Sabtu, 15 Oktober 2016

Tebing Breksi Dulu dan Kini...

Selepas kesibukan selama seminggu ini, kami sekeluarga berencana jalan-jalan melepas penat. Nggak jauh -jauh sih tujuannya, hanya ke sebuah destinasi geowisata yang berlokasi di Desa Sambisari, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Lokasi tersebut berjarak kurang lebih 26 km dari rumah kami dan hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. 

Karena lokasi yang dituju tidak terlalu jauh, tidak banyak persiapan yang kami lakukan.  Kami hanya perlu bangun lebih awal agar bisa sampai lokasi paling tidak pukul 07.00 pagi, sehingga kami tidak perlu berpanas-panas di sana nanti. Karena yang kami tuju adalah tebing terbuka, tentu lebih enak dinikmati di suasana yang tidak terlalu terik, sama halnya seperti kalau kita ingin menikmati suasana pantai. 

Oh ya, sedikit informasi mengenai destinasi yang akan kami kunjungi. Namanya adalah Tebing Breksi, sebuah areal bekas penambangan batu kapur yang telah diubah menjadi destinasi geowisata yang apik, unik, dan eksotis. 

Pada awalnya, Tebing Breksi adalah sebuah bukit batu kapur yang sudah sejak tahun 1980-an biasa ditambang oleh warga sekitar sebagai sumber mata pencaharian. Bekas tambang berupa tebing-tebing dengan sisa pahatan yang khas menyisakan pemandangan unik tersendiri. Bauran warna coklat, hitam, dan putih tampak artistik dan eksotis. 

Sebuah penelitian tentang struktur batuan yang ada di tambang tersebut memberikan hasil yang mengejutkan, ternyata bebatuan di tebing tersebut merupakan endapan sisa abu vulkanik dari gunung api purba Nglanggeran yang ada di Gunung Kidul. Sebuah nilai historis vulkanologis yang  yang harus dilestarikan dan dijaga keberadaannya karena merupakan bagian dari geo heritage. Karena alasan itulah, maka penambangan bebatuan di tebing yang kemudian terkenal dengan sebutan Tebing Breksi tersebut dihentikan. Pemberian nama breksi mengacu kepada jenis struktur batuan yang ada di tebing ini. 

Penghentian penambangan tersebut tentu saja menimbulkan dampak sosiologis dan ekonomis bagi masyarakat di sekitarnya. Dan itulah kemudian yang menimbulkan ide dari masyarakat sekitar dengan mendapat dukungan pemerintah setempat, untuk mengubah tebing bekas penambangan itu menjadi objek geowisata yang menarik dan unik yang  kemudian diberi nama Taman Tebing Breksi yang selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan Tebing Breksi. 

Di lokasi tebing, dibangun pula sebuah panggung terbuka tempat diadakannya berbagai pertunjukan kesenian yang diadakan pada event-event tertentu. Panggung tersebut diberi nama Panggung Terbuka Tlatar Seneng yang peresmiannya dilakukan bersamaan dengan pembukaan Taman Tebing Breksi oleh Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X pada bulan Mei 2015 lalu.
Prasasti peresmian Tebing Breksi (doc pribadi)
Pertama kali saya memperoleh informasi tentang keberadaan dan keindahan Tebing Breksi adalah dari foto-foto yang banyak diupload di instagram. Sehingga membuat saya penasaran dan berencana mengajak keluarga mengunjunginya. 

Semula kami berencana berangkat piknik pukul 06.00 WIB dari rumah, tapi karena tiba-tiba ada sesuatu yang harus dilakukan akhirnya baru pukul 09.00 kami bisa berangkat.
Kami sengaja memilih jalur yang tidak terlalu banyak lampu merahnya.

Kondisi jalan menuju Tebing Breksi lumayan bagus, meskipun jalannya menanjak, tetapi jalan yang ada halus dan masih baru. Rupanya keberadaan destinasi ini membawa dampak positif dengan diperbaikinya infra struktur yang ada. Apalagi Tebing Breksi ini satu jalur dengan objek wisata Candi Ijo, yang letaknya kurang lebih 1 km dari Tebing Breksi. Candi ijo merupakan candi tertinggi di Jogja, yang juga cukup menawan untuk dinikmati. Sayang karena letaknya yang terisolir membuat keberadaannya sering dilupakan...

