Senin, 13 November 2017

Bersahabat dengan Nyamuk Aedes aegypti Ber-wolbachia yang Anti DBD

Sebagai negara beriklim tropis Indonesia rentan dengan penyakit yang ditularkan oleh vektor. Vektor adalah pembawa atau perantara penyakit. Kebanyakan dari vektor ini adalah serangga (insekta), utamanya  nyamuk. 

Banyak penyakit yang ditularkan hewan ini, mulai dari malaria, kaki gajah (filiriasis), yellow fever (demam kuning), zika, dan demam berdarah dengue (DBD). 

Di Jogja, yang perlu diwaspadai adalah Demam Berdarah Dengue (DBD), karena Jogja ada di peringkat ke-5 kota-kota dengan resiko penularan DBD. Kondisi ini harus segera di tangani, karena DBD merupakan penyakit yang berbahaya yang bisa mengakibatkan penderitanya meninggal dunia. 

Selain itu Jogja merupakan kota yang menjadikan sektor pariwisata sebagai pendapatan daerah yang utama. Sehingga adanya ancaman DBD ini bila tidak segera diupayakan cara pencegahan yang tepat bisa berpengaruh ke minat wisatawan untuk berkunjung ke Jogja. 

Tentang Demam Berdarah Dengue (DBD)
DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina.

Gejala DBD diantaranya adalah demam tinggi mendadak dengan kisaran suhu mencapai 39-40°C, nyeri kepala yang hebat yang diikuti dengan nyeri otot/sendi, mual, dan kadang disertai timbulnya bintik-bintik merah. 

Keparahan biasanya terjadi karena penderita tidak segera mendapatkan penanganan yang memadai. Waspadai penurunan demam setelah hari ketiga. Karena hal tersebut adalah fase kritisnya. 

Siklus demam pada DBD menyerupai pelana kuda. Sehingga perlu segera periksa ke dokter apabila demam lebih dari 48 jam berturut-turut, dengan disertai gejala-gejala di atas. 

Nyamuk Aedes aegypti memiliki perilaku yang spesifik. Diantaranya adalah tidak menyukai bau wangi, dan berkembang biak di air bersih yang tergenang (bak mandi, tandon air yang terbuka, sumur, tempat minum burung, kulkas, dll). 

Selain itu kemampuan reproduksi nyamuk ini cukup cepat, dari telur sampai menjadi nyamuk hanya butuh waktu 7-14 hari. Kemampuan bertahan hidup dan adaptasi dari nyamuk inipun cukup tinggi, telurnya mampu bertahan hingga berbulan-bulan, dan akan langsung menjadi nyamuk begitu terkena air. Itulah sebabnya, di musim penghujan, ancaman penularan DBD meningkat. 

Nyamuk Aedes aegypti betina makanan utamanya adalah darah manusia. Sehingga dia memiliki pola dalam mencari makan, yakni menggigit di waktu pagi dan sore hari dimana manusia sedang sibuk beraktifitas, dengan ketinggian terbang 1 meter. 

Pencegahan DBD yang selama ini sudah dilakukan dengan memperhatikan perilaku khas yang dimiliki nyamuk Aedes aegypti diantaranya adalah :

  1. Memutus siklus hidup DBD, dengan menguras, menyikat dinding wadah air dan mengganti air dengan teratur, menutup sumber air yang terbuka, dan mengubur benda-benda yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk, ikanisasi dan pemberian abate.
  2. Mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan baju yang menutup tangan dan kaki, menggunakan lotion secara teratur pada pagi dan sore hari, dan memasang kelambu pada saat tidur. 
  3. Fogging atau pengasapan yang dilakukan di rumah-rumah penduduk yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. 

Dari hasil evaluasi yang dilakukan, ternyata upaya-upaya tersebut belum cukup maksimal untuk mencegah penularan DBD. Masih sering dijumpai kasus DBD di tengah masyarakat yang bahkan beberapa menimbulkan korban jiwa.

Berawal dari hal tersebut, maka terdapat pemikiran untuk mencegah dan menanggulangi penularan DBD dengan cara berbeda. Kemudian dilakukanlah sebuah riset yang bernama Eliminate Dengue Project Yogya (EDP Yogya). Nah, apakah itu?  Ikuti perjalanan saya..^_^

Wolbachia, Sebagai Alternatif Mengurangi Penularan DBD
Berawal adanya penawaran dari Mbak Elzha selaku koordinator Jaringan Netizen Jogja untuk mendapat wawasan tentang metode atau cara baru penanggulangan DBD, sampailah saya ke kantor insektarium EDP (Eliminate Dengue Project) Yogya di Jl. Podocarpus I N-14 Sekip, yang ada di sebelah selatan Rumah Sakit Sardjito, pada hari Kamis, 9 November 2017 sekitar pukul 14.00 WIB lalu.

Pada hari itu dilaksanakan sosialisasi tentang EDP Yogya kepada kami para netizen dengan nara sumber Bapak Warsito Tantowijoyo, Ph.D seorang ahli entomologi yang bertanggung jawab dalam proyek penanggulangan virus dengue dengan menggunakan bakteri wolbachia.

Paparan Bapak Warsito tentang EDP Yogya

Dalam pemaparannya Bapak Warsito menjelaskan EDP yogya adalah bagian dari Eliminate Dengue Program Global yang melakukan penelitian tentang teknologi Wolbachia di Australia, Vietnam, Colombia, dan Brazil untuk mengatasi penularan penyakit DBD. 

Sebagai daerah yang berpotensi terhadap wabah penularan DBD, maka dipilihlah Yogya sebagai lokasi penelitian. Proyek penelitian ini dilakukan oleh Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran UGM dan didanai oleh yayasan Tahija, sebuah yayasan nirlaba di Jakarta yang berdiri pada tahun 1990.

Pada intinya, Eliminate Dengue Project Yogya ini adalah sebuah penelitian yang mengembangkan sebuah metode alamiah untuk mengurangi penyebaran virus dengue dengan menggunakan bakteri wolbachia yang merupakan bakteri alami yang terdapat dalam tubuh serangga yang dapat diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Wolbachia ini ditemukan pada lebih 60% serangga yang ada di sekitar kita. Namun dalam penelitian ini, wolbachia yang digunakan adalah yang terdapat dalam lalat buah atau drosophila. 

Wolbachia ini dapat menurunkan replikasi bakteri dengue dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti sehingga nyamuk tersebut tidak lagi dapat menularkan DBD.

Jadi dalam penelitian ini, nyamuk-nyamuk Aedes aegypti disuntik dengan bakteri wolbachia, kemudian nyamuk-nyamuk ini diternakkan untuk kemudian dikawinkan dengan nyamuk Aedes aegypti lokal yang nanti digunakan sebagai lokasi penelitian. 

Telur-telur hasil perkawinan antara nyamuk lokal dan nyamuk berwolbachia ini nanti diletakkan pada ember-ember di rumah-rumah responden untuk ditetaskan dan menjadi nyamuk dewasa yang berwolbachia. 

Penelitian ini sudah dilakukan sejak tahun 2011, dan terbagi dalam 4 tahap sebagai penelitian sebagai berikut :

Tahap 1 : Uji keamanan dan kelayakan, untuk membuktikan keamanan dan kelayakan teknologi wolbachia (Oktober 2011 - September 2013). Hasil pada tahap ini menunjukkan pada skala laboratorium wolbachia terbukti mampu menghambat perkembangan virus dengue pada nyamuk Aedes aegypti lokal. Sehingga penelitian perlu ditingkatkat ke tahap 2.

Tahap 2 : Pelepasan skala terbatas nyamuk Aedes aegypti yang sudah berwolbachia (Oktober 2013 - Desember 2015). Dalam tahap ini dilakukan pelepasan nyamuk Aedes aegypti di daerah Nogotirto dan Kronggahan Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman, pada periode Januari - Juni 2014, dan peletakan ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti yang berwolbachia di wilayah Jomblangan dan Singosaren Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul pada bulan November 2014 - Mei 2015. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tidak ada bukti penularan DBD di daerah-daerah yang menjadi lokasi penelitian.

Hal tersebut membuktikan nyamuk Aedes aegypti berwolbachia secara alami mampu menghambat virus dengue. Dan masyarakat di daerah penelitian menerima teknologi wolbachia sebagai alternatif upaya penanggulangan DBD.

