Selasa, 04 April 2017

Belajar Hidroponik dan menikmati Oseng Lompong di Omah Kecebong

Hai moms...
Apa kabar, semoga selalu dalam kondisi prima yaa...
Wah, nggak terasa, tahun 2017 sudah memasuki bulan keempat...dan belum satupun tulisan yang pernah saya buat di tahun 2017 ini..ckckck...memang benar, menulis harus dipaksa..

Baiklah..tulisan pertama saya di tahun 2017 ini akan saya awali dengan cerita tentang guest house dan resto yang lagi hits di kota Jogja yakni omah kecebong. Sebuah tempat makan dan guest house yang membawa konsep back to nature.

Ini adalah kali kedua saya ke omah kecebong. Dulu pertama kali nemu omah kecebong ini tidak sengaja, ketika jalan-jalan berkeliling desa Ketingan untuk melihat kawanan burung kuntul yang ada di desa yang memang dikenal sebagai habitat burung kuntul tersebut.

Berbeda dengan saat pertama kali saya ke sini sekitar 1 tahun yang lalu, omah kecebong telah banyak berbenah. Bagian belakang dan samping yang dulunya masih berupa hamparan rumput hijau bekas areal persawahan telah diubah menjadi saung dan gubug-gubug tempat makan. Berbagai spot bagus yang khusus dibuat untuk tempat para pengunjung berfoto telah tersedia juga...ini membuat omah kecebong semakin terlihat cantik dan asri.
Salah satu view di Omah Kecebong (doc pri)

Selain makanan yang tambah beragam, omah kecebong juga memiliki berbagai program gathering yang ditawarkan. Mulai dari familly gathering, outbond dan AMT untuk sekolah / korporasi, sampai pelatihan hidroponik bagi komunitas.


Nah, dikunjungan yang kedua ini saya ikut program pelatihan hidroponik bersama komunitas kuliner Langsung Enak Jogja.

Fasilitas yang didapatkan dari pelatihan ini adalah :
- teori dan praktik hidroponik
- hand on produk
- nutrisi untuk tanaman dan benih sayuran
- wellcome drink (es beras kencur) yang disajikan dalam cangkir-cangkir alumunium
- makan siang dengan menu ndeso (nasi putih, sayur lodeh, oseng lompong, ayam goreng kremes, kerupuk, teh panas)
- foto-foto dan keliling omah kecebong dengan didampingi petugas dari omah kecebong.

Dengan biaya 100rb rupiah dan durasi acara sekitar 3 jam (termasuk foto, pelatihan dan praktik hidroponik, serta makan siang).

Bagi yang tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan cara tanam hidroponik, selain pelatihan omah kecebong juga menyediakan berbagai pernak-pernik yang berhubungan dengan hidroponik, mulai dari media, nutrisi yang dibutuhkan tanaman, sampai benih tanaman sayur atau buah juga tersedia. Lengkap sekali pokoknya.

Pukul 10.30 WIB acara pelatihan dimulai, diawali dengan perkenalan dan sessi foto-foto. Kami diajak berkeliling omah kecebong, diperlihatkan kamar-kamar yang ada di sana sambil berfoto bersama. Sekitar 30 menit acara berlangsung. Setelah puas berkeliling dan berfoto kami kembali ke joglo yang menjadi tempat berlangsungnya acara dan mulai mengikuti pelatihan tentang hidroponik.
Omah Gladak, salah satu kamar yang ada di Omah Kecebong
Spot di Omah Kecebong

Areal persawahan yang ada di Omah Kecebong

Jembatan Bambu

Dalam pelatihan itu kami dijelaskan mengenai untung ruginya bercocok tanam hidroponik dibandingkan cara bertanam konvensional.
Kami juga praktik bertanam hidroponik dengan cara yang sederhana yakni dengan media air statis (sistem wick) dengan memanfaatkan botol bekas aqua sebagai tempat dan menggunakan rockwool sebagai media. Caranya cukup mudah, botol bekas aqua kita potong pas di bagian  tengah. Kemudian potongan botol bagian atas kita balik dan kita letakkan di potongan botol bagian bawah sedemikian rupa. (Lihat gambar).

