahan menjumpai rumah Ki Ageng Giring sepi. Lantas Ki Ageng Pemanahan langsung menuju dapur dengan tujuan mau mengambil minum. Di dapur dilihatnya sebutir kelapa muda tergeletak. Rasa haus yang tidak tertahan membuatnya segera membuka dan mereguk habis air kelapa tadi.

Ki Ageng Giring yang baru saja selesai mandi merasa terkejut dan kecewa, karena buah kelapa bertuahnya telah diminum sahabatnya. Namun akhirnya dia bisa mengikhlaskan dan menganggap itu sebagai takdir yang kuasa. Kemudian dia mengajak Ki Ageng Pemanahan untuk membuat kesepakatan, dimana nanti setelah keturunan yang ketujuh, ganti keturunan dari Ki Ageng Giring yang berkuasa. Dan Ki Ageng Pemanahan pun menyetujuinya. 

Tahun 1584 Ki Ageng Pemanahan wafat, kemudian digantikan putranya, yaitu Danang Sutawijaya.  Di bawah kepemimpinan Danang Sutawijaya desa Mataram berkembang dengan pesat. Dalam masa kepemimpinan Sutawijaya, hubungan Mataram dengan Pajang tidak terlalu harmonis. Sutawijaya jarang sowan ke Pajang. Bahkan Sutawijaya secara terbuka menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Pajang dan ingin mendirikan kerajaan sendiri. 

Ketidaksukaan Sutawijaya terhadap Pajang diantaranya karena rajanya berambut gondrong (panjang) dan terlalu banyak memiliki istri. Pembangkangan Sutawijaya terhadap Pajang semakin kelihatan ketika dia membangun benteng yang besar (cepuri) di Mataram, dan menghubungi penguasa merapi dan pantai selatan untuk melegitimasi kekuasaannya. Dan akhirnya pada tahun 1587 Sutawijaya mendirikan kerajaan sendiri, dengan Kotagede sebagai ibu kotanya. Gelar yang dia gunakan adalah Panembahan Senopati. Di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati, Mataram semakin maju, dan berkembang pesat. Daerah kekuasaannya semakin luas meliputi hampir seluruh wilayah di Pulau Jawa.
Panembahan Senopati

Pada tahun 1601, Panembahan Senopati wafat dan dimakamkan di pemakaman raja Kotagede. Sebagai pengganti ditunjuk Raden Mas Jolang yang bergelar Prabu Hanyokrowati yang memerintah mulai tahun 1601. Pada masa pemerintahannya, Mataram tidak banyak melakukan perluasan daerah kekuasaan. Tahun 1613 Prabu Hanyokrowati meninggal dunia di daerah Krapyak seusai berburu. Sehingga mendapat gelar Panembahan Seda ing Krapyak. 

Pengganti dari Prabu Hanyokrowati selanjutnya adalah Raden Mas Rangsang, yang setelah menjadi raja bergelar Sultan Agung. Pada masa Sultan Agung inilah Mataram Islam mencapai puncak kejayaannya. Dan terjadi pemindahan pusat pemerintahan dari Keraton Kotagede ke Kerto pada tahun 1618, karena Sultan Agung merasa keraton Mataram perlu ditingkatkan pertahanannya sehingga perlu dibuat istana baru. Adapun Kotagede tetap ditinggali ibu suri dan menjadi pusat kegiatan ekonomi.

Peninggalan Mataram Islam di Kotagede

Setelah mendengarkan penjelasan dari Mas Erwin, selanjutnya kami diajak mengunjungi situs-situs peninggalan kerajaan Mataram Islam di Kotagede yang masih ada. 

Sebagai kota tertua yang menjadi saksi bisu awal mula berdirinya peradaban mataram Islam, Kotagede memiliki beberapa situs berkaitan dengan sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam  yang masih terjaga. Dengan dipandu seorang petugas dari Kotagede kami mencoba menyusurinya...

1. Bokong Semar

Situs yang pertama akan kami kunjungi adalah situs bokong semar. Situs ini berupa sisa bekas benteng dalam (cepuri) yang masih tersisa yang bentuknya melengkung seperti bokong semar.

Batu-batu sisa benteng 
Situs bokong semar
Untuk mencapai ke situs bokong semar, kami harus melalui gang-gang sempit dan melalui rumah-rumah penduduk yang memiliki arsitektur yang unik.

