Kamis, 24 November 2016

Honje Resto

Hai moms..

Rabu sore kemarin, cuaca Jogja lumayan cerah, tidak diguyur hujan seperti biasanya. Sepertinya semesta ikut mendukung rencana pertemuan saya dengan seorang kawan SMA yang kebetulan baru ada tugas di Jogja dan ingin kumpul-kumpul dengan kami-kami yang masih stay di Jogja. Pertemuan seharusnya dilaksanakan hari Selasa tetapi tertunda karena cuaca.

Bagi saya, kopdar ini semacam hadiah kecil yang diberikan Tuhan kepada saya karena beberapa hal bisa selesai sekaligus. Nengokin teman yang baru punya baby, kumpul nyambung silaturahmi dan yang pasti mencicipi hidangan kegemaran, yakni aneka olahan dari bunga kecombrang aka honje di tempat yang lumayan kece yakni Honje Resto.

Sudah lama saya ingin mencicipi hidangan kecombrang ala Honje Resto setelah sebelumnya sudah pernah mencoba nikmatnya olahan kecombrang di Mak Combrang. Sayangnya suami tidak terlalu suka dengan aroma kecombrang. Sehingga keinginan untuk ke Honje resto ditunda untuk waktu yang tidak ditentukan, he..he..he....

Restoran bernuansa putih ini hadir di kota Jogja sekitar tahun 2015 dan menjadi satu dengan showroom tas merk Dowa. Menempati bangunan tempo dulu, restoran ini menawarkan suasana makan yang asyik, perpaduan antara menu makanan yang unik dan tempat makan dengan desain interior yang apik yang cocok untuk berfoto. Terletak di sebelah barat selatan tugu Jogja, tepatnya di Jalan Margo Utomo 125, restoran ini juga menawarkan view berlatar belakang tugu Jogja yang menawan.
Latar belakang tugu jogja yang menawan

Sekitar pukul 19.30 WIB saya sampai di sana. Menapaki tangga menuju ke restonya. Yang menonjol dari interior bagian dalam resto adalah ubin lantai yang warna-warni dan hiasan bunga kecombrang yang terdapat di setiap meja. Bunga kecombrang yang punya nama ilmiah Etlingera elatior adalah sejenis tumbuhan rempah dan merupakan tumbuhan tahunan berbentuk terna yang bunga, buah, serta bijinya dimanfaatkan sebagai bahan sayuran. Nama lainnya adalah kincung (Medan), kincuang dan sambuang (Minangkabau) serta siantan (Malaya). Orang Thai menyebutnya daalaa. Di Bali disebut kecicang sedangkan batang mudanya disebut bongkot dan keduanya bisa dipakai sambal matah (wikipedia). Ketertarikan dan kecintaan saya terhadap kecombrang sudah pernah saya ceritakan di sini. Di Jogja bunga ini susah sekali ditemui.

Setelah ngobrol dan berbasa-basi sebentar, tiba saatnya kami memilih menu untuk bersantap. Saya sendiri memilih salad honje, nasi campur honje dan wedang sereh. Teman saya yang lain ada yang memilih nasi goreng honje, fish chip honje, salad tuna honje, sup iga dengan minuman ice coffee latte dan ice coffee hazelnut. Sedang untuk hidangan pembuka, kami memilih churos dan tahu cabai garam. Agak lama menunggu menu dihidangkan. Dan sebenarnya ini waktu yang cocok untuk eksplor ruangan di honje resto. Tetapi karena saya lagi malas gerak, saya hanya jepret-jepret sekenanya.

Suasana cozy honje resto (doc pri)
Bunga honje, menjadi pajangan di setiap meja (doc pri)

Setelah menunggu selama beberapa waktu, akhirnya pesananpun datang.
# Untuk wedang sereh, disajikan dalam teko dan cangkir kecil dilengkapi dengan gula batu dan irisan jeruk nipis. Rasa manisnya pas, tambahan perasan jeruk nipis di dalamnya memberikan efek rasa segar dan hangat. Sangat cocok diminum di malam yang dinginnya mulai terasa.
Wedang sereh (doc instagram @honjeresto)

# Setelah itu saya coba mencicipi salad honjenya.
Salad hinje (doc instagram @honjeresto)

Tadinya sempat mengira kalau isinya bunga honje yang diiris halus dan diberi dressing olive oil dan campuran kacang yang pernah saya nikmati rasanya di vietnam dulu. Tetapi ternyata yang ini berbeda. Salad honje ini isinya campuran buah dan sayur yang dipotong-potong dan diberi taburan kacang almond. Honjenya sendiri tidak menjadi bahan utama dari saladnya. Hanya dressingnya yang menggunakan campuran olive oil dan syrup honje berasa manis berwarna merah. Secara rasa menurut saya monoton. Hanya manis saja. Sensasinya berbeda jauh dengan salad honje yang pernah saya coba dulu yang ada cita rasa asam dari honje, dan gurih lezat dari kacang dan dressingnya.

