Selasa, 21 Juni 2016

Sensasi Pedas Nikmat di Kedai Nyah Tan Li

Ada undangan buka bersama dari Kedai Nyah Tan Li untuk Komunitas Blogger Jogja yang di share lewat grup di facebook. Acaranya sendiri dilaksanakan hari Rabu, 15 Juni 2016 pukul 16.00 wib. Kebetulan undangan kali ini tanpa seleksi dan peserta dibatasi maksimal 30 orang, jadi siapa cepat dia yang dapat. Dan karena saya cepat, makanya saya dapat..he..he..

Ini adalah kali pertama saya datang di acara Komunitas Blogger Jogja (KBJ), kebetulan saya termasuk newbe di grup ini, jadi saya masih malu-malu, karena ketemu orang-orang baru..

Kedai Nyah Tan Li berlokasi di desa wisata Kasongan, Bantul. Untuk menjangkaunya, anda cukup menyusuri Jalan Bantul ke arah selatan, sampai ketemu lampu merah di pertigaan  menuju desa Kasongan, kemudian belok ke arah barat kurang lebih 1 km, nanti baliho kedai Nyah Tan Li akan tampak di sebelah kiri jalan, dengan backgroud warna merah menyala.
Baliho Nyah Tan Li
Kedai ini letaknya bersebelahan dengan showroom Timboel Keramik, karena memang terdapat hubungan antara Timboel Keramik dengan Kedai Nyah Tan Li, keduanya ownernya sama, Bapak Timboel Raharjo.

Bagi pecinta seni patung dan gerabah pasti sudah tidak asing dengan nama Timboel Raharjo, seorang dosen ISI dan pengusaha keramik yang sukses, dan terkenal sebagai doktor gerabah. Usaha gerabah yang dirintisnya bersama sang istri Ani Faiqah berkembang dengan pesat, dimana 80% dari produknya ditujukan untuk eksport sedang sisanya untuk konsumen dalam negeri.

Banner acara
Seiring dengan perkembangan usahanya, dan banyaknya klien yang datang ke showroom, menjadikan hadirnya sebuah tempat untuk bersantai dan mengobrol dengan para tamu menjadi sebuah kebutuhan. Apalagi lokasi showroom Timboel Keramik yang jauh dari pusat kota menjadikan Pak Timboel dan keluarga kesulitan ketika hendak menjamu para tamunya. Itulah kemudian yang memunculan ide untuk mengubah taman keluarga di samping showroom menjadi sebuah cafe tempat para tamu mengobrol sembari menikmati kopi.

Dalam perkembangannya, karena dirasa mendapat sambutan positif dari para tamu dan masyarakat sekitar, akhirnya cafe tersebut dikembangkan menjadi sebuah tempat makan yang diberi nama Kedai Nyah Tan Li.

Pada awalnya saya mengira nama Tan Li adalah nama wanita keturunan cina yang dipilih karena ada sejarah yang melingkupinya. Sehingga yang tergambar dibenak saya,  kedai tersebut menyediakan hidangan berupa menu-menu oriental. Tapi ternyata dugaan saya salah, Tan Li yang dimaksud merupakan kepanjangan dari "wetan kali", karena memang lokasi dari kedai ini berada di timur (wetan) Sungai (kali) Bedog. Hidangan yang tersedia adalah hidangan rumahan, yang beberapa menu masakannya merupakan favorit keluarga pak Timboel sendiri. Jadi Nyah Tan Li ini, merujuk kepada istri Pak Timboel, yakni Ibu Ani Faiqah.
Beberapa menu unggulan di kedai ini menggunakan bumbu khas bunga kecombrang. Aneka menu pilihan yang tersedia diantaranya nasi pedas, nasi goreng kecombrang, nasi campur, nasi kuning, mie goreng, brongkos, mie godog, dan lain-lain. Sedang minuman yang ditawarkan ada aneka jus, wedang jeruk,  teh rempah, kopi bali, dan cola.

Papan menu
Ada juga kudapan/camilan seperti pisang goreng, mendoan, singkong goreng maupun hidangan penutup berupa salad rujak.

Suasana di Nyah Tanli
Saking banyaknya hidangan yang ditawarkan, tidak semua bisa saya cicipi, apalagi pada saat puasa, perut cepat terasa kenyang. Saat itu saya memilih menu nasi pedas, dan teh rempah sebagai minumnya. Untuk takjil berbuka, telah  tersedia kolak, pisang goreng dan mendoan yang dilengkapi sambal yang menggugah selera.
Pisang goreng, dan kemasan take away nasi pedas
Review tentang nasi pedas, menu ini saya pilih karena ada lauk suwiran ayam kecombrang di dalamnya. Oh ya, perlu saya sampaikan, bahwa saya ini penggemar masakan kecombrang, kenapa bisa begitu, ceritanya bisa dilihat di sini. Kembali ke nasi pedas, jadi ini adalah semacam nasi rames, yang isinya nasi putih lengkap dengan lauknya, yang terdiri dari kering tempe, bihun goreng, dan ayam suir pedas kecombrang. Penyajiannya dibentuk seperti tumpeng, dengan aneka lauk diletakkan dipuncaknya, dengan urutan kering tempe, bihun goreng, dan ayam suir kecombrang di bagian paling atas.

Penyajian nasi pedas
Soal rasa, lumayan mantab. Pedasnya pas dengan lidah saya, kalau ada kurangnya itu adalah kurang banyak bunga kecombrang yang ada di ayam suirnya, dan kalau boleh usul, mungkin bisa disediakan menu nasi plus ayam suir kecombrang yang ditambah kerupuk goreng, karena untuk saya yang tidak terlalu suka manis, kering tempe dan bihunnya agak sedikit mengganggu rasa gurih nikmat ayam suir kecombrangnya. Atau bisa juga disediakan menu sambal kecombrang yang bisa direquest khususnya bagi pecinta kecombrang seperti saya.

Untuk teh rempah, sangat cocok dinikmati di cuaca dingin, terasa hangat dan segar di badan. Teh ini sepertinya dicampur dengan aneka rempah seperti jahe dan kapulaga.

Mengenai suasana,  kedai Nyah Tan Li lumayan nyaman. Letaknya di pinggir sungai bedog menjadikan kedai ini cocok untuk penggemar pedas yang ingin menikmati sensasi pedas dalam suasana yang adem, dengan harga yang bikin ayem.
Kisaran harga di nyah Tan Li cukup terjangkau untuk :
# makanan : dibandrol mulai 10 rb sampai 18rb
# minuman : mulai 6rb sampai 10rb
# kudapan : 9rb -10rb

Oh ya, ketika ke sini, luangkan juga untuk melihat koleksi patung dan keramik di showroom Timboel Keramik yang ada di samping kedai Nyah Tan Li ya...unik-unik lho...


Salah satu sudut di showroom Timboel Keramik

=================================
Alamat kedai Nyah Tan Li :
Desa wisata Kasongan, Jl RM Sapto Hoedoyo (sebelah Timboel Gallery) Bangunjiwo Bantul, HP 087734191000
Website :www.nyahtanli.com

2 komentar:

  1. sayang kemarin pas makan nasi pedasnya nggak jadi malah milih nasi brongkos

    BalasHapus
  2. He3..besok ke sana lagi...makasih sdh berkunjung...

    BalasHapus