Minggu, 23 Oktober 2016

Wayang Jogja Night Carnival, Pawai Budaya Jogja 2016

Sebagai puncak rangkaian acara HUT Jogja ke-260, pada tanggal 7 Oktober 2016 lalu diselenggarakan Pawai Budaya Jogja yang bertema Wayang Jogja Night Carnival. Dalam event ini sekitar 1500an personil turut meramaikan acara, yang berasal dari 14 kecamatan. Rute pawai mengambil start dari Jl Jendral Sudirman dan berakhir di tugu Jogja yang sekaligus sebagai tempat puncak acara berlangsung.


Event ini menjadi teramat menarik bagi saya karena salah satu peserta yang akan turut meramaikan acara tersebut adalah warga RW 10 Suryodiningratan para tetangga saya..., jadi saya amat menunggu-nunggu datangnya hari H. Yup..warga RW 10 Suryodiningratan, memperoleh kehormatan terpilih sebagai wakil dari kecamatan Mantrijeron.

Saya tahu betul bagaimana effort dari para warga untuk mempersiapkannya. Satu bulan sebelum pelaksanaan dengan penuh semangat kebersamaan dan gotong royong mereka membuat konsep tarian yang akan dibuat berikut merancang kostum dan pernak-perniknya. Semua bahu-membahu menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk ikut memperlancar acara.
Besar, kecil, tua, muda membaur jadi satu. Jumlah peserta yang berpartisipasi ikut menari sekitar 100 orang. Cukup banyak...

Persiapan pembuatan maskot "kupluk hanoman"

Yang sedang berlatih menari, semangat sekali..

Pada hari H, sesuai kesepakatan semua personil yang terlibat berkumpul di balai RW 10 lengkap dengan kostum yang mereka kenakan. Ada yang berpenampilan sebagai Dewi Shinta, kera-kera, hanoman, raksasa, dan tokoh-tokoh lainnya.

Hampir setiap malam mereka berlatih. Tokoh hanoman yang akhirnya dipilih sebagai tokoh sentral yang akan ditampilkan dalam pertunjukkan. Anoman dipilih karena merupakan gambaran tokoh yang memegang amanah dan melindungi yang lemah. 

Warga lain yang tidak ikut tampil turut mendukung dengan hadir berbondong-bondong di balai RW. Suasana jadi ramai dan meriah. Dua bus yang digunakan untuk membawa para peserta juga sudah siap. Akhirnya sekitar jam 16.00 mereka bergerak menuju titik kumpul yang berada di halaman restoran cepat saji Mc D berkumpul bersama peserta yang berasal dari kecamatan lainnya.

Foto-foto sebelum berangkat
Saya sendiri tidak terlibat secara langsung, maklum saya tidak bisa menari, dan suka grogi tampil di depan banyak orang, he..he..he.. namun saya bersemangat untuk melihat penampilan para wakil RW 10 ini.

Sekitar pukul 18.00 saya sekeluarga berangkat dari rumah, cuaca agak mendung. Tadinya agak ragu jadi berangkat atau tidak. Tapi akhirnya kami putuskan untuk berangkat. Kalaupun nanti ternyata turun hujan, kami akan langsung pulang.

Beberapa ruas jalan menuju tugu Jogja di tutup untuk pelaksanaan acara. Jadi dari rumah kami ambil jalur memutar lewat Jalan Magelang dan parkir di daerah pasar Kranggan. Sudah banyak ternyata yang datang. Dua layar besar disediakan bagi penonton yang hendak menyaksikan. Sewaktu sampai di sana, pas penampilan dari kecamatan Pathuk, daerah yang terkenal dengan bakpianya. Icon yang di bawa kecamatan pathuk adalah tokoh semar, yang diarak bersama gunungan bakpia dan naga liong, sebagai gambaran akulturasi yang terjadi antara masyarakat Jawa dan Tionghoa. Semarak sekali. Naga liong tampak meliuk-liuk apik diiringi para penari yang luwes sekali. Para penonton sangat terpesona. Tepuk tangan riuh terdengar membahana.

Penampilan dari kecamatan lain (foto : uun)
Penampilan dari kecamatan Mantrijeron tidak kalah serunya. Diawali dengan munculnya mobil pawai yang berhiaskan kupluk hanoman raksasa dan diikuti para penari yang berbaris rapi menuju panggung pertunjukkan. Musik dibunyikan, semua menari dengan apiknya. Penari edan-edanan, para kera, penari kipas, dan para raksasa serta tokoh Dewi Shinta, semua menari penuh totalitas sesuai dengan perannya. Tepuk tangan penonton tidak kalah riuhnya.

Penampilan Kecamatan Mantrijeron

Sungguh pekerjaan yang sulit bagi para juri untuk menentukan siapa yang akan jadi juaranya.  Tapi bagi kami warga RW 10 Suryodingratan,  Kecamatan Mantrijeronlah juaranya. Paling tidak juara di hati kami warganya yang telah diwakilinya.

Terima kasih dari kami untuk semua perjuangannya, semoga guyup senantiasa. Perayaan ulang tahun kota Jogja yang benar-benar istimewa..

11 komentar:

  1. Mbak, aku dulu kuliahnya di ugm ..kalaua ada event di alun2 suka main kesana..duuh kangen banget aku ama Yogya...Ini kota favorit suami..dia suka budaya Yogya daripada budaya aku :D ha ha...Kalau ke YGy meet up ya mbak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh ya?jurusan apa mb?aku dulu jg UGM...iya mb...jogja itu unik jadi ngangeni..siap...nanti kita kopdar kl mb dewi pas ke jogja...

      Hapus
  2. Wah, keren, ya. Pingin banget sesekali nonton. Kemarin di desaku juga ada karnaval nih, tapi belum sempet nulis liputannya :)
    Jadi kangen Yk uhukss... uhukss...

    BalasHapus
    Balasan
    1. He3..ho o jeng..ternyata seru lihat acara spt ini..aku lho baru pertama kali ini lihat..biasanya males uyuk2annya..eh, ternyata pas lihat kok bagus juga..he3..yuk..ke jogja...

      Hapus
  3. wah menonton wayang saja sudah seru. apalagi yang ditonton tetangga sendiri, pasti lebih dapat feelnya dan merasa dekat dengan tokohnya. acara begini ini mesti harus sering diadakan nih biar memberi suasana beda terhadap jiwa... :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi iya mb, salah satu alasan kenapa jd semangat nonton..suka sih pertunjukkan spt itu..cm kadang suka males mbayangin berjejal2 dengan pengunjung lain...

      Hapus
  4. Nonton pertunjukan seperti itu justru makin seru kalau ada yang dikenal ya Mbak.. ada rasa memilikinya, support jadi makin besar. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya,jd punya alasan...he3...trmksh sudah mampir...

      Hapus
  5. ingat jaman kecil dulu waktu di Jateng, masih sering ada pertunjukkan wayang dan yang nonton lumayan banyak, sekarang?
    thank

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau event pertunjukan terjadwal di gedung pertujukan ada, atau kalau ada peringatan ulang tahun instansi gitu jg suka digelar, cuma kalau yang ngadain masyarakat secara pribadi krn baru punya hajatan, sekarang sudah jarang...paling ada di desa-desa gitu. Terimakasih sudah mampir..

      Hapus