Hidroponik sistem wick ( sumber : kebunhidro.com)

Kemudian botol diisi dengan nutrisi secukupnya, kemudian benih sayur yang sudah kita semai di rockwool yang berumur kurang lebih 10 hari kita ambil dan kita.letakkan di bagian mulut botol yamg sudah kita letakkan terbalik. Agar nutrisi untuk bibit tanaman tercukupi,diletakkan semacam sumbu yang menghubungkan antara air yang terdapat di bagian bawah botol dengan bibit tanaman yang tumbuh di media rockwool. Untuk selanjutnya perawatan dilakukan dengan penambahan nutrisi tanaman dengan secara berkala mengganti air yang ada di botol, dengan cairan nutrisi baru.

Oh ya, hampir lupa, untuk dapat bertanam hidroponik, kita terlebih dahulu harus menyiapkan bibitnya, melalui proses pembibitan, caranya mula-mula biji tanaman kita masukkan ke dalam air, fungsinya untuk mengetahui bibit yang yang masih bagus dan yang tidak. Bibit yang bagus tenggelam di air sementara yang jelek mengambang. Bibit yang mengambang kita buang, sementara yang tenggelam kita ambil dan kita semai di rockwool yang kita letakkan di atas nampan yang diberi air. Rockwooll dilobangi dengan tusuk gigi dan benih diletakkan di dalamnya. Untuk selanjutnya nampan ditutup dengan plastik hitam sekitar 2 hari (tergantung jenis tanaman) sambil menunggu benih pecah dan tumbuh. Setelah benih pecah, plastik penutup dibuka untuk memberikan kesempatan benih tumbuh dengan baik. Letakkan nampan di tempat terbuka, dan teduh, namun masih memperoleh cahaya matahari untuk mencegah tanaman mengalami etiolasi.

Bagaimana? Cukup mudah dan sederhana bukan?

Sangat menyenangkan mengikuti kegiatan di omah kecebong. Suasana yang teduh dan hijau menjadi daya tarik utamanya. Dibandingkan saat pertama kali saya dulu datang ke sini, omah kecebong memang terlihat lebih ramai. Sangat cocok acara outing baik untuk keluarga atau korporasi. Terdapat juga areal tempat kita bisa mencoba permainan egrang. Yakni berjalan di atas 2 buah tongkat dari bambu yang diberi pijakan untuk kaki. Susah lho permainan ini, perlu keseimbangan badan dan yang pasti keberanian untuk mencobanya.

Menu yang disajikan juga bervariasi. Yang khas di sini adalah oseng dan kripik lompong. Oseng lompongnya tidak gatal, dimasak bersama cabe merah, bawang merah, dan bawang putih. Sangat enak dinikmati dengan nasi hangat, dengan lauk ayam, sambal, dan kerupuk dan secangkir teh manis hangat. Keripik lompong yang dulu sewaktu saya pertama kali datang ke sini disajikan sebagai welcome snack, sekarang dikemas kecil-kecil dan dijual dengan harga Rp. 10.000,- per bungkus. Kriuk dan gurih rasanya.

Menu.di omah kecebong

Penampakan oseng lompong dari dekat


Di Omah Kecebong, kita juga bisa menyewa pedati untuk berkeliling mengitari desa sekitar omah kecebong. Biaya per orang sekitar Rp.50.000,- rupiah/orang dengan minimal jumlah peserta 6 orang per pedati.

Seru bukan? Tertarik juga? monggo datang ke Omah Kecebong, jangan lupa untuk mencoba juga oseng lompong...

BACA JUGA :
Wisata Desa Ketingan
Menikmati Keripik Lompong Omah Kecebong

2 komentar:

  1. Namanya unik ya Mbak, omah kecebong. Moga kapan2 bis amampir sana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi..iya mb...mgkn karena daerah itu termasuk wilayah yang namanya cebongan..jd biar mirip2 gitu namanya terus kecebong...:) siip mbak, mampirlah..tanggung seneng dan ga bosan...;)

      Hapus