Jumat, 04 November 2016

Nikmatnya Suwir Tongkol Rica-Rica, Olahan Sederhana Penggugah Selera

postimage

Negara kita adalah negara bahari, tetapi sayangnya tingkat konsumsi ikan di masyarakat masih tergolong rendah. Padahal ikan memiliki kandungan gizi yang tinggi, dan harganya pun lebih murah dibandingkan harga daging merah. 

Alasan kenapa masyarakat Indonesia tidak terlalu gemar makan ikan memang belum ada penelitian pasti, tetapi berdasar pengalaman saya sewaktu kecil, saya dulu kurang suka makan ikan karena cara memasaknya yang monoton, cuma digoreng atau dibakar saja. Baunya juga amis, belum lagi adanya duri di sela-sela daging ikan yang membuat sedikit repot ketika memakannya. Selain itu, saya pernah alergi ketika mengkonsumsi sejenis ikan kecil-kecil yang kalau tidak salah namanya impun. 

Tetapi setelah saya dewasa, pandangan saya terhadap ikan menjadi berbeda. Apalagi setelah saya menghadiri pameran produk hasil olahan ikan yang pernah digelar di kota Jogja beberapa bulan yang lalu. Banyak sekali produk yang bisa dibuat dari ikan dan produk laut lainnya. Salah satunya tahu bakso tuna yang sangat disukai anak saya. Saya menjadi sangat mencintai berbagai olahan ikan. Bahkan lebih memilih ikan dibanding ayam atau daging merah, salah satunya karena pertimbangan kesehatan, yang berdasar penelitian diperoleh kesimpulan ikan lebih aman bagi kesehatan tubuh, terutama untuk organ jantung. 

Ikan akan menjadi hidangan yang istimewa jika kita tahu cara mengolahnya. Dan ikan ini bisa diolah menjadi aneka masakan baik kering, maupun berkuah, atau dibuat menjadi produk frozen food, seperti bakso, nugget, kaki naga, dan lain-lain. Bau amis dari ikan, bisa dinetralisir dengan pemberian jeruk nipis sebelum proses pengolahan dilakukan. Selain itu, bumbu-bumbu untuk membuat hidangan dari ikan, hendaknya menggunakan berbagai jenis rempah yang dapat menghilangkan bau amisnya. 

Salah satu resep olahan ikan yang saya sangat suka karena praktis dan sedap adalah suwir tongkol rica-rica. Ada juga yang menyebutnya tongkol mercon. Mungkin disebut mercon karena penambahan cabai yang super banyak, sehingga rasanya nampol di mulut, serasa seperti ledakan mercon. Sumpah...rasanya sedap banget, apalagi dinikmati bersama nasi panas, bakal nambah terus pokoknya. Dijadikan teman untuk makan roti tawar juga enak..dijodohin sama ubi rebus juga yummy...

Resep ini saya dapat dari cookpad, olahan dari Mbak Nisa Annisa Nurfairuza yang bisa di cek di sini. Saya googling karena penasaran dengan rasa ikan tongkol mercon yang pernah berseliweran di beranda facebook, dan ingin mencoba bikin sendiri. Penasaran juga? Berikut saya tuliskan resepnya..

Resep suwir tongkol rica-rica

Bahan yang dibutuhkan :
250 gram pindang tongkol
4 siung bawang putih
6 butir bawang merah
10 buah cabe merah keriting
6 buah cabe rawit merah pedas, boleh ditambah tergantung selera
10 lembar daun jeruk purut
3 batang serai
1 sdt garam
1 sdt gula
royco ayam secukupnya (saya skip)
minyak untuk menggoreng

Cara membuat :
  1. Ikan tongkol dicuci dan dihilangkan duri-durinya, kemudian dagingnya disuwir-suwir dan dimasukkan ke minyak dingin, baru dimasak menggunakan api sedang. Goreng ikan sampai kering, kemudian tiriskan.
  2. Iris tipis semua bumbu(bawang merah, bawang putih, cabe, batang.serai, daun jeruk).
  3. Masukkan semua bumbu ke dalam minyak dan aduk sampai matang. Setelah bumbu matang, masukkan tongkolnya. Tambahkan gula, garam, dan royco. Test rasa, diamkan sebentar biar bumbu meresap dan wangi.
  4. Siap disajikan dan dinikmati bersama nasi panas.
Suwir tongkol rica-rica ala saya (dok.pri)

Gampang kan?? Anak saya juga suka lho..cuma kalau buat anak, biasanya cabenya 1, itu juga isinya saya buang, pedasnya sekedar untuk rasa-rasa saja. Biasanya anak saya memakannya bersama nasi yang dikepal-kepal dan Suwir tongkolnya tersembunyi di dalam nasinya...jadi semacam onigiri KW. Kandungan protein dari ikan tongkol juga tinggi, sehingga bagus untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Setiap 100 gram ikan tongkol, memiliki kandungan energi 117 kkal, protein 23,2 gr, dan lemak 2,7 gr.