Sekitar pukul 10.00 WIB kami sampai di pintu masuk Tebing Breksi. Ternyata belum ada tarif resmi untuk masuk kawasan ini. Kami hanya diminta membayar uang parkir sebesar Rp. 5000,- untuk mobil dan Rp. 2000,- untuk motor, serta sumbangan seikhlasnya untuk biaya perawatan tebing.

Eksotis dan indah, itulah kesan pertama yang muncul ketika saya melihat Taman Tebing Breksi ini. Meskipun jujur waktu kedatangan kami yang terlalu siang lumayan mengurangi kenyamanan karena udara terasa panas menyengat.
Panggung terbuka Tlatar Seneng dengan latar belakang Tebing Breksi  (doc pribadi)
Di hadapan kami, hamparan tebing tinggi menjulang, kelihatan gagah sekali. Di sebelah depannya, terlihat panggung terbuka Tlatar Seneng yang berbentuk lingkaran dengan dikelilingi kursi-kursi duduk panjang dari batu yang ditata berderet melingkar. Dapat dibayangkan seandainya ada tontonan digelar di panggung itu, pasti terlihat megah sekali. Apalagi kalau acara dilaksanakan di malam hari, dengan ditingkahi tata cahaya yang keren, pasti suasana pentas semakin terasa istimewa. Paling tidak suasana itu pernah tergambar pada pentas musik dalam rangka Festival Kesenian Yogya (FKY) 2016 yang baru lalu, yang saya sempat lihat fotonya.

Suasana Panggung Masa Depan FKY 28 di Tebing Breksi
Sumber : www.piknikdong.com
Tebing breksi yang menjadi sentra utama dari destinasi geowisata ini terlihat masih berbenah, masih terlihat beberapa pekerja sibuk menyelesaikan proyeknya. Ukiran dan pahatan tampak terlihat di beberapa bagian sisi tebing. Relief bertipe lukisan primitif dari beberapa hewan dan manusia tampak terlihat di dinding tebing sebelah depan. Di sisi tebing sebelah kanan, terdapat tangga yang dipahat sebagai jalan utama menuju ke puncak tebing. Pada dinding tebing , di bagian yang diberi pahatan tangga tampak relief sederhana dari 2 tokoh wayang. Sementara ketika kita menapaki tangga menuju puncak tebing, terlihat relief indah yang dipahat di dinding yang menggambarkan pertempuran antara Buto Cakil dengan tokoh Arjuna, yang dimenangkan oleh Arjuna, yang masih dalam tahap penyempurnaan. Relief itu menggambarkan bahwa setiap kejahatan pasti akan kalah melawan kebenaran.
Beberapa view di tebing Breksi (doc pribadi)
Banyak spot di Tebing Breksi yang bagus untuk berfoto, termasuk pahatan tangga yang menjadi jalan utama menuju puncak tebing breksi, yang diberi nama Eskalator Jawa. Dengan ketinggian tebing yang berukuran sekitar 30 meter, menapaki tangganya seperti kita sedang melakukan olah raga jalan sehat, sehingga  demi kenyamanan, sebaiknya ketika ke sana kita mengenakan sepatu yang nyaman, kuat, dan tidak licin.Karena yang kita lalui adalah bebatuan alam yang licin dengan jalur menanjak. Pemakaian alas kaki yang tepat membuat kita lebih fleksibel ketika harus naik-turun atau melompat di bebatuan.

Eskalator Jawa, tangga menuju puncak tebing (doc pribadi)
Setiap sudut di tebing breksi bagus untuk berfoto, sungguh destinasi ini cocok buat yang suka berselfie dan wefie.
Relief pertarungan Buto Cakil dan Janoko (doc pribadi)
Sampai di puncak tebing. Suasana di atas tebing juga nyaman dan luas. Seperti sebuah dataran yang terhampar apik di sebuah ketinggian. Banyak pepohonan yang di tanam membuat suasana menjadi sejuk, meskipun di beberapa tempat masih terasa panas karena pohon yang ditanam baru mulai tumbuh. Namun semilir angin yang sesekali menerpa lumayan mengurangi hawa panas akibat teriknya matahari.

Suasana di puncak tebing (doc pribadi)

Pemandangan dari puncak Breksi (doc pribadi)
Pemandangan di puncak tebing memang sangat indah, seperti melihat lukisan alam. Dari atas kita bisa melihat pepohonan dibukit-bukit sekitar yang kelihatan menghijau, Candi Barong, Candi Prambanan, sangat jelas terlihat. Candi boko juga terlihat meskipun samar, indah sekali... Posisi tebing yang tinggi memungkinkan juga bagi kita jika ingin menikmati sunset atau sunrise dari puncak tebing.