Rumah-rumah tersebut berada di antara dua pintu gerbang, sehingga mendapat julukan between 2 gate. Jika waktu mulai malam, dua pintu gerbang yang mengapit kampung itu ditutup untuk menjaga keamanan wilayah kampung. Dahulu kampung tersebut merupakan bekas alun-alun keraton Kotagede yang setelah pusat pemerintahan Mataram pindah ke Kerto diubah menjadi perkampungan oleh para perajurit keraton yang tidak ikut pindah ke Kerto. Sehingga kampung tersebut dinamakan juga Kampung Alun-Alun.

Mendengarkan penjelasan dari pemandu tentang bangunan-bangunan unik
dikampung between 2 gate   

Melihat dari dekat keunikan kampung alun-alun

Suasana di kampung alun-alun

Rumah milik juragan batik
salah satu pintu gerbang yang ada di kampung Alun-alun

Keberadaan para prajurit dan abdi dalem di Kotagede ini pulalah yang melatar belakangi banyaknya pengrajin perak di wilayah Kotagede ini. 

Kerajinan perak yang ada Kotagede bermula dari kebiasaan para abdi dalem kriya Kotagede membuat barang-barang untuk memenuhi kebutuhan perhiasan atau perlengkapan lain bagi Raja berikut kerabat-kerabatnya. Dan itu menjadi keterampilan turun-temurun yang tetap lestari sampai sekarang. 

2. Situs Watu Gilang dan Watu Gatheng 

Setelah puas melihat bangunan unik yang ada di kampung Alun-Alun dan melihat bekas benteng keraton, kami menuju ke situs watu gilang dan watu gatheng. Dalam perjalanan menuju ke sana, kami melewati makam kerabat kerajaan yang bernama Hastorenggo. Dimakam tersebut antara lain dimakamkan seorang sinden terkenal bernama Nyai Condrolukito. Beberapa kerabat keraton juga dimakamkan di sana.

Makam Hastorenggo

Tidak berapa lama kami sampai di Situs watu gilang dan watu gatheng. Tampak Sebuah bangunan  kecil berukuran 3 m x 3 m bercat hijau yang berada di bawah pohon beringin besar. Di dalam bangunan tersebut tersimpan watu gilang, watu gatheng serta sebuah genthong / padasan yang dulu dipakai Ki Ageng Giring dan Ki Juru Mertani untuk berwudhu berada. Keduanya merupakan penasihat dari Panembahan Senopati.

Bangunan kecil tempat menyimpan watu gilang,
watu gatheng, dan watu genthong


Juru kunci sedang menjelaskan tentang Watu gilang dan watu gatheng

Menurut keterangan dari juru kunci, watu gilang adalah sebuah batu granit hitam yang sangat keras yang dulunya merupakan singgasana dari Panembahan Senopati. Berukuran 2m x 2m dengan tinggi 30 cm. Watu gilang itulah yang pernah dipakai untuk membenturkan kepala dari Ki Ageng Mangir, menantu Panembahan Senopati yang dianggap membangkang, hingga tewas dan meninggalkan bekas berupa cekungan di tepi batu yang diyakini bekas dahi dari Ki Ageng Mangir.
Bentuk dari watu gilang

Sedangkan watu gatheng adalah mainan dari Raden Ronggo anak dari Panembahan Senopati dengan Ratu Roro Kidul yang memiliki kesaktian yang luar biasa. Ada 3 buah batu gatheng berwarna kuning kecoklatan dengan ukuran diameter 31 cm, 27 cm dan 15 cm. Ada semacam mitos yang berkembang di masyarakat, barang siapa dapat mengangkat watu gatheng niscaya keinginannya akan tercapai.

Watu Gatheng
Watu Genthong
Tempat di mana situs watu gatheng dan watu gilang berada itulah yang diyakini sebagai Ndalem atau Keraton Kotagede dulunya berada.

3. Masjid Agung Kotagede

Tidak jauh dari situs watu gilang dan watu gatheng berada, terdapat Masjid Agung Kotagede. Masjid ini didirikan atas perintah Panembahan Senopati pada tahun 1589 sebagai bagian dari konsep catur gatra tunggal, dimana keberadaan sebuah kutogoro (ibu kota negara) harus mengandung 4 unsur yakni :
  1. Ndalem / keraton sebagai tempat tinggal raja dan pusat pemerintahan
  2. Alun-alun sebagai penghubung antara keraton dengan masyarakat.
  3. Masjid / kauman sebagai pusat kegiatan religius
  4. Pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi.