Saya memang selalu mengupayakan minimal seminggu 2 kali memasukkan masakan olahan laut ke dalam menu makan keluarga, ceritanya saya ingin ikut mendukung Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) yang dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi ikan.

Oh ya, bicara tentang produk olahan laut saya jadi ingat, beberapa waktu yang lalu saya mendapat kiriman sambal roa dari teman. Ada 3 level pedas yang dikirim, dari yang tidak pedas, sampai sangat pedas. Dan menurut saya, semakin pedas rasanya semakin nikmat.

Roa adalah nama sejenis ikan terbang yang banyak ditemui di perairan laut Utara Pulau Sulawesi. Salah satu olahan yang terkenal dari ikan roa adalah sambal roa, yang merupakan salah satu oleh-oleh khas Manado yang banyak digemari. Sayapun jatuh cinta dengan cita rasanya. Tekstur ikan roa asap yang dihaluskan,bercampur dengan cabe, dan bumbu rempah lain yang digiling halus,  menimbulkan sensasi rasa gurih lezat yang khas. Jadi ingin mencicipi ikan roa langsung di daerah asalnya...

Manado adalah ibu kota dari Sulawesi Utara. Terletak di Teluk Manado, dan merupakan kota pesisir yang berbukit. Taman laut Bunaken, merupakan pesona wisata terkenal yang ada di sana. Dari sisi kuliner, karena merupakan daerah pantai yang mata pencaharian masyarakatnya adalah nelayan, sudah pasti makanan di daerah Manado banyak yang berbahan baku ikan. Khas dari masakan Manado adalah pedas, dengan bumbu berempah yang kuat. Salah satu contohnya adalah woku ikan. Selain itu, makanan khas Manado yang terkenal lainnya adalah bubur tinotuan. Yakni bubur nasi yang diberi aneka sayuran seperti labu, bayam, kemangi, ubi jalar dan lain-lainnya. Sebagai pelengkap dihidangkan pula sambal dabu-dabu dan ikan asin sebagai taburan. Konon, masakan bubur tinotuan ini dulunya berawal karena kondisi susah dari masyarakat setempat akibat penjajahan Belanda. Sehingga untuk berhemat, mereka memasak nasi menjadi bubur agar bisa dikonsumsi untuk seluruh anggota keluarga.

Sepertinya unik sekali kota ini...selain bisa berwisata alam, wisata sejarah dan wisata kulinernyapun menarik untuk dinikmati. Apalagi saya termasuk tipe petualang rasa, asal hidangan itu halal dan tidak berbahaya untuk tubuh, dengan senang hati saya akan mencobanya. Saya berprinsip, belum lengkap kita berwisata ke suatu daerah sebelum mencicipi kuliner khasnya. Semoga suatu hari nanti keinginan berwisata sambil kulineran di kota Manado ini dapat terlaksana...

"Jelajah Gizi, Jelajah Gizi Minahasa, Sarihusada, Nutrisi Untuk Bangsa"





10 komentar:

  1. Wah, jadi pingin langsung eksekusi resepnya Mbak sapti :)
    Sukses lombanya ya Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi...tukang masak amatir ini mb...bisanya yang gampang2...aamiin..doa yang sama buat mb wahyu ya...

      Hapus
  2. Balasan
    1. Iya mb...mudah dan sederhana, cocok untuk yang nggak pinter masak seperti saya...he3

      Hapus
  3. wah aku suka banget ikan tongkol dan resepnya mudah ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak..mudah dan murah..terima kasih sudah mampir...

      Hapus
  4. Oh, gitu cara bikin tongkol rica-rica. Saya masak seringnya intuitif banget, kalo yang ini harus dicoba, anak-anak pasti suka, cuma cabenya kurangin dikit kali ya biar ga pedes. Tengkyuuuh :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siip mb..pokoknya ini resep anti gagal..he3...

      Hapus
  5. Saya suka banget sama tongkol, jadi pengen nyoba resep ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan mb...gampang banget lagi..hihi.., terima kasih sudah mampir...

      Hapus