Tahap 3 : Pelepasan nyamuk Aedes aegypti berwolbachia dalam skala luas (Januari 2016 - Desember 2019).

Tahap 4 : Penyusunan rekomendasi kebijakan (2020-2021). Fase ini bertujuan untuk menjembatani adopsi hasil penelitian untuk kebijakan penanggulangan dengue di daerah dan nasional.

Untuk saat ini penelitian sudah sampai tahap 3, berupa tahap pelepasan nyamuk berwolbachia dalam skala yang luas. 

Oleh karena itu diperlukan lebih banyak keterlibatan aktif dari masyarakat untuk berperan dalam penelitian ini, selain dengan bersedia menjadi orang tua asuh dari ember-ember berisi telur Aedes aegypti yang sudah berwolbachia, juga dengan ikut menyebarkan informasi tentang teknologi wolbachia ini kepada orang-orang di sekitarnya.

Demi tercapainya partisipasi maksimal dari masyarakat luas, saat ini EDP Yogya banyak melakukan kegiatan sosialisasi dengan menggandeng media untuk mempublikasi penelitian ini dan turun langsung ke masyarakat melalui program Wolly Mubeng Jogja. Wolly adalah maskot dari EDP Yogya berupa boneka nyamuk Aedes aegypti berwolbachia.

Melihat Penangkaran Nyamuk di EDP Yogya
Setelah mengikuti pemaparan singkat tentang penelitian yang tengah dilakukan EDP Yogya, kami juga diberi kesempatan melihat "dapur" dari EDP Yogya, untuk melihat penangkaran nyamuk Aedes aegypti berwolbachia dan prosedur pengawasannya.

Agar lebih fokus, peserta yang hadir dalam sosialisasi EDP Yogya dibagi dalam 2 kelompok untuk kemudian diajak berkeliling ke ruang-ruang yang ada di kantor EDP Yogya yang digunakan untuk pembiakan nyamuk berwolbachia. 

Pertama ruang yang kami kunjungi adalah Mosquito Rearing Unit. Merupakan ruang pembiakan nyamuk Aedes aegypti yang berwolbachia dari telur sampai dewasa. Nyamuk-nyamuk ini nanti yang akan dikawinkan dengan nyamuk Aedes aegypti lokal yang ada di lokasi pelepasan. Telur-telur hasil perkawinan nyamuk Aedes aegypti berwolbachia hasil pembiakan laboratorium EDP dengan nyamuk lokal tadi ditempatkan ke dalam ember berisi air dan pelet, untuk kemudian diletakkan di rumah-rumah responden hingga menetas dan menjadi nyamuk dewasa berwolbachia.

Pintu masuk Mosquito Rearing Unit

Sebagai nyamuk peliharaan, nyamuk Aedes aegypti berwolbachia ini tentu diberi makan secara khusus. Makanannya adalah darah manusia untuk Aedes aegypti betina dan larutan gula untuk yang jantan. Cara pemberian makanannya unik, yaitu dengan meletakkan tangan volunteer di atas kandang nyamuk yang ditutup dengan kain strimin selama 15 -30 menit sampai nyamuk-nyamuk kenyang.

Memberi makan nyamuk oleh volunteer
Nyamuk Aedes aegypti berwolbachia yang bisa dihasilkan di EDP yogya ini berkisar 1 juta ekor per minggu. Angka yang cukup fantastis, kalau biasanya nyamuk itu dibasmi, di kantor EDP Yogya malah justru dibiakkan. Tapi bukan sembarang nyamuk yang ada di sana, namun nyamuk Aedes aegypti yang berwolbachia yang justru menjadi pembasmi DBD, dan menjadi sahabat kita.

Kumpulan telur nyamuk berwolbachia
Ruang selanjutnya yang kami kunjungi adalah Field Entomology Unit. Disini kami bertemu dengan Mas Sigit yang banyak menjelaskan tentang tugas dan tanggung jawab staf di divisi tersebut.

Field Entomology Unit

Menurut mas sigit, Field Entomology Unit merupakan unit yang paling sibuk dan paling banyak stafnya. Karena di bagian ini semua tugas mulai dari pengambilan sampel telur nyamuk lokal yang akan dikawinkan dengan nyamuk Aedes aegypti berwolbachia peliharaan EDP, kemudian peletakan telur nyamuk berwolbachia di daerah sampel sampai monitoring atau pengawasan nyamuk Aedes aegypti berwolbachia yang ada di daerah responden dilakukan. Sehingga tidak heran bila unit ini banyak memiliki staff dan sangat sibuk.
Mas Sigit sedang menunjukkan alat BG Trap

Alat untuk mengumpulkan telur nyamuk Aedes aegypti lokal

Penangkapan sampel nyamuk Aedes aegypti berwolbachia yang ada di daerah sampel dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut BG trap. Hasil tangkapan inilah yang kemudian diserahkan  ke Field Entomology Laboratory untuk diamati dan dipilah antara nyamuk Aedes aegypti jantan dan betina, untuk kemudian dikirim ke laboratorium kedokteran UGM untuk dilihat kandungan bakteri wolbachia dalam tubuhnya.

Field Entomology Laboratory
Kesibukan di Field Entomology Laboratory

Seorang kawan blogger mencoba mengamati nyamuk Aedes aegypti 

Rumit kan prosesnya? Yah begitulah... namun manfaat dari penelitian ini cukup besar. 
Mudah-mudahan dengan metode wolbachia ini Jogja dapat aman dari DBD. 

Dan semoga tulisan saya ini bermanfaat dan menambah wawasan dan pemahaman dari teman-teman tentang nyamuk Aedes aegypti berwolbachia dan EDP Yogya.

Jika masih ingin penjelasan yang lebih rinci tentang EDP Yogya, teman-teman dapat menghubungi :
Equatori Prabowo 
Media and Communication 
Eliminate Dengue Project Yogyakarta 
Gedung Pusat Antar Universitas (PAU) Jl. Teknika Utara Barek, Yogyakarta 55281
Email :edpyogya@eliminatedengue.com Phone: 0822 20000 385
Website : www.eliminatedengue.or.id Facebook: EDP Yogya
Instagram : EDP Yogya

Selasa, 07 November 2017

Berkenalan dengan Tokyo Bowl, Menu Terbaru dari HokBen

Untungnya kebebasan berserikat, berkumpul, mengeluarkan pikiran dan pendapat itu dijamin oleh undang-undang. Sehingga hari Jumat 3 November 2017 sekitar pukul 16.30 WIB kemarin saya bebas melangkahkan kaki menghadiri undangan gathering dari HokBen Jakal untuk Komunitas Blogger Jogja. 

HokBen Jakal

Pertemuan yang dihadiri sekitar 30 blogger ini dibuka oleh Bapak Arman selaku Local Marketing HokBen Jakal, dengan doa bersama dan pembacaan rundown acara. Selanjutnya acara dipandu oleh Ibu Kartina Mangisi Simanjuntak dari Communication Division Head dan Bapak Sutrisno selaku Store Manager HokBen Jakal.  

Pertemuan ini dimaksudkan untuk mengenalkan lebih jauh tentang HokBen kepada para blogger Jogja sekaligus memberi kesempatan kepada kami untuk mencicipi varian menu baru dari HokBen yang bernama Tokyo Bowl dan memberikan reviewnya.

Pak Arman sedang membuka acara, doc : Yugo D.P.

Acara berlangsung hangat dan santai. Semua peserta menyimak penjelasan dari pihak HokBen dengan seksama. Ibu Kartina yang biasa disapa Bu Tina lebih banyak menjelaskan tentang sejarah perusahaan, sedangkan Bapak Sutrisno banyak bercerita tentang varian menu baru yang ada HokBen. 

Sejarah Hokben
Saat ini HokBen dikenal sebagai restoran cepat saji yang banyak diminati. Respon yang cepat, dan pelayanan yang prima  terhadap konsumen membuat HokBen dinobatkan sebagai "Top 3 Most Powerful Restaurant Brand in Indonesia" dalam survey Brand Asia 2017 yang diselenggarakan oleh Nikkei BP consulting, inc bekerjasama dengan MARKPLUS, INC, dan terpilih sebagai "BRAND OF THE YEAR 2017-2018" untuk kategori Quick Service Restaurant Indonesia di ajang WORLD BRANDING AWARDS.  Sebuah prestasi yang cukup membanggakan. Dan itu semua bukan diperoleh dengan cara instan, perlu perjalanan yang panjang. 