Masjid Agung Kotagede

Sampai sekarang Masjid Agung Kotagede ini masih dipergunakan oleh masyarakat sekitar. 

4. Makam Raja Mataram Kotagede

Situs terakhir yang kami kunjungi dalam rangka jelajah jejak mataram Islam di kotagede ini adalah makam raja mataram. Dimakam inilah pendiri kerajaan Mataram Islam berikut para kerabat dimakamkan, diantaranya adalah Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan, sultan Hadiwijoyo, dan keluarga inti lainnya.

Bangunan terbuat dari batu bata berwarna merah tersebut masih tampak kokoh berdiri. Gapura masuknya mempunyai hiasan yang masih mencirikan kebudayaan Hindu. Diantaranya adalah terdapat hiasan betara kala, yang mempunyai makna untuk menggapai kesuksesan kita harus dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
Gapura masuk menuju makam

Suasana bagian dalam kompleks makam 

Ada sekitar 3 gapura yang harus kita lalui agar kita sampai ke dalam makam. Di dalam kompleks makam, terdapat pula kolam pemandian bernama sendang seliran. Konon sendang ini dibuat sendiri oleh panembahan senopati. 
Sendang ini dibagi 2, satu untuk laki-laki dinamakan sendang kakung dan satu untuk perempuan dinamakan sendang putri.

tentang Sendang seliran

Sendang kakung

Di sendang ini terdapat mitos adanya lele putih bernama kyai Reges. Lele ini berasal dari duri dan kepala ikan lele, sisa makan dari Sunan Kalijaga yang dibuang ke sendang itu dan kemudian hidup. 

Di sendang kakung terdapat sebuah sumur yang airnya dipercaya dapat membuat awet muda bagi siapa saja yang mencuci muka dan meminum airnya. 

Sumur di sendang kakung yang konon
Bikin awet muda bagi yang meminum dan cuci muka dengan airnya    

Makam raja Kotagede ini sudah penuh, yang ditandai dengan ditanamnya 2 pohon di depannya. Itulah alasan dibangunnya makam raja di Imogiri. 
Untuk dapat berziarah dan masuk ke dalam makam, kita harus memakai baju khusus yang bisa disewa di sana. Dan tidak setiap hari kita bisa berziarah ke makam. Hanya di hari-hari tertentu saja.

Gerbang menuju makam
Lokasi makam dan masjid agung Kotagede berdekatan. Hal ini mempunyai makna ketika kita mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, kita akan ingat kemana kita akan menuju, yakni kematian.

Sebagai bekas ibukota kerajaan Mataram Islam yang menjadi cikal bakal Keraton Surakarta dan Yogyakarta, keberadaan Kotagede amat sangat dijaga dan dihargai oleh trah Keraton Yogyakarta maupun Surakarta. Sehingga pasca perjanjian Palih Nagari (perjanjian Giyanti) yang membagi keraton Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta, wilayah Kotagede adalah satu-satunya wilayah yang tidak dibagi. Pengelolaannya tetap dilakukan bersama antara keraton Yogyakarta dan Surakarta. Dan menjadi hal yang wajib bagi calon raja dari kedua kerajaan untuk mengunjungi makam Kotagede, untuk mohon ijin dan restu sebelum resmi diangkat menjadi raja. 

Bahkan di depan gapura masuk ke area makam dulunya terdapat 2 pohon beringin, yang menggambarkan keraton Surakarta dan keraton Yogyakarta. Hanya saja pohon yang menggambarkan keraton Surakarta sudah tumbang,  karena usia. 


MENUJU SITUS KERTO 
Selesai mengunjungi berbagai situs yang ada di Kotagede, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan kami selanjutnya adalah situs Kerto. Istana kedua dari dinasti Mataram Islam yang dibangun R.M. Rangsang, raja Mataram Islam ke 3 yang memerintah tahun 1613 - 1645. Pada masa pemerintahan R.M. Rangsang Mataram mengalami puncak kejayaan. Wilayah kekuasaannya sampai ke luar Pulau Jawa. R.M Rangsang yang bergelar panembahan Hanyokrokusumo merasa perlu untuk membuat istana baru untuk lebih memperkuat pertahanannya. Kemudian dipilihlah daerah Kerto yang berada sekitar 5 km barat daya Kotagede, untuk lokasi istana yang akan dibangun.