Dari sini candi Prambanan dan candi Barong terlihat jelas (doc pribadi)
Sebagai tempat wisata, Tebing Breksi tergolong lengkap fasilitasnya. Terdapat mushola untuk beribadah, toilet, maupun pusat jajan tempat pengunjung makan dan minum sambil melepas lelah. Halaman parkir yang dimiliki juga luas.  

Melihat dinamika yang ada di Tebing Breksi, dimana pembangunan dan pembenahan yang masih terus dilakukan, tidak berlebihan kalau ke depannya prospek Tebing Breksi sebagai tujuan wisata semakin cerah. Saat inipun pengunjung yang datang lumayan banyak, semakin sore pengunjung semakin ramai, banyak yang ingin menikmatk suasana sore di sana. Yang terpenting adalah kesadaran dari pengelola maupun pengunjung untuk terus menjaga keasrian dan kebersihan Tebing Breksi. Semoga tempat sampah yang disediakan dapat difungsikan dengan baik. Demikian pula fasilitas umum seperti toilet dan mushola juga terjaga kebersihannya. Karena hal ini yang kadang luput dari perhatian kita semua. Lupa menjaga dan menghargai sesuatu yang sudah kita punya..

Bagi teman-teman yang penasaran ingin berkunjung ke sini juga, saya berikan petunjuk arahnya. Rutenya kalau dari Jogja adalah ke arah Jalan Solo, sampai ketemu Pasar Prambanan, kemudian belok ke kanan. Ikuti terus jalan sampai ketemu petunjuk jalan menuju ke Candi Ijo. Nanti di sepanjang jalan akan dijumpai baliho penunjuk jalan menuju Tebing Breksi, ikuti saja terus sampai nanti terlihat gapura masuk menuju Tebing Breksi di sisi kiri jalan.
Selamat berpiknik....


Referensi :
  1. Sejarah, Penyelamat Tebing Breksi Prambanan" (18 September 2015), www.jalanjogja.com
  2. Mimin Piknik, "Menakjubkannya Panggung Masa Depan FKY 28 di Tebing Breksi" (September 2016) www.piknikdong.com

14 komentar:

  1. bebatuan itu memang eksotis apalagi kl peninggalan sejarah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mb...meskipun untuk tebing breksi ini ada unsur campur tangan manusia dlm pembentukannya, tapi alam tetap berperan menghadirkan keunikan dari sisi yang beda. Salam kenal mb tira, terimakasih sudah mampir..

      Hapus
  2. Keren banget tempatnya saya malah baru tahu mbak, cakep buat foto prewed ya kayaknya hehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mb..bagus banget buat foto2..itu saja aku yang ga bisa gaya, tetep keliatan bagus kan viewnya..buat prewed jg keren..pokoknya unik, mampir saja mb kalau pas ke jogja...he3..terima kasih sudah mampir...

      Hapus
  3. Wow... ni masuk Jateng ya areanya? aku baru tahu Mbak. Belum pernah ke sana ik. Dari foto-fotonya keren banget. Semoga suatu saat bisa ke sana ya. #Penasaran akuh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini masuk DIY, sleman ini..ho o mampir jeng..apik kok..hihi..sekalian mampir candi-candi di sekitarnya...keren2...:)

      Hapus
  4. Folbek daku ya Mbak :D tengkyu...

    BalasHapus
  5. waaaa bagus yaaa,,, baru tau nih. Makasih infonya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. He3...iya mb...unik, murmer lagi..kalau ke Jogja disempatkan mampir mbak...btw mksh ya, dah berkunjung...

      Hapus
  6. Indaaah...Semoga bisa main ke sini tahun depan.:-) :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin..kabar2 mb..mana tahi bisa kopdar...he3..

      Hapus
  7. haiii.. mau informasinya donk kalau jalan kesitu naik motor, kondisi jalannya mendukung engga ya?? makasihh

    BalasHapus
  8. Kondisi jalannya.bagus mb..halus..cuma memang menanjak...asal.kondisi motor fit, ayuk saja...:) selamat berpiknik yaa...jangan lupa abadikan kenangan di sana dengan berfoto yang banyak. Ada berbagai spot menarik di sana yang sayang kl.dilewatkan...

    BalasHapus