Bu Tina menjelaskan tentang sejarah HokBen, doc : Yugo D.P.

Sudah lebih dari 32 tahun HokBen hadir menemani para pecinta masakan Jepang. Perjalanan panjang HokBen dimulai pada tanggal 18 April 1985 dengan berdirinya restoran Jepang cepat saji bernama Hoka-Hoka Bento yang berada dibawah naungan PT Eka Bogainti di Kebon Kacang Jakarta pusat. 

Gerai pertama Hoka-Hoka Bento

Pada awalnya Hoka-Hoka Bento memakai ijin merk Hoka-Hoka Bento yang ada di Jepang. Arti dari Hoka-Hoka Bento sendiri adalah makanan hangat dalam satu kotak. Karena memang Hoka-hoka Bento yang di Jepang merupakan rumah makan dengan konsep take away (pesan ambil/bawa pulang). Namun kemudian karena satu dan lain hal Hoka-Hoka Bento di Jepang tutup. Hingga akhirnya PT Eka Bogainti menjadi satu-satunya pemegang hak merk Hoka-Hoka Bento.

Seiring dengan respon masyarakat yang semakin positif, Hoka-Hoka Bento kemudian mulai melebarkan sayap dengan hadir di kota-kota besar di Indonesia. Dimulai di tahun 1990, Hoka-Hoka Bento hadir di kota Bandung, kemudian di tahun 2005 di kota Surabaya, dan tahun 2008 hadir di Malang. Di tahun 2010, pengembangan cabang di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Bali mulai dilakukan.

Selain itu sebuah gebrakan besar juga dilakukan oleh Hoka-Hoka Bento, yakni dengan memiliki jaringan Call Center 1500505 di tahun 2007, serta layanan pesan antar.  
Layanan Pesan Antar HokBen
Tahun 2008 website HokBen diluncurkan dengan fitur pemesanan online dan di tahun yang sama mulai menambah varian menu untuk anak, yakni katsu yang disediakan dalam bentuk paket Kidzu Bento yang disajikan lengkap dengan bonus mainan.  Untuk saat ini tema mainan kidzu bento yang terbaru adalah battle of unibolt.

Demi tercapainya tujuan untuk lebih dekat dengan customer dan karena adanya trend di kalangan customer pada saat itu yang biasa menyebut Hoka-Hoka Bento dengan istilah HokBen, maka mulai tanggal 15 Oktober 2013 Hoka-Hoka Bento resmi menggunakan nama baru, yakni HokBen. 

Perubahan nama itu juga diikuti dengan perubahan logo restoran. 
Transformasi nama dan logo restoran

Logo dan maskot restoran yang semula berupa tokoh manga Jepang yang bernama Taro (seorang anak laki-laki dengan baju berwarna biru) dan Hanako (seorang anak perempuan berbaju merah) yang ditampilkan seluruh badan, dengan perubahan nama menjadi HokBen maka Taro dan Hanako hanya ditampilkan bagian kepala atau wajahnya saja, sehingga terlihat lebih simpel. 

Hokben Community Pattern
Ada berbagai cara yang bisa dilakukan agar budaya perusahaan dalam suatu korporasi melekat kuat di hati para karyawannya dan menjadi semangat dan etos dalam bekerja. Demikian pula halnya dengan HokBen.

HokBen Community Pattern sebagai hiasan cup drink

Tadinya saya mengira simbol-simbol yang ada di cup drink yang ada di HokBen itu cuma hiasan semata, namun ternyata pola-pola itu sarat makna.

Segala semangat dan idealisme perusahaan untuk melayani pelanggan dengan sebaik-baiknya dituangkan secara apik melalui simbol-simbol atau pola-pola unik sarat makna, yang sekaligus digunakan untuk hiasan atau ornamen di dinding kaca, box kemasan, maupun cup minum. Hal tersebut dimaksudkan agar setiap karyawan selalu mengingat apa saja yang menjadi filosofi dari HokBen.  

Pola atau simbol unik itu diberi nama "HokBen Community Pattern".
Apa sajakah itu, dan apa saja maknanya? Berikut penjelasannya :

HokBen Community Pattern

  1. Parent and kid, simbol ini menggambarkan rasa sayang orang tua kepada anaknya. Simbol ini dipilih karena HokBen adalah restoran yang sesuai untuk keluarga, yang tidak hanya menyajikan hidangan enak, namun juga bergizi.
  2. Welcoming hello, simbol keramahan HokBen kepada para pelanggannya. 
  3. Friendship, simbol ini menggambarkan kedekatan dua orang yang diartikan sebagai hubungan persahabatan. Simbol ini memiliki makna HokBen merupakan tempat yang tepat untuk berbagi waktu kepada para sahabat, sambil menikmati santapan lezat dan bergizi. 
  4. Respect, simbol ini menggambarkan orang yang membungkuk dan memberikan salam sesuai dengan budaya Jepang. Perilaku ini merupakan penghormatan kepada orang lain, dalam hal ini adalah penghormatan kepada customers HokBen.
  5. Pride, secara harfiah diartikan sebagai kebanggaan. Maksud dari simbol ini adalah kita harus merasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar HokBen yang kredibilitasnya terjaga dengan baik dan menjadi brand yang dipercaya customers untuk menjadi bagian yang tidak terlupakan oleh seluruh keluarga, sahabat, dan kerabatnya.

Menu Baru di Hokben
Secara umum HokBen menyajikan berbagai masakan Jepang populer, mulai dari tumisan (seperti yakiniku, teriyaki, dengan pilihan daging sapi atau ayam), gorengan (seperti chicken katsu, ekkado, ebi furai, chicken egg roll, dll), sukiyaki, shumai, gyoza, hingga salad dan sup (seperti sukiyaki, chicken tofu, shrimp ball, dan shrimp dumpling) yang dihidangkan baik secara satuan maupun paket. 

Selain itu tersedia pula minuman dan hidangan penutup khas seperti es sarang burung, es ogura, koori konyaku, dan puding.

Cita rasa masakan Jepang yang disajikan di HokBen telah disesuaikan dengan selera Indonesia, dengan bumbu yang lebih kuat. 

Disamping itu sebagai restoran yang ada di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, HokBen selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi konsumennya dengan adanya jaminan kehalalan dari produk-produknya.

Sudah Sejak bulan September 2008, dimana pada saat itu HokBen masih bernama Hoka-Hoka Bento, sertifikasi halal dari MUI sudah dimiliki dan senantiasa diperbaharui bila habis masa berlakunya. Di tahun 2017 ini, HokBen memperoleh sertifikat sistem jaminan halal, yang berlaku selama 4 tahun.

Sebagai restoran cepat saji masakan Jepang yang terkemuka, HokBen senantiasa melakukan inovasi terhadap varian menu-menunya. Hal ini dimaksudkan untuk penyegaran dan mencegah kebosananan dari para pelanggan setianya. 

Penjelasan Pak Sutrisno tentang Tokyo Bowl, doc : Yugo D.P.

Dalam penjelasannya, Bapak Sutrisno memperkenalkan varian terbaru yang ada di HokBen yakni Tokyo Bowl.

Varian pilihan menu Tokyo Bowl

Tokyo bowl ini adalah menu lengkap dan nikmat yang disajikan dalam sebuah mangkuk yang berisi nasi yang pulen dan wangi, ditambah topping lauk dan saus sesuai pilihan, dilengkapi dengan taburan seaweed dan daun bawang yang menambah selera.

Ada 5 varian yang bisa dipilih untuk menu ini, apa saja pilihannya, simak yang berikut ya...

1. Gyu Don

Gyu Don Soboro

Terdiri dari nasi pulen yang diberi topping daging sapi (beef) cincang dengan saus teriyaki khas HokBen (Gyu Soboro) ditambah potongan seaweed dan taburan daun bawang. Harga untuk menu ini adalah Rp. 31.000,-

2. Tori Don

Tori Don Soboro


Terdiri dari Daging ayam cincang dengan saus teriyaki khas HokBen (Teriyaki Soboro) yang disajikan diatas semangkuk nasi, dengan taburan potongan seaweed dan daun bawang.
Harga menu ini Rp. 27.000,-

3. Chicken Steak 
Ada 2 varian  rasa yang ditawarkan, yakni ori dan pedas atau hot. Yang membedakan adalah saus yang digunakan. 