Pembangunan mulai dilaksanakan sekitar tahun 1617, dan ditempati sekitar 3 tahun kemudian. Keraton di Kerto merupakan keraton Mataram pertama yang memiliki bangunan sitinggil. Sitinggil banyak dijumpai di Keraton Cirebon dan Demak. Kepindahan ke istana Kerto ini sekaligus menandai dipakainya gelar baru dari Panembahan Hanyokrokusumo menjadi Sultan Agung.
Sultan Agung Hanyokrokusumo

Di Situs Kerto dan Pleret, kami ditemani mas Denny yang memberikan banyak penjelasan mengenai kedua situs yang letaknya memang tidak terlalu jauh.

Peninggalan yang tersisa dari keraton Kerto ini tidak banyak. Hanya menyisakan 3 buah umpak besar bekas sitinggil dengan ukuran alas 80 x 80 cm dengan tinggi 70 cm. Terdapat relief huruf mim kha dan dal, yang merupakan penggambaran dari nama Mukhammad. Salah satu dari umpak tersebut konon ada yang  digunakan sebagai penyangga di Masjid Sokotunggal Tamansari.

Prasasti penanda situs Kerto
Di tanah inilah dulu keraton Kerto berdiri 

Umpak inilah peninggalan yang tersisa dari keraton Kerto

Di sekitar situs Kerto ini, terdapat Masjid Taqarub Kanggotan yang diduga dulunya merupakan salah satu masjid Patok Nagari yang ada di Keraton Kerto. Hanya saja bukti yang ada tidak cukup kuat, mengingat masjid tersebut telah banyak mengalami renovasi dan perubahan sehingga bentuknya telah berubah. Tetapi kalau dilihat dari lokasi dan adanya prasasti bertuliskan huruf jawa yang ada di dalam masjid bisa jadi masjid taqarub Kanggotan adalah salah satu peninggalan keraton Kerto.

Masjid Taqarub Kanggotan

Menurut Babad Momanah, keraton Kerto terbuat dari kayu sehingga mudah lapuk dan rusak. Itu menjadi salah satu sebab mengapa peninggalan Kerto tidak banyak tersisa. Selain itu, pasca Sultan Agung wafat di tahun 1645, Amangkurat 1 yang merupakan putra dari Sultan Agung sang penerus tahta mataram selanjutnya memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Kerto ke Pleret. 

Alasan pemindahannya tidak begitu jelas. Padahal jarak Kerto dan Pleret tidak terlalu jauh. Hanya ada pernyataan dari Amangkurat 1 kalau dia tidak mau menempati istana bekas ayahnya, dan Keraton Kerto ditinggalkan begitu saja tidak terawat. Akhirnya pada masa Amangkurat 1 keraton mataram pindah lagi ke Pleret.

SITUS PLERET
Sepeninggal Sultan Agung Hanyokrokusuma, Mataram diperintah oleh putranya yang bernama R.M. Sayidin, yang setelah menjadi raja bergelar Amangkurat I. Memerintah dari tahun 1646 - 1677. Merupakan raja yang bisa dibilang kontroversi.

Diawal pemerintahannya, memberikan perintah kepada rakyatnya sebagai berikut :
"...Sarupane kawula ingsun kabeh, padha nyithaka bata, ingsun (Amangkurat I) bakal mingser teko ing kutha Kerto, patlasane kangjeng rama ingsun tan arsa ngenggoni. Ingsun bakal yasa kutho ing Plered (Babad Tanah Jawi).

Yang artinya : 
... semua rakyatku, kalian buatlah bata. Saya mau pindah dari Karta (Kerto) karena saya tidak mau tinggal dibekas (kediaman) ayahanda. Saya akan membangun kota Pleret.