# Untuk menu pembuka berupa tahu cabe garam, rasanya enak.
Tahu cabe garam (doc instagram @honjeresto)

Pedas dan gurih. Taburan irisan cabai hijau dan merah di atasnya sangat menggugah selera untuk dicoba. Serasa tidak bisa berhenti menikmatinya.

# Churosnya juga lumayan lezat. Tidak kemanisan dan empuk.
Churos (doc instagram @honjeresto)

Dihidangkan dengan taburan gula halus bersama saus coklat dan es krim vanila.

# Untuk nasi campur honje, dari penampilannya terlihat menggoda.
Nasi campur honje (doc instagram @honjeresto)

Banyak sekali lauknya. Ada sate lilit, oseng daging, ayam suwir honje, telur ceplok, kering teri, sambal, ca brokoli, dan kerupuk. Penuh sekali piringnya. Nasinya pulen dan wangi. Untuk ayam suwir honje,menurut saya kurang menonjol rasa dan aroma honjenya. Sate lilitnya empuk, lezat sekali. Apalagi dicocol saus tartar (saya nyolek punya teman yang order chip fish). Untuk dagingnya menurut saya rasanya terlalu manis. Demikian juga dengan kering terinya. Untuk penyuka cita rasa honje, unsur honje dalam hidangan ini kurang nendang. Mungkin sebaiknya menu yang dipilih nasi ayam honje saja. Sehingga rasa honje tidak bercampur dengan cita rasa hidangan lain. Secara keseluruhan nasi campur honje lezat, poin 7,5 lah..buktinya saya habis...hanya menyisakan sedikit remahan lauk dan sambal. Dan hasilnya saya pun kekenyangan..
Sisa-sisa hidangan yang tersaji (doc pri)

Obral-obrol (doc pri)

Demikian sekilas review saya tentang pengalaman makan malam di honje resto. Untuk kisaran harganya,ya lumayan.. Tetapi worth it lah untuk suasana makan yang ditawarkan.

Untuk menu pembuka sekitar 40rban
Aneka Minuman mulai 20rban
Menu utama mulai 50rban.

Penasaran juga? Yuk mampir...
* maaf untuk foto hidangan saya ambil dari instagram @honjeresto, soalnya kemarin karena keburu kalap, hidangan langsung diserbu.tanpa didokumentasikan dulu..he..he..he..

Baca juga :
Bakso Halal di Jogja

13 komentar:

  1. Wah wah, setiap baca blog ke njuk eling yk hehehe. Mbak Sapti masih sering ketemuan sama Sukirah ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih...yang punya blog belum sempat ke mana2, jd reviewnya tentang Jogja terus, he3..iya, sering kontak.dg sukirah, tp cuma via bbm, blm pernah ketemuan..sekolah lagi dia..nggak tahu sdh selesai apa blm...

      Hapus
    2. Gpp ya, yk punya triliyunan cerita kok :) like it :)

      Hapus
    3. Iya..jogja ki never ending story...:)

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. hai mbaak,salam kenal. Aku sering lia cemilan Chuross tapi enggak tau rasanya kayak apeee..hehehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mb...salam kenal juga...churos itu seperti sus tapi digoreng..rasanya asin gurih gitu..kalau dicocol saus coklat jadi manis legit..enaak deh..he3..

      Hapus
  4. tahu nya sihhh yang bikin ngiler huhuhu btw, salam kenal mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mb..hidangan tahunya ini termasuk favorit...kalau sudah makan susah berhentinya :) siip mb..salam kenal juga...

      Hapus
  5. Restonya nyaman banget dan harg maanannya gak terlalu mahal ya mbk :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mb..nyaman..cocok.buat kongkow sama keluarga dan teman...

      Hapus
  6. Karena saya juga penikmat bunga honje tentunya akan suka sekali pas ke Jogja mampir ke Resto ini. Gimana rasanya ya Jika setiap hidangan memiliki sentuhan rasa bunga kecombrang. Nikmat pastinya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mb...nanti di sini bisa sekalian belanja-belanji tas rajutnya..bagus2 lho...tapi harganya juga baguus...he3...salam kenal mb..mksh sdh mampir...

      Hapus