Yang ori, terdiri dari daging ayam panggang tanpa tulang yang dibumbui dengan saus teriyaki khas HokBen (Ori Chicken Steak) dengan rasa manis dan gurih yang disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping potongan seaweed dan daun bawang. Harga menu ini Rp. 37.000,-. 

Ori Chicken steak

Sedangkan yang hot atau pedas terdiri dari daging ayam panggang tanpa tulang yang dibumbui Saus Miso Khas Jepang (Hot Chicken Steak) dengan rasa pedas, yang disajikan diatas semangkuk nasi, dengan topping potongan seaweed dan daun bawang. Harga menu ini Rp. 40.000,-

Hot Chicken Steak


4. Chicken Katsu Tare

Chicken Katsu Tare
Terdiri dari daging ayam tanpa tulang yang dibalut dengan bread crumbs dan bumbu khas HokBen yang dimasak dengan metode Deep Frying Oil yang disajikan diatas semangkuk nasi, dengan topping Saus Tare Khas HokBen, potongan seaweed dan daun bawang. Menu ini dibandrol dengan harga Rp. 31.500,-


5. Chicken Karaage 

Chicken Karaage

Terdiri dari daging ayam berkualitas yang dimasak dengan teknik Deep Frying Oil sehingga menghasilkan tekstur tepung yang garing dan renyah yang disajikan diatas semangkuk nasi, dengan topping Mayonaise khas HokBen, potongan seaweed dan daun bawang. Harga menu ini adalah Rp. 37.000,-

Nah..menu-menu di atas itulah yang akan kami coba, plus yakitori grilled yang juga merupakan menu baru. Masing-masing kami diberi kesempatan untuk memilih varian Tokyo bowl yang diminati.

Berdasar deskripsi yang diberikan dan pertimbangan pribadi serta sedikit feeling, akhirnya saya memilih chicken karaage sebagai menu makan malam, dan secangkir ocha panas untuk menetralisir lemak (sok bergaya hidup sehat sayanya, he..he..he).

Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, menu yang ditunggu-tunggu datang juga.
Seperti ini penampakannya...

Chicken Kaarage orderan saya

Semangkuk hidangan berisi nasi lumayan banyak dengan 5 potong daging ayam krispi di atasnya, yang disiram saus mayonaise dan taburan seaweed serta daun bawang, terhidang di meja.

Pertama yang saya coba nasinya. Nasinya pulen, sedikit lengket seperti ada campuran beras ketannya, sehingga mudah diambil dengan sumpit. Aromanya wangi, sangat menggugah selera. Taburan seaweed di atasnya memberikan rasa asin dan gurih yang tidak membosankan. 

Kemudian saya coba ayam krispinya, dagingnya empuk, gurih, dan terasa renyah. Garing di luar empuk di dalam. Saos mayonaise yang disiram di atasnya semakin menambah kelezatan.

Dan ketika nasi dan ayam dimakan bersamaan, terasa nikmat yang luar biasa. Tidak butuh waktu lama untuk memindahkan hidangan di atas mangkok ke dalam perut saya, dan hasilnya sayapun kekenyangan.

Oh ya, masih ada menu yakitori grilled yang menunggu giliran untuk dicicipi. Yakitori grilled terbuat dari daging ayam tanpa lemak, yang dipotong-potong dan ditusuk dengan tusukan bambu kemudian dimasak dengan saus teriyaki khas HokBen dengan cara dipanggang, sehingga menghasilkan tekstur grilled di setiap potongan dagingnya. Rasa dagingnya empuk dan juicy, tidak kering. Rasanya juga ringan sehingga tidak memunculkan kesan eneg. 

Yakitori grilled

Yakitori grilled ini juga cocok untuk teman makan nasi. Satu porsi berisi 2 tusuk, dibandrol dengan harga Rp. 15.000,- saja. 

Secangkir ocha panas yang saya hirup, terasa segar dan hangat di badan, dan menjadi episode terakhir yang mengakhiri petualangan rasa yang saya lakukan di HokBen Jakal.

Setiap dari kami yang malam itu hadir dalam temu Komunitas Blogger Jogja di HokBen memiliki pengalaman sendiri-sendiri dalam menikmati varian menu Tokyo Bowl. Yang pasti saya sendiri merasa puas dengan menu Chicken Karaage pilihan saya. Menu ini cocok untuk saya yang menyukai cita rasa asin dan gurih. Dan ternyata Chicken Karaage termasuk menu favorit yang banyak dipilih konsumen HokBen. Jadi ga salah kan pilihan saya?

Sekitar pukul 19.00 acara diakhiri dengan foto bersama. Malam itu saya pulang dengan membawa pengalaman rasa dan satu tas jinjing berisi goodiebag menarik dari HokBen.

Foto bareng member KBJ, doc : Yugo D.P. 

Sayang, saya tidak beruntung mendapat doorprize, padahal saya sudah angkat jari untuk menjawab pertanyaan seputar HokBen dan menu barunya. Jadi ini bukan karena saya tidak bisa menjawab karena tidak menyimak penjelasan lho ya, tapi ini hanya semacam keberuntungan yang tertunda..he..he..he..

Goodiebag cantik dari HokBen

Terima kasih HokBen Jakal dan KBJ untuk undangan dan kesempatannya...

Penasaran dan berminat juga mencicipi Tokyo Bowl? Yuk..langsung datang  ke HokBen Jakal. Gampang kok nyari lokasinya, di google map sudah banyak sekali reviewnya.

Pantengin juga ig hokben_id kalau ingin tahu kabar terkini dan promo terbarunya. Bagi yang ingin praktis dan malas ke luar bisa langsung hubungi call center atau order via online di hokben.co.id.

Nikmati kelezatan dan keseruannya bersama keluarga, sahabat, dan orang-orang tercinta, karena di HokBen Jakal banyak fasilitas yang mendukung kenyamaan ketika makan di sana. 

Diantaranya terdapat private function room yang luas yang mampu menampung hingga 180 seat, sehingga ideal untuk reuni, meeting, atau acara gathering lainnya, terdapat juga fasilitas mushola, full internet access, dan yang pasti buka non stop 24 jam. Jadi kalau teman-teman tiba-tiba merasa lapar, nggak bingung lagi kan mau ke mana ??

Senin, 23 Oktober 2017

Menyusuri Jejak Peradaban Mataram Islam

Bagi saya, belajar sejarah itu ibarat candu, yang sekali mencicipi, susah sekali untuk berhenti, selalu ingin lagi dan lagi...

Apalagi jika belajarnya dikemas secara unik dan apik ala komunitas malamuseum.

Ini adalah kali ketiga saya mengikuti kegiatan "belajar sejarah" yang diadakan komunitas malamuseum.
Yang pertama adalah kegiatan jelajah malam museum yang dikemas ala amazing race yang diberi tema "Pahlawanku Idolaku". 

Kegiatan berupa penjelajahan ke 4 museum yang ada di Kota Jogja ini menggunakan konsep triathlon. Setiap peserta akan mengunjungi 4 museum yang berbeda yang ditempuh dengan jalan kaki, bersepeda, serta naik mobil jeep. Cerita seru tentang kegiatan ini dapat dibaca di sini : jelajah malam museum.

Kegiatan kedua adalah kelas heritage berupa kunjungan ke Puro Pakualaman untuk mengetahui sejarah awal berdirinya Puro Pakualaman dan peran Puro Pakualaman sebelum dan sesudah kemerdekaan.  Cerita lebih rincinya saya ulik di sini : "Puro Pakualaman dalam Bentang Sejarah".

Kegiatan ke 3 yang baru saja saya ikuti adalah kegiatan Jelajah Mataram Islam. Kegiatan yang ke 3 inilah yang sempat membuat saya galau bukan kepalang, antara keinginan untuk mbolang sama tanggung jawab sebagai ibu yang harus berbagi waktu dengan keluarga. Mengapa bisa begitu?
Karena di acara ke 3 ini kegiatannya merupakan serial (kalau saya boleh menyebutnya begitu) dimana antara kunjungan yang pertama dengan yang berikutnya saling berkaitan. Jadi idealnya setiap peserta harus mengikuti seluruh rangkaian kegiatannya agar tahu kisahnya secara lengkap, mulai dari permulaan, tengah, dan akhir.