Batu bata berukuran besar yang ditemukan di situs pleret
Sekarang tersimpan  museum Pleret  

Keraton pleret mulai digunakan pada tahun 1647. Berbeda dengan ayahnya yang anti VOC dan banyak nembawa kemajuan bagi Mataram, Amangkurat I justru bekerja sama dengan VOC dan lebih banyak menggunakan kekuasaannya untuk menuruti hawa nafsunya. Dia membangun proyek besar bernama segarayasa,  yakni sebuah segara (laut) buatan yang dibuat di belakang istana Pleret. Yang sedianya untuk berlatih perang angkatan laut mataram. Namun pada kenyataannya lebih banyak digunakan Amangkurat I untuk bersenang-senang bersama istri-istrinnya. 

Banyak pemberontakan yang terjadi pada masa pemerintahannya. Amangkurat I juga raja yang kejam, untuk menuruti keinginannya, dia tidak segan menumpahkan darah.

Cerita cintanya pun demikian. Demi mendapatkan seorang wanita bernama Nyai Mas Malang yang saat itu telah bersuami, dia tega melakukan pembunuhan terhadap suami Nyai Mas Malang yang bernama Ki Dalang Panjang. Kemudian memperistrinya.

Amangkurat I amat mencintai Nyai Mas Malang dan itu menimbulkan kecemburuan di kalangan selir-selir yang lain. Pada suatu hari Nyai Mas Malang jatuh sakit, dan akhirnya meninggal. Amangkurat I sangat berduka. Dia menduga para selirnyalah yang telah meracun Nyai Mas Malang hingga tewas. Akhirnya Amangkurat 1 menghukum para selirnya dengan mengurungnya ke dalam ruang tertutup, tanpa diberi makan. Satu per satu para selir tewas mengenaskan karena kelaparan. Bahkan ada yang sebelum meninggal, demi mempertahankan hidup sampai memakan bangkai selir yang lain yang sudah meninggal. 

Adapun jasad dari Nyai Mas Malang, dibawa Amangkurat I ke kompleks pemakaman di Gunung Kelir. Di sana jenazah dari Nyai Mas Malang tidak langsung dikubur. Tetapi Amangkurat I nenungguinya bahkan menemani tidur selama beberapa hari. Sampai kemudian, Amangkurat I bermimpi didatangi oleh Nyai Mas Malang yang mengatakan kalau sekarang dia sudah bahagia berkumpul kembali dengan suaminya Ki Dalang Panjang, baru Amangkurat menyuruh pengawalnya untuk menguburkan Nyai Mas Malang, dan kembali ke istana. 

Tidak hanya itu, Amangkurat I juga banyak melakukan pembantaian kepada para ulama dan kekuarganya karena menentang kesepakatan yang dilakukan antara Amangkurat I dengan VOC. Tidak kurang 5000 orang dibantai di alun-alun keraton Pleret saat itu. Digambarkan saat itu alun-alun keraton Pleret berubah menjadi lautan darah.

Bahkan dia tega membunuh Pangeran Pekik yang merupakan mertuanya sendiri karena dianggap menyebabkan gagalnya Amangkurat I memperistri Roro Hoyi. Dalam sebuah kisah disebut, Roro Hoyi adalah wanita cantik dari Surabaya yang hendak dijadikan selir oleh Amangkurat I. Namun karena masih belia, dia dititipkan terlebih dahulu kepada Tumenggung Wirorejo agar dididik dan dipersiapkan untuk menjadi istri raja.

Pada suatu hari, Pangeran Rahmat sang putra mahkota berkunjung ke rumah tumenggung Wirorejo. Tidak sengaja dia melihat Roro Hoyi sedang membantik. Timbulah ketertarikan R.M Rahmat terhadap Roro Hoyi. Oleh Tumenggung Wirorejo Pangeran Rahmat diberitahu kalau Roro Hoyi adalah calon istri ayahandanya.  R.M Rahmat merasa sedih, kemudian jatuh sakit. Kabar ini didengar oleh Pangeran Pekik. Karena tidak tega dia membawa Roro Hoyi ke ksatrian untuk bertemu R.M Rahmat. Pangeran Pekik berpikir tentu sebagai seorang ayah, Amangkurat I tidak akan tega anaknya sedih dan menderita. Ternyata dugaan itu keliru, Amangkurat I amat murka ketika mengetahui Roro Hoyi sudah menjadi kekasih anaknya sendiri.

Akhirnya Pangeran Pekik dan Tumenggung Wirorejo dihukum mati dan dimakamkan di makam Banyusumurup. Nasib Roro Hoyi pun tidak kalah mengenaskan, dia meninggal di tangan Pangeran Rahmat yang dipaksa Amangkurat I untuk membunuhnya. 

Selanjutnya Pangeran Rahmat dihukum dan diasingkan ke sebuah hutan. Dalam pengasingannya, Pangeran Rahmat bertemu dengan Trunojoyo. Dan bersama Trunojoyo Pangeran Rahmat melakukan rencana pemberontakan terhadap Amangkurat I. Dengan bantuan Kraeng Galengsong akhirnya Keraton Preled berhasil dikalahkan.

Namun kemudian terjadi ketidakcocokan antara Pangeran Rahmat dengan Trunojoyo, kesepakatan bahwa kekuasaan keraton Plered diserahkan Trunojoyo kepada Pangeran Rahmat diingkari. Bahkan Trunojoyo menjarah dan menghancurkan keraton Pleret.
Jatuhnya istana Pleret ini menandai masa berakhirnya kesultanan Mataram. 

Akhirnya Pangeran Rahmat bergabung kembali dengan Amangkurat I dan melarikan diri sampai daerah Tegal. Dalam pelarian tersebut Amangkurat I meninggal dunia dan mendapat julukan Sunan Tegal Wangi. Konon kematiannya dipercepat oleh air degan beracun yang diberikan Pangeran Rahmat kepadanya.

Pangeran Rahmat kemudian meminta bantuan VOC untuk merebut tahta dan mengalahkan Trunojoyo. Selanjutnya Pangeran Rahmat mendirikan kerajaan baru di hutan Wanakarta, dan diberi nama Kasunanan Kartasura. 

Peninggalan keraton Pleret yang masih ada dan masih bisa dilihat diantaranya adalah Masjid Agung Kauman, yang saat kami ke sana sedang dalam taraf renovasi untuk dikembalikan ke bentuk semula. Masjid ini dibangun sekitar tahun 1649. Dan dilihat dari struktur bangunan yang ada, dulunya merupakan bangunan masjid yang megah.


Plang Cagar Budaya Masjid Kauman Pleret

Penjelasan tentang Masjid kauman pleret
Situs pleret yang sedang direnovasi
Sisa-sisa Masjid Kauman Pleret
Umpak dan sisa batu bata yang berhasil diekskavasi  


Atap yang mulai direnovasi


Selain itu ditemukan juga beberapa umpak, batu bata raksasa, tempat minum kuda, sumur gumuling, dan benda-benda lainnya. Semua peninggalan bersejarah itu dapat dilihat di musem Pleret.

Bagian depan museum Pleret 

Sambutan dari Bapak Susanto, mewakili Museum Pleret

Tempat di mana sumur gumuling berada berdasarkan penelitian merupakan bagian dari situs kedaton, dan di situs kedaton inilah keraton pleret dulunya berdiri.
Sumur Gumuling

Sumur gumuling dari dekat 

Situs Kedaton 

Sumur gumuling yang ditemukan di sana konon dahulu digunakan untuk mencuci pusaka keraton. Terdapat sebuah mitos yang mempercayai sumur ini tembus sampai ke laut selatan.

Aneka Umpak

Komboran Gajah


Sekitar pukul 16.00 kami selesai berkeliling museum Pleret. Dengan selesainya kunjungan kami ke museum Pleret, maka berakhir pula rangkaian kegiatan Jelajah Mataram Islam  di hari pertama. Kami segera kembali ke bus dan berangkat pulang. 

Cukup melelahkan juga perjalanan kami, tapi itu sebanding dengan tambahnya wawasan dan pengetahuan yang kami dapatkan. Dan tentu saja banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dengan mempelajari dan mengetahui sejarah masa lalu. Seperti Bung Karno pernah bilang, "Jangan sekali-sekali melupakan sejarah." 


6 komentar:

  1. Catatan perjalanannya lengkap sekali mbak..
    Salam kenal dari peserta co card kuning.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi..iya..buat bekal cerita ke anak cucu, hehe salam kenal juga ya..terima kasih sudah mampir...

      Hapus
  2. Balasan
    1. Panjang banget..hingga dibuat 3 tahap kunjungan..

      Hapus
  3. makasih sahringnya, banyak tahu jadinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak..semoga bermanfaat. Terima kasih sudah mampir..

      Hapus