Di Jelajah Peradaban Mataram Islam ini, kegiatan jelajah dibagi dalam 3 tahap kunjungan, yakni :

  1. Jelajah ke situs Kotagede, Kerto, dan Pleret yang dilaksanakan ditanggal 14 Oktober 2017.
  2. Jelajah ke situs Kartosura, Keraton surakarta, dan Puro Mangkunegaran, sebagai kelanjutan acara yang pertama, dilaksanakan tanggal 15 Oktober 2017.
  3. Jelajah Keraton Yogyakarta, Puro Pakualaman, dan makam raja di Imogiri sebagai penutup, yang dilaksanakan tanggal 22 Oktober 2017.

Setelah melalui pertimbangan yang matang, akhirnya saya mengikuti kegiatan jelajah yang pertama, yakni ke Kotagede - Kerto - dan Pleret. Alasannya sederhana, ketiga tempat itu ada di Yogyakarta, tetapi saya belum mengetahui kaitan sejarah antara tempat yang satu dengan tempat yang lain, jadi saya ingin tahu seperti apa benang merahnya.
Teman-teman penasaran juga dengan kisahnya ? Yuk simak cerita saya...

KOTA GEDE, TITIK AWAL SEJARAH MATARAM ISLAM 

Sabtu pagi, 14 Oktober 2017. Jogja lumayan mendung, bahkan dibeberapa tempat hujan mulai turun rintik-rintik. Sempat was-was cuaca mendung ini sedikit menghalangi kegiatan jelajah peradaban mataram Islam yang akan saya ikuti. Pukul 07.30 WIB saya sudah sampai di titik kumpul yang ditelah ditentukan. Di Gelanggang UGM. Setelah melalui registrasi ulang, saya menunggu waktu keberangkatan sambil ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman yang kebetulan saya kenal. 
Beberapa saya kenal dari kegiatan malamuseum sebelumnya, namun ada pula teman lama di SMA yang kebetulan ikut kegiatan ini juga.

Id card dan tas jelajah

Sekitar pukul 07.45 WIB acara dibuka. Diawali dengan doa bersama dan pembagian kelompok peserta. Seluruh peserta yang jumlahnya sekitar 100 orang dibagi secara acak ke dalam 3 bus yang sudah tersedia. Masing-masing kami diberi identitas berdasar warna pita dari kartu tanda peserta. Ada yang berwarna hijau, merah, dan kuning. Saya dan seorang teman yang kebetulan satu kelompok, masuk ke dalam kelompok hijau (bis ke-2). Segera kami masuk ke dalam bis yang sudah ditentukan, dan setelah semua siap kamipun berangkat.

Briefing sebelum berangkat

Tujuan pertama kami adalah Kotagede.
Sebuah kota di  pinggiran kota Jogja yang selama ini terkenal sebagai kota perak. Hampir di sepanjang jalan di Kotagede dapat dijumpai showroom kerajinan perak. 

Intensitas hujan mulai meninggi ketika kami sampai di Kotagede. Dengan dipandu petugas panitia, kami berjalan kaki melalui gang-gang di perkampungan. Kami menuju ke sebuah bangunan joglo yang menjadi titik kumpul kami di kegiatan jelajah Kotagede ini. Di sana kami disambut oleh Ibu Shinta salah seorang pengelola di Komunitas Jelajah Pusaka Kotagede.

Gang-gang yang kami lalui menuju titik kumpul di Kotagede

Joglo yang menjadi tujuan kami

Bu Shinta memperkenalkan 3 orang rekannya yang nanti akan ikut mendampingi kami menjelajahi situs-situs yang ada di Kotagede. Situs-situs tersebut adalah bekas peninggalan kerajaan Mataram Islam. Ya, di Kotagede inilah awal mula kerajaan Mataram Islam berdiri. Namun sebelum kami mengunjungi situs peninggalan kerajaan mataram Islam, terlebih dahulu kami memperoleh kisah mengenai sejarah awal mula kerajaan Mataram Islam ada. 

Kisah tersebut disampaikan oleh Mas Erwin, narasumber dari malamuseum. Lebih jauh Mas Erwin menjelaskan bahwa riset Mataram Islam Kotagede mengacu pada 3 sumber yang menjadi rujukan, yakni : Babat Tanah Jawi, Serat Kandha, dan cerita dari orang Belanda yang pernah datang ke Kotagede.

Menyimak penjelasan Mas Erwin tentang sejarah Kotagede
Dari sumber-sumber yang ada dijelaskan bahwa sejarah keberadaan Kotagede diawali dengan adanya sayembara yang diadakan Sultan Hadiwijaya, raja dari kerajaan Pajang yang saat itu sedang menghadapi pemberontakan yang dilakukan oleh Ario Penangsang. Dalam sayembara tersebut dikatakan barang siapa yang berhasil mengalahkan Ario Penangsang akan diberikan imbalan yang besar.

Tertarik akan hadiah yang ditawarkan akhirnya Ki Ageng Pemanahan dan saudaranya Ki Ageng Penjawi mengikutinya. Singkat cerita ki Ageng Pemanahan dan ki Ageng Penjawi berhasil mengalahkan Ario Penangsang. Meskipun sebenarnya yang mengalahkan Ario Penangsang adalah Danang Sutawijaya anak dari Ki ageng Pemanahan, namun karena usia Danang Sutawijaya yang masih muda, dan posisinya sebagai anak angkat dari Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Penjawi khawatir hadiah yang akan diberikan kepada Danang Sutawijaya nilainya kecil. Sehingga keduanya Sepakat untuk mengaku sebagai yang bisa mengalahkan Ario Penangsang.

Akhirnya sebagai imbalan Sultan Hadiwijaya menghadiahkan tanah perdikan di  daerah Pati dan di alas Mentaok yang dikenal juga dengan nama Mataram. Ki Ageng Penjawi memilih tanah di Pati, sehingga alas Mentaok menjadi bagian Ki Ageng Pemanahan.

Namun Ki Ageng Pemanahan harus menunggu waktu selama 7 tahun untuk mendapatkan haknya menperoleh tanah di alas Mentaok. Hal ini disebabkan karena Sultan Hadiwijaya pernah mendengar ramalan dari Sunan Giri, yang mengatakan bahwa di Mataram kelak akan lahir kerajaan yang lebih besar daripada Pajang. Sehingga Sultan Hadiwijaya selalu mengulur waktu untuk memberikan alas Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan.

Akhirnya Sunan Kalijaga ikut turun tangan, membujuk Sultan Hadiwijaya agar segera memberikan apa yang menjadi hak dari Ki ageng pemanahan tersebut. Sehingga baru di tahun 1556 ki ageng pemanahan mulai membuka alas Mentaok dan membangunnya menjadi sebuah pemukiman yang diberi nama desa Mataram.  Ki Ageng pemanahan juga membangun pasar untuk membuat orang tertarik datang kemudian menetap.

Dibawah kepemimpinan Ki Ageng Pemanahan, lambat laun pemukiman tersebut berubah menjadi kota yang ramai. Kegiatan ekonomi berjalan dengan pesat, komoditi beras yang menjadi andalannya. Banyak orang yang berdatangan, dan daerah tersebut menjadi semakin ramai. Sehingga akhirnya terkenal dengan sebutan kutho gede (kota besar) yang kemudian menjadi Kotagede.

Ki Ageng Pemanahan

Dalam Babat Tanah Jawi juga diceritakan bahwa Ki Ageng Pemanahan memiliki sahabat bernama Ki Ageng Giring. Ki Ageng Giring ini pernah bertapa memohon kepada Yang Kuasa agar keturunannya menjadi penguasa. Kemudian diakhir pertapaannya dia memperoleh buah kelapa, dan memperoleh bisikan bahwa barang siapa  yang meminum air kelapa itu maka anak turunnya akan menjadi raja. Dengan senang hati Ki Ageng Giring membawa pulang kelapa muda itu dan menyimpannya di dapur untuk meminumnya nanti. Kemudian Ki Ageng Giring pergi mandi.

Pada saat yang hampir bersamaan datanglah Ki Ageng Pemanahan bertamu di rumah Ki Ageng Giring. Ki Ageng Pemanahan menjumpai rumah Ki Ageng Giring sepi. Lantas Ki Ageng Pemanahan langsung menuju dapur dengan tujuan mau mengambil minum. Di dapur dilihatnya sebutir kelapa muda tergeletak. Rasa haus yang tidak tertahan membuatnya segera membuka dan mereguk habis air kelapa tadi.

Ki Ageng Giring yang baru saja selesai mandi merasa terkejut dan kecewa, karena buah kelapa bertuahnya telah diminum sahabatnya. Namun akhirnya dia bisa mengikhlaskan dan menganggap itu sebagai takdir yang kuasa. Kemudian dia mengajak Ki Ageng Pemanahan untuk membuat kesepakatan, dimana nanti setelah keturunan yang ketujuh, ganti keturunan dari Ki Ageng Giring yang berkuasa. Dan Ki Ageng Pemanahan pun menyetujuinya. 

Tahun 1584 Ki Ageng Pemanahan wafat, kemudian digantikan putranya, yaitu Danang Sutawijaya.  Di bawah kepemimpinan Danang Sutawijaya desa Mataram berkembang dengan pesat. Dalam masa kepemimpinan Sutawijaya, hubungan Mataram dengan Pajang tidak terlalu harmonis. Sutawijaya jarang sowan ke Pajang. Bahkan Sutawijaya secara terbuka menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Pajang dan ingin mendirikan kerajaan sendiri. 

Ketidaksukaan Sutawijaya terhadap Pajang diantaranya karena rajanya berambut gondrong (panjang) dan terlalu banyak memiliki istri. Pembangkangan Sutawijaya terhadap Pajang semakin kelihatan ketika dia membangun benteng yang besar (cepuri) di Mataram, dan menghubungi penguasa merapi dan pantai selatan untuk melegitimasi kekuasaannya. Dan akhirnya pada tahun 1587 Sutawijaya mendirikan kerajaan sendiri, dengan Kotagede sebagai ibu kotanya. Gelar yang dia gunakan adalah Panembahan Senopati. Di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati, Mataram semakin maju, dan berkembang pesat. Daerah kekuasaannya semakin luas meliputi hampir seluruh wilayah di Pulau Jawa.
Panembahan Senopati

Pada tahun 1601, Panembahan Senopati wafat dan dimakamkan di pemakaman raja Kotagede. Sebagai pengganti ditunjuk Raden Mas Jolang yang bergelar Prabu Hanyokrowati yang memerintah mulai tahun 1601. Pada masa pemerintahannya, Mataram tidak banyak melakukan perluasan daerah kekuasaan. Tahun 1613 Prabu Hanyokrowati meninggal dunia di daerah Krapyak seusai berburu. Sehingga mendapat gelar Panembahan Seda ing Krapyak. 

Pengganti dari Prabu Hanyokrowati selanjutnya adalah Raden Mas Rangsang, yang setelah menjadi raja bergelar Sultan Agung. Pada masa Sultan Agung inilah Mataram Islam mencapai puncak kejayaannya. Dan terjadi pemindahan pusat pemerintahan dari Keraton Kotagede ke Kerto pada tahun 1618, karena Sultan Agung merasa keraton Mataram perlu ditingkatkan pertahanannya sehingga perlu dibuat istana baru. Adapun Kotagede tetap ditinggali ibu suri dan menjadi pusat kegiatan ekonomi.

Peninggalan Mataram Islam di Kotagede

Setelah mendengarkan penjelasan dari Mas Erwin, selanjutnya kami diajak mengunjungi situs-situs peninggalan kerajaan Mataram Islam di Kotagede yang masih ada. 

Sebagai kota tertua yang menjadi saksi bisu awal mula berdirinya peradaban mataram Islam, Kotagede memiliki beberapa situs berkaitan dengan sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam  yang masih terjaga. Dengan dipandu seorang petugas dari Kotagede kami mencoba menyusurinya...

1. Bokong Semar

Situs yang pertama akan kami kunjungi adalah situs bokong semar. Situs ini berupa sisa bekas benteng dalam (cepuri) yang masih tersisa yang bentuknya melengkung seperti bokong semar.

Batu-batu sisa benteng 
Situs bokong semar
Untuk mencapai ke situs bokong semar, kami harus melalui gang-gang sempit dan melalui rumah-rumah penduduk yang memiliki arsitektur yang unik.

Rumah-rumah tersebut berada di antara dua pintu gerbang, sehingga mendapat julukan between 2 gate. Jika waktu mulai malam, dua pintu gerbang yang mengapit kampung itu ditutup untuk menjaga keamanan wilayah kampung. Dahulu kampung tersebut merupakan bekas alun-alun keraton Kotagede yang setelah pusat pemerintahan Mataram pindah ke Kerto diubah menjadi perkampungan oleh para perajurit keraton yang tidak ikut pindah ke Kerto. Sehingga kampung tersebut dinamakan juga Kampung Alun-Alun.

Mendengarkan penjelasan dari pemandu tentang bangunan-bangunan unik
dikampung between 2 gate   

Melihat dari dekat keunikan kampung alun-alun

Suasana di kampung alun-alun

Rumah milik juragan batik
salah satu pintu gerbang yang ada di kampung Alun-alun

Keberadaan para prajurit dan abdi dalem di Kotagede ini pulalah yang melatar belakangi banyaknya pengrajin perak di wilayah Kotagede ini. 

Kerajinan perak yang ada Kotagede bermula dari kebiasaan para abdi dalem kriya Kotagede membuat barang-barang untuk memenuhi kebutuhan perhiasan atau perlengkapan lain bagi Raja berikut kerabat-kerabatnya. Dan itu menjadi keterampilan turun-temurun yang tetap lestari sampai sekarang. 

2. Situs Watu Gilang dan Watu Gatheng 

Setelah puas melihat bangunan unik yang ada di kampung Alun-Alun dan melihat bekas benteng keraton, kami menuju ke situs watu gilang dan watu gatheng. Dalam perjalanan menuju ke sana, kami melewati makam kerabat kerajaan yang bernama Hastorenggo. Dimakam tersebut antara lain dimakamkan seorang sinden terkenal bernama Nyai Condrolukito. Beberapa kerabat keraton juga dimakamkan di sana.

Makam Hastorenggo

Tidak berapa lama kami sampai di Situs watu gilang dan watu gatheng. Tampak Sebuah bangunan  kecil berukuran 3 m x 3 m bercat hijau yang berada di bawah pohon beringin besar. Di dalam bangunan tersebut tersimpan watu gilang, watu gatheng serta sebuah genthong / padasan yang dulu dipakai Ki Ageng Giring dan Ki Juru Mertani untuk berwudhu berada. Keduanya merupakan penasihat dari Panembahan Senopati.

Bangunan kecil tempat menyimpan watu gilang,
watu gatheng, dan watu genthong


Juru kunci sedang menjelaskan tentang Watu gilang dan watu gatheng

Menurut keterangan dari juru kunci, watu gilang adalah sebuah batu granit hitam yang sangat keras yang dulunya merupakan singgasana dari Panembahan Senopati. Berukuran 2m x 2m dengan tinggi 30 cm. Watu gilang itulah yang pernah dipakai untuk membenturkan kepala dari Ki Ageng Mangir, menantu Panembahan Senopati yang dianggap membangkang, hingga tewas dan meninggalkan bekas berupa cekungan di tepi batu yang diyakini bekas dahi dari Ki Ageng Mangir.
Bentuk dari watu gilang

Sedangkan watu gatheng adalah mainan dari Raden Ronggo anak dari Panembahan Senopati dengan Ratu Roro Kidul yang memiliki kesaktian yang luar biasa. Ada 3 buah batu gatheng berwarna kuning kecoklatan dengan ukuran diameter 31 cm, 27 cm dan 15 cm. Ada semacam mitos yang berkembang di masyarakat, barang siapa dapat mengangkat watu gatheng niscaya keinginannya akan tercapai.

Watu Gatheng
Watu Genthong
Tempat di mana situs watu gatheng dan watu gilang berada itulah yang diyakini sebagai Ndalem atau Keraton Kotagede dulunya berada.

3. Masjid Agung Kotagede

Tidak jauh dari situs watu gilang dan watu gatheng berada, terdapat Masjid Agung Kotagede. Masjid ini didirikan atas perintah Panembahan Senopati pada tahun 1589 sebagai bagian dari konsep catur gatra tunggal, dimana keberadaan sebuah kutogoro (ibu kota negara) harus mengandung 4 unsur yakni :
  1. Ndalem / keraton sebagai tempat tinggal raja dan pusat pemerintahan
  2. Alun-alun sebagai penghubung antara keraton dengan masyarakat.
  3. Masjid / kauman sebagai pusat kegiatan religius
  4. Pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi.

Masjid Agung Kotagede

Sampai sekarang Masjid Agung Kotagede ini masih dipergunakan oleh masyarakat sekitar. 

4. Makam Raja Mataram Kotagede

Situs terakhir yang kami kunjungi dalam rangka jelajah jejak mataram Islam di kotagede ini adalah makam raja mataram. Dimakam inilah pendiri kerajaan Mataram Islam berikut para kerabat dimakamkan, diantaranya adalah Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan, sultan Hadiwijoyo, dan keluarga inti lainnya.

Bangunan terbuat dari batu bata berwarna merah tersebut masih tampak kokoh berdiri. Gapura masuknya mempunyai hiasan yang masih mencirikan kebudayaan Hindu. Diantaranya adalah terdapat hiasan betara kala, yang mempunyai makna untuk menggapai kesuksesan kita harus dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
Gapura masuk menuju makam

Suasana bagian dalam kompleks makam 

Ada sekitar 3 gapura yang harus kita lalui agar kita sampai ke dalam makam. Di dalam kompleks makam, terdapat pula kolam pemandian bernama sendang seliran. Konon sendang ini dibuat sendiri oleh panembahan senopati. 
Sendang ini dibagi 2, satu untuk laki-laki dinamakan sendang kakung dan satu untuk perempuan dinamakan sendang putri.

tentang Sendang seliran

Sendang kakung

Di sendang ini terdapat mitos adanya lele putih bernama kyai Reges. Lele ini berasal dari duri dan kepala ikan lele, sisa makan dari Sunan Kalijaga yang dibuang ke sendang itu dan kemudian hidup. 

Di sendang kakung terdapat sebuah sumur yang airnya dipercaya dapat membuat awet muda bagi siapa saja yang mencuci muka dan meminum airnya. 

Sumur di sendang kakung yang konon
Bikin awet muda bagi yang meminum dan cuci muka dengan airnya    

Makam raja Kotagede ini sudah penuh, yang ditandai dengan ditanamnya 2 pohon di depannya. Itulah alasan dibangunnya makam raja di Imogiri. 
Untuk dapat berziarah dan masuk ke dalam makam, kita harus memakai baju khusus yang bisa disewa di sana. Dan tidak setiap hari kita bisa berziarah ke makam. Hanya di hari-hari tertentu saja.

Gerbang menuju makam
Lokasi makam dan masjid agung Kotagede berdekatan. Hal ini mempunyai makna ketika kita mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, kita akan ingat kemana kita akan menuju, yakni kematian.

Sebagai bekas ibukota kerajaan Mataram Islam yang menjadi cikal bakal Keraton Surakarta dan Yogyakarta, keberadaan Kotagede amat sangat dijaga dan dihargai oleh trah Keraton Yogyakarta maupun Surakarta. Sehingga pasca perjanjian Palih Nagari (perjanjian Giyanti) yang membagi keraton Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta, wilayah Kotagede adalah satu-satunya wilayah yang tidak dibagi. Pengelolaannya tetap dilakukan bersama antara keraton Yogyakarta dan Surakarta. Dan menjadi hal yang wajib bagi calon raja dari kedua kerajaan untuk mengunjungi makam Kotagede, untuk mohon ijin dan restu sebelum resmi diangkat menjadi raja. 

Bahkan di depan gapura masuk ke area makam dulunya terdapat 2 pohon beringin, yang menggambarkan keraton Surakarta dan keraton Yogyakarta. Hanya saja pohon yang menggambarkan keraton Surakarta sudah tumbang,  karena usia. 


MENUJU SITUS KERTO 
Selesai mengunjungi berbagai situs yang ada di Kotagede, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan kami selanjutnya adalah situs Kerto. Istana kedua dari dinasti Mataram Islam yang dibangun R.M. Rangsang, raja Mataram Islam ke 3 yang memerintah tahun 1613 - 1645. Pada masa pemerintahan R.M. Rangsang Mataram mengalami puncak kejayaan. Wilayah kekuasaannya sampai ke luar Pulau Jawa. R.M Rangsang yang bergelar panembahan Hanyokrokusumo merasa perlu untuk membuat istana baru untuk lebih memperkuat pertahanannya. Kemudian dipilihlah daerah Kerto yang berada sekitar 5 km barat daya Kotagede, untuk lokasi istana yang akan dibangun.

Pembangunan mulai dilaksanakan sekitar tahun 1617, dan ditempati sekitar 3 tahun kemudian. Keraton di Kerto merupakan keraton Mataram pertama yang memiliki bangunan sitinggil. Sitinggil banyak dijumpai di Keraton Cirebon dan Demak. Kepindahan ke istana Kerto ini sekaligus menandai dipakainya gelar baru dari Panembahan Hanyokrokusumo menjadi Sultan Agung.
Sultan Agung Hanyokrokusumo

Di Situs Kerto dan Pleret, kami ditemani mas Denny yang memberikan banyak penjelasan mengenai kedua situs yang letaknya memang tidak terlalu jauh.

Peninggalan yang tersisa dari keraton Kerto ini tidak banyak. Hanya menyisakan 3 buah umpak besar bekas sitinggil dengan ukuran alas 80 x 80 cm dengan tinggi 70 cm. Terdapat relief huruf mim kha dan dal, yang merupakan penggambaran dari nama Mukhammad. Salah satu dari umpak tersebut konon ada yang  digunakan sebagai penyangga di Masjid Sokotunggal Tamansari.

Prasasti penanda situs Kerto
Di tanah inilah dulu keraton Kerto berdiri 

Umpak inilah peninggalan yang tersisa dari keraton Kerto

Di sekitar situs Kerto ini, terdapat Masjid Taqarub Kanggotan yang diduga dulunya merupakan salah satu masjid Patok Nagari yang ada di Keraton Kerto. Hanya saja bukti yang ada tidak cukup kuat, mengingat masjid tersebut telah banyak mengalami renovasi dan perubahan sehingga bentuknya telah berubah. Tetapi kalau dilihat dari lokasi dan adanya prasasti bertuliskan huruf jawa yang ada di dalam masjid bisa jadi masjid taqarub Kanggotan adalah salah satu peninggalan keraton Kerto.

Masjid Taqarub Kanggotan

Menurut Babad Momanah, keraton Kerto terbuat dari kayu sehingga mudah lapuk dan rusak. Itu menjadi salah satu sebab mengapa peninggalan Kerto tidak banyak tersisa. Selain itu, pasca Sultan Agung wafat di tahun 1645, Amangkurat 1 yang merupakan putra dari Sultan Agung sang penerus tahta mataram selanjutnya memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Kerto ke Pleret. 

Alasan pemindahannya tidak begitu jelas. Padahal jarak Kerto dan Pleret tidak terlalu jauh. Hanya ada pernyataan dari Amangkurat 1 kalau dia tidak mau menempati istana bekas ayahnya, dan Keraton Kerto ditinggalkan begitu saja tidak terawat. Akhirnya pada masa Amangkurat 1 keraton mataram pindah lagi ke Pleret.

SITUS PLERET
Sepeninggal Sultan Agung Hanyokrokusuma, Mataram diperintah oleh putranya yang bernama R.M. Sayidin, yang setelah menjadi raja bergelar Amangkurat I. Memerintah dari tahun 1646 - 1677. Merupakan raja yang bisa dibilang kontroversi.

Diawal pemerintahannya, memberikan perintah kepada rakyatnya sebagai berikut :
"...Sarupane kawula ingsun kabeh, padha nyithaka bata, ingsun (Amangkurat I) bakal mingser teko ing kutha Kerto, patlasane kangjeng rama ingsun tan arsa ngenggoni. Ingsun bakal yasa kutho ing Plered (Babad Tanah Jawi).

Yang artinya : 
... semua rakyatku, kalian buatlah bata. Saya mau pindah dari Karta (Kerto) karena saya tidak mau tinggal dibekas (kediaman) ayahanda. Saya akan membangun kota Pleret.

Batu bata berukuran besar yang ditemukan di situs pleret
Sekarang tersimpan  museum Pleret  

Keraton pleret mulai digunakan pada tahun 1647. Berbeda dengan ayahnya yang anti VOC dan banyak nembawa kemajuan bagi Mataram, Amangkurat I justru bekerja sama dengan VOC dan lebih banyak menggunakan kekuasaannya untuk menuruti hawa nafsunya. Dia membangun proyek besar bernama segarayasa,  yakni sebuah segara (laut) buatan yang dibuat di belakang istana Pleret. Yang sedianya untuk berlatih perang angkatan laut mataram. Namun pada kenyataannya lebih banyak digunakan Amangkurat I untuk bersenang-senang bersama istri-istrinnya. 

Banyak pemberontakan yang terjadi pada masa pemerintahannya. Amangkurat I juga raja yang kejam, untuk menuruti keinginannya, dia tidak segan menumpahkan darah.

Cerita cintanya pun demikian. Demi mendapatkan seorang wanita bernama Nyai Mas Malang yang saat itu telah bersuami, dia tega melakukan pembunuhan terhadap suami Nyai Mas Malang yang bernama Ki Dalang Panjang. Kemudian memperistrinya.

Amangkurat I amat mencintai Nyai Mas Malang dan itu menimbulkan kecemburuan di kalangan selir-selir yang lain. Pada suatu hari Nyai Mas Malang jatuh sakit, dan akhirnya meninggal. Amangkurat I sangat berduka. Dia menduga para selirnyalah yang telah meracun Nyai Mas Malang hingga tewas. Akhirnya Amangkurat 1 menghukum para selirnya dengan mengurungnya ke dalam ruang tertutup, tanpa diberi makan. Satu per satu para selir tewas mengenaskan karena kelaparan. Bahkan ada yang sebelum meninggal, demi mempertahankan hidup sampai memakan bangkai selir yang lain yang sudah meninggal. 

Adapun jasad dari Nyai Mas Malang, dibawa Amangkurat I ke kompleks pemakaman di Gunung Kelir. Di sana jenazah dari Nyai Mas Malang tidak langsung dikubur. Tetapi Amangkurat I nenungguinya bahkan menemani tidur selama beberapa hari. Sampai kemudian, Amangkurat I bermimpi didatangi oleh Nyai Mas Malang yang mengatakan kalau sekarang dia sudah bahagia berkumpul kembali dengan suaminya Ki Dalang Panjang, baru Amangkurat menyuruh pengawalnya untuk menguburkan Nyai Mas Malang, dan kembali ke istana. 

Tidak hanya itu, Amangkurat I juga banyak melakukan pembantaian kepada para ulama dan kekuarganya karena menentang kesepakatan yang dilakukan antara Amangkurat I dengan VOC. Tidak kurang 5000 orang dibantai di alun-alun keraton Pleret saat itu. Digambarkan saat itu alun-alun keraton Pleret berubah menjadi lautan darah.

Bahkan dia tega membunuh Pangeran Pekik yang merupakan mertuanya sendiri karena dianggap menyebabkan gagalnya Amangkurat I memperistri Roro Hoyi. Dalam sebuah kisah disebut, Roro Hoyi adalah wanita cantik dari Surabaya yang hendak dijadikan selir oleh Amangkurat I. Namun karena masih belia, dia dititipkan terlebih dahulu kepada Tumenggung Wirorejo agar dididik dan dipersiapkan untuk menjadi istri raja.

Pada suatu hari, Pangeran Rahmat sang putra mahkota berkunjung ke rumah tumenggung Wirorejo. Tidak sengaja dia melihat Roro Hoyi sedang membantik. Timbulah ketertarikan R.M Rahmat terhadap Roro Hoyi. Oleh Tumenggung Wirorejo Pangeran Rahmat diberitahu kalau Roro Hoyi adalah calon istri ayahandanya.  R.M Rahmat merasa sedih, kemudian jatuh sakit. Kabar ini didengar oleh Pangeran Pekik. Karena tidak tega dia membawa Roro Hoyi ke ksatrian untuk bertemu R.M Rahmat. Pangeran Pekik berpikir tentu sebagai seorang ayah, Amangkurat I tidak akan tega anaknya sedih dan menderita. Ternyata dugaan itu keliru, Amangkurat I amat murka ketika mengetahui Roro Hoyi sudah menjadi kekasih anaknya sendiri.

Akhirnya Pangeran Pekik dan Tumenggung Wirorejo dihukum mati dan dimakamkan di makam Banyusumurup. Nasib Roro Hoyi pun tidak kalah mengenaskan, dia meninggal di tangan Pangeran Rahmat yang dipaksa Amangkurat I untuk membunuhnya. 

Selanjutnya Pangeran Rahmat dihukum dan diasingkan ke sebuah hutan. Dalam pengasingannya, Pangeran Rahmat bertemu dengan Trunojoyo. Dan bersama Trunojoyo Pangeran Rahmat melakukan rencana pemberontakan terhadap Amangkurat I. Dengan bantuan Kraeng Galengsong akhirnya Keraton Preled berhasil dikalahkan.

Namun kemudian terjadi ketidakcocokan antara Pangeran Rahmat dengan Trunojoyo, kesepakatan bahwa kekuasaan keraton Plered diserahkan Trunojoyo kepada Pangeran Rahmat diingkari. Bahkan Trunojoyo menjarah dan menghancurkan keraton Pleret.
Jatuhnya istana Pleret ini menandai masa berakhirnya kesultanan Mataram. 

Akhirnya Pangeran Rahmat bergabung kembali dengan Amangkurat I dan melarikan diri sampai daerah Tegal. Dalam pelarian tersebut Amangkurat I meninggal dunia dan mendapat julukan Sunan Tegal Wangi. Konon kematiannya dipercepat oleh air degan beracun yang diberikan Pangeran Rahmat kepadanya.

Pangeran Rahmat kemudian meminta bantuan VOC untuk merebut tahta dan mengalahkan Trunojoyo. Selanjutnya Pangeran Rahmat mendirikan kerajaan baru di hutan Wanakarta, dan diberi nama Kasunanan Kartasura. 

Peninggalan keraton Pleret yang masih ada dan masih bisa dilihat diantaranya adalah Masjid Agung Kauman, yang saat kami ke sana sedang dalam taraf renovasi untuk dikembalikan ke bentuk semula. Masjid ini dibangun sekitar tahun 1649. Dan dilihat dari struktur bangunan yang ada, dulunya merupakan bangunan masjid yang megah.


Plang Cagar Budaya Masjid Kauman Pleret

Penjelasan tentang Masjid kauman pleret
Situs pleret yang sedang direnovasi
Sisa-sisa Masjid Kauman Pleret
Umpak dan sisa batu bata yang berhasil diekskavasi  


Atap yang mulai direnovasi


Selain itu ditemukan juga beberapa umpak, batu bata raksasa, tempat minum kuda, sumur gumuling, dan benda-benda lainnya. Semua peninggalan bersejarah itu dapat dilihat di musem Pleret.

Bagian depan museum Pleret 

Sambutan dari Bapak Susanto, mewakili Museum Pleret

Tempat di mana sumur gumuling berada berdasarkan penelitian merupakan bagian dari situs kedaton, dan di situs kedaton inilah keraton pleret dulunya berdiri.
Sumur Gumuling

Sumur gumuling dari dekat 

Situs Kedaton 

Sumur gumuling yang ditemukan di sana konon dahulu digunakan untuk mencuci pusaka keraton. Terdapat sebuah mitos yang mempercayai sumur ini tembus sampai ke laut selatan.

Aneka Umpak

Komboran Gajah


Sekitar pukul 16.00 kami selesai berkeliling museum Pleret. Dengan selesainya kunjungan kami ke museum Pleret, maka berakhir pula rangkaian kegiatan Jelajah Mataram Islam  di hari pertama. Kami segera kembali ke bus dan berangkat pulang. 

Cukup melelahkan juga perjalanan kami, tapi itu sebanding dengan tambahnya wawasan dan pengetahuan yang kami dapatkan. Dan tentu saja banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dengan mempelajari dan mengetahui sejarah masa lalu. Seperti Bung Karno pernah bilang, "Jangan sekali-sekali melupakan